Catatan Sinau Bareng Pameran Kaligrafi Nusantara, 28 September 2016

Mengapresiasi Itu Sebuah Doa Juga

"Anda datang ke sini, menikmati lukisan-lukisan, kemudian mengapresiasi, dan mengapresiasi itu kan doa juga...," sentuh Cak Nun.

Hampir tiba pukul 01.00. Jadilah para seniman yang barangkali belum pernah ikut Maiyahan, jadi mencicipinya. Mereka duduk di panggung, sebagian bersandar di tembok, ada pula yang di dalam ruangan, dan juga petugas penerima tamu dan pembagi katalog yang masih pada posisinya. Kadar perhatian yang sama juga tampak dari barisan jamaah. Bahkan seorang ibu sepuh tampak sangat serius memperhatikan apa-apa yang didiskusikan. Seorang ibu yang update. Duduk sejajar dan tanpa ada rasa canggung berada di antara anak-anak muda. Hal yang agaknya jarang terjadi pada umumnya pamera senirupa.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sementara itu, Cