Daur (65)

Menguras dan Menghimpun Tenaga Hidup

Kepada orang yang jelas-jelas membunuhnya saja Markesot tidak benci, tidak mendendam, bahkan tetap santun dan menjunjung.

Sapron heran, “Cak Sot kok bisa to dianiaya orang sampai tingkat hampir mati kok tidak marah, tidak dendam, malah lebih santun dan lebih menyayangi mereka yang mendholimi Sampeyan?”

“Ah”, jawab Markesot, “Marah itu menguras tenaga. Dendam itu mengikis energi hidup. Kalau memaafkan itu menghimpun tenaga, bahkan Tuhan melipatgandakannya”

Markesot memang sangat melindungi jangan sampai orang-orang yang membunuhnya itu tahu bahwa Markesot tahu mereka bunuh. Markesot tidak tega. Jangan sampai mereka merasa bersalah seumur hidup sehingga frustrasi.

Kalau frustrasi, jangan-jangan nanti tidak bisa mengatasi. Lantas stress tiap hari. Depresi sewaktu-waktu. Tidur mereka tidak tenang. Mengigau. Bahkan bisa jadi terus ambil narkoba. Atau suka mengamuk.

Di tengah-tengah proses Markesot sakit, terbakar dalamnya leher dada hingga perut sampai hitam legam luluh lantak, salah seorang pembunuh menelpon Markesot. Mungkin untuk ngecek keadaannya, sudah mati atau belum.

Markesot menjawab telepon itu dengan riang gembira, meskipun tremor seluruh badannya. Markesot bersyukur dan berterima kasih beliau-beliau berkenan menghubunginya.

“Mas”, kata Markesot, “Kapan-kapan mbok saya dikirimi mobil, jangan hanya knalpotnya, kan panas, nanti mlepuh tangan dan badan saya…”

Juga tidak ada upaya Markesot untuk mem-pinter-i siapa dan kenapa ada orang-orang yang mengirim uranium ke dalam tubuhnya. Mem-pinter-i itu maksudnya menyelidiki, mendata, menganalisis, merangkumnya untuk dijadikan laporan kepada dirinya sendiri.

Markesot cuma ambil ‘tlethong’ dari uranium itu, artinya: mencari dan menemukan manfaat dari pergaulannya beberapa minggu dengan uranium.

Memang Sapron banyak dikejar oleh teman-temannya tentang uranium santet Markesot. Itu pengalaman nyata atau khayalan.

Sapron menjawab yang tidak bisa kita bantah adalah fakta tentang hasil Lab, baik tentang uranium dalam ‘keluaran dubur’ Markesot maupun kondisi bagian dalam tubuh Markesot.

Kemudian vonis Dokter bahwa hidup Markesot tinggal 3,5 bulan. Ditambah kenyataan kasat mata bahwa berat badannya turun sangat jauh karena mekanisme onderdil-onderdil dalam tubuhnya memakan lemaknya sendiri, karena makanan yang masuk tidak bisa diolah.

“Apakah itu santet, tenung atau apapun, itu soal konsep dan cara pandang”, kata Sapron, “sampai sekarang tidak ada penjelasan medis yang bisa menjelaskan”

Juga apakah peristiwa terjadi dalam sebab akibat yang temanya dendam pribadi, politik kelompok atau apapun, itu juga ranah penelitian, penyelidikan, analisis, tafsir kemudian hipotesis. Bisa ini bisa itu. Markesot tidak mengejar hal itu sama sekali, meskipun teman-temannya yang melakukan sampai seluruh faktanya ketemu.

***

Yang jelas Markesot sendiri sembuh mendadak: suatu malam ia menghilang, paginya datang segar bugar. Besoknya mulai pulih tubuhnya, bahkan akhirnya menjadi gemuk.

Sapron menjelaskan bahwa Markesot itu tidak penting untuk dijadikan bahan penelitian. Tidak ada perlunya mencari tahu apakah pengalamannya itu benar atau tidak, siapa yang menyantet seandainya itu santet, kenapa disantet, bagaimana latar belakang dan peta permasalahannya. Juga tidak perlu diteliti apa yang dilakukan oleh Markesot sehingga pagi itu ia menjadi segar kembali.

