Catatan Majelis Ilmu Bangbang Wetan, Surabaya 16 Oktober 2016

Mengembalikan Ketaatan dalam Jajaran Nilai Kehidupan

Pada awal 2000-an, Cak Nun pernah mengatakan bahwa yang hilang atau absen dari masyarakat modern adalah kesadaran akan ketaatan.

Pada awal 2000-an, Cak Nun pernah mengatakan bahwa yang hilang atau absen dari masyarakat modern adalah kesadaran akan ketaatan. Masyarakat modern lebih terpesona dengan nilai kebebasan, kemerdekaan individu, demokrasi, dan pengunggulan ‘diri’ sebagai pusat. Tentu, dalam batas-batasnya nilai-nilai tersebut diperlukan. Namun ketaatan sebagai nilai juga tidak kalah pentingnya di dalam membangun kehidupan manusia di dalam masyarakat.

Foto: desakotaku & aphenk.
Foto: desakotaku & aphenk.

Barangkali kita bertanya: ataukah memang ada upaya untuk mengabaikan atau menjauhkan pikiran manusia dari ketaatan, dan di situ dibikin kesan bahwa ketaatan itu tidak enak, bertentangan dengan kebebasan, dan kedaulatan diri? Jawaban mari kita cari. Yang jelas, wacana tentang apa itu taat, apa perlunya taat, dan lain-lain detailnya tak pernah dieksplorasi secara mendalam. Paling jauh, dalam benak kita, taat hanya bertengger sebagai idiom yang identik dengan hukum, dan ada rasa keterpaksaan di dalam kata itu. Alhasil, ketaatan sebagai topik tidaklah ‘sexy’.

Semalam Majelis Ilmu Bangbang Wetan yang diselenggarakan di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya salah satunya justru memasuki tema yang kurang sexy dan marketable itu. Melalui kehadiran Mas Sabrang MDP dan Kiai Muzammil, para muda yang hadir di BBW itu diajak belajar mengenai taat dan mengembalikannya dalam jajaran nilai-nilai kehidupan yang perlu dijaga dan dirasakan artinya.

Bagi Mas Sabrang, taat adalah melakukan sesuatu secara sukarela. Pekerjaan yang dilakukan secara sukarela itu tidak terdapat keterpaksaan di dalamnya. Tuhan akan membukakan pintu kepada mereka yang bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, tanpa pamrih, sukarela, dan tidak menempatkan bahagia pada garis finish. Dan pada ketaatan itulah letak bahagia.

Dengan kata lain, belum dapat dikatakan benar-benar taat, jikalau kita melakukan sesuatu karena paksaan. Karena itu, kesukarelaan merupakan konsep yang sangat fundamental. Jika dirumuskan, ada tiga metodologi tingkatan ketaatan manusia. Pertama, sukarela tetapi hati terpaksa. Kedua, benar-benar sukarela. Ketiga, ikhlas. Jika dihubungkan dengan konsep kebahagiaan, maka mengerjakan sesuatu secara sukarela berarti memupuk kebahagiaan di dalam melakukan segala sesuatu. Sukarela berarti tak butuh kesuksesan sebagai prasyarat untuk mendapatkan kebahagiaan sebagaimana selama ini dipahami dan ditanamkan, karena bersamaan dengan sukarela itu datang kebahagiaan.

Foto: desakotaku.
Foto: desakotaku.

Apa yang diuraikan Mas Sabrang ini didukung oleh Kiai Muzammil yang menjelaskan bahwa taat berasal dari bahasa Arab yaitu tha’ah, yang bermakna kesukarelaan kita dalam melakukan sesuatu. Dan taat berbeda dengan patuh. Kalau tidak sukarela maka bukan taat. Penjelasan Kiai Muzammil ini merujuk pada Al-Quran yaitu Surat Fushshilat ayat 11 dan Surat Ar-Ra’du ayat 15.

Bila ditempatkan dalam deretan pendalaman Maiyah, paparan Mas Sabrang dan Kiai Muzammil tentang ketaatan dan kesukarelaan semalam di BBW memperkaya dimensi-dimensi yang pernah dipahami mengenai taat. Dimensi yang dulu pernah dipahami tentang taat misalnya, dalam konteks kebudayaan, ada dijumpai di mana manusia menyerahkan kepatuhan dan ketaatan pada wilayah-wilayah di mana mereka seharusnya boleh kreatif, dan sebaliknya pada wilayah-wilayah di mana seharusnya patuh dan taat, malah tidak taat dan banyak berimprovisasi.

Tetapi, apa yang menarik pada konsep kesukarelaan sebagai esensi ketaatan adalah agaknya kita akan menemukan bahwa dengan kesukarelaan ketaatan justru tidak bertentangan dengan kedaulatan manusia sebagaimana barangkali selama ini diyakini. Sebab kesukarelaan dan kedaulatan bukan dua hal pada posisi oposisi biner. (hm/fw/dk)