Catatan Sinau Bareng Masjid Wisanggeni, Sukoharjo 15 Oktober 2016

Mengkomposisi Wirid Bersama

Menariknya, Cak Nun tidak memberi langsung suatu wirid yang sudah jadi. Melainkan dibangun dari kebutuhan Jamaah di sini.

Acara ini bertajuk Dzikir dan Sholawat bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng. Semua jamaah yang sangat banyak sekali memang bersiap untuk dzikir dan shalawat. Ada hal yang menarik di sini. Saat Cak Nun mau mengajak bershalawat, jamaah ditanya dan ditawari wirid atau dzikir apa yang enak. Kalau bisa yang ringkas, mudah diingat, dan yang terutama lahir secara relevan dengan kebutuhan hidup mereka. Sampailah akhirnya Cak Nun mengantarkan jamaah mendapatkan Ya Rohman Ya Rokhim Ya Fattahu Ya Rozzaq.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Menariknya, Cak Nun tidak memberi langsung suatu wirid yang sudah jadi. Melainkan dibangun dari kebutuhan Jamaah di sini. Bahkan, Kiai Najib, salah satu tokoh masyarakat di Sukoharjo, diajak berbagi dengan diminta menyumbangkan asma Allah apa yang bisa diwiridkan. Kiai Najib menyumbangkan Ya Wadudu Ya Karim. “Agar Allah senang dengan kita dan memberikan kita kemuliaan.” Sumbangan yang sangat berhuhungan dengan penjelasan Cak Nun di awal. Bahwa situasi bangsa ini dibiarkan seperti ini oleh Allah karena saat ini belum ada kekasih-kekasih yang cinta Allah kepada mereka sepadan dengan cinta-Nya kepada para Nabi dan Rasul. Allah akan marah kalau kekasih-Nya disakiti.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

“Situasi Islam dihina-hina, dan bahkan orang Islam sendiri tanpa sadar ikut ngenyek, tidak bisa ditolong kecuali oleh pertolongan Allah sendiri,” ujar Cak Nun. Kandungan ya Wadud ya Karim ini oleh Cak Nun ditafsirkan bahwa kalau kita disukai dan disenangi oleh Allah, Allah sangat murah hati memberikan pengampunan kepada kita bahkan saat kita belum sadar untuk segera minta maaf. Wirid yang terbangun dari pangroso yang dilakukan Cak Nun kepada jamaah akhirnya adalah Ya Rohman Ya Rokhim Ya Fattahu Ya Rozzaq, Ya Rohman Ya Rokhim Ya Wadudu Ya Karim, Ya Rohman Ya Rokhim Ya Jabbaru Ya Qohhar. Jamaah diajak bersama mewiridkannya. Melanjutkan lantunan lima ayat pertama surat al-Fath dan surat Al-Insyirah. Pada intinya, semua jamaah diantarkan untuk sebo kepada Allah dan eling Kanjeng Nabi. (hm/adn)