“Kalau kita memperlakukan kehidupan dan omongan Markesot dengan pendekatan Ilmu Tafsir, akan mubadzir, menghabiskan waktu dan bisa bikin kepala kita pecah”, kata Sapron.

“Umpamanya kita wawancara Markesot, bisa malah ruwet. Sebab jawabannya bisa polos, bisa taktis, bisa mbombong, bisa menghindari perdebatan sehingga membatasi pembicaraannya, dan banyak kemungkinan lain. Terlalu banyak sub-sub teori dan metodologi untuk mendata, menganalisis dan menyusun hipotesis.”

Jangan pula pernah menyangka kita akan sampai pada konklusi tentang kehidupan Markesot. Karena di samping multidimensional, Markesot juga sangat dinamis segala sesuatunya. Markesot bukan barang mati yang kita otak-atik kita jadikan obyek dengan pisau teori yang kita siapkan. Alhasil, Markesot sebenarnya bukanlah Markesot, sementara karena ia bukan Markesot maka sesungguhnya itulah Markesot.

***

Jadi, sekali lagi, Sapron menegaskan, bergaul dengan Markesot jangan menafsirkan, apalagi menafsir-nafsirkan. Sebab tafsir itu harus dilakukan dengan metodologi yang solid, pengetahuan yang lengkap, daya analisis secerdas mungkin, serta jujur objektif di semua alurnya.

Hal semacam itu tidak mungkin berlaku untuk kebanyakan orang. Sama dengan dalam menjalani agama, bagaimana mungkin seorang pekerja bangunan, penjaja makanan, tukang parkir dan masyarakat di level itu lainnya sempat dan mampu melakukan pekerjaan tafsir.

Tuhan menghamparkan pengetahuan, menanam ilmu di petanahan jiwa dan akal ummat manusia, menurunkan Kitab-Kitab Suci, tidak diperuntukkan hanya untuk orang pandai, kaum sekolahan, ahli analisis dan interpretasi.

Semua itu dianugerahkan oleh Tuhan kepada semua manusia hamba-hamba yang Ia kasihi. Kepada para profesor dan doktor di gedung-gedung Universitas, hingga pedagang-pedagang di pasar kumuh, penduduk tepian hutan, perbukitan dan gunung-gunung yang terasing dari kebudayaan buku dan gebyar teknologi.

Anugerah Tuhan itu tidak boleh dimonopoli oleh siapapun. Apalagi kalau memonopoli dengan merasa dirinya lebih tahu dari orang lain, lebih pintar dan terpelajar dari orang umum. Tuhan ‘dimiliki’ sendiri, mereka menjadi satu-satunya ‘agen’ yang berhak atas Tuhan, sorga dan neraka.

Barang siapa taat kepadanya, akan dapat pahala dan masuk sorga. Barangsiapa tidak sama pandangan hidup dan keagamaannya dengan dia, maka akan diadzab oleh Tuhan dan masuk neraka.

Orang-orang pandai yang bersikap seperti itu, sesungguhnya sedang mentuhankan dirinya, sehingga siapapun yang berpendapat harus sama dengan pendapatnya. Siapapun yang berlaku dan beribadah harus sama dengan cara dia berlaku dan beribadah.

Tidak boleh ada cendekiawan yang menganggap bahwa ilmu hanya milik mereka dan yang bukan mereka adalah makhluk-makhluk bodoh. Tidak boleh ada ulama yang menganggap bahwa jalan untuk bertemu dan menyembah Tuhan harus melalui buku administrasi kekuasaan mereka.

Tidak boleh ada siapapun, terserah apa pangkatnya, jabatannya, turunannya siapa, sekhusyuk apapun ibadahnya dan setinggi apapun ilmunya, yang mengumumkan bahwa Tuhan hanya bisa dicapai oleh ulama karena mereka mampu menafsirkan.

Sehingga barangsiapa di antara orang-orang kecil, orang-orang bawah, orang-orang yang mereka sebut bodoh, yang ingin bersilaturahmi dengan Tuhan, menyampaikan cinta dan kesetiaan ibadah – harus melalui mereka. Hanya mereka yang mampu dan boleh menafsirkan Kitab Suci dan kehidupan. Orang-orang kebanyakan harus menjadi pengikut mereka, bukan pengikut Nabi. Orang-orang kebanyakan harus menyembah mereka, bukan menyembah Tuhan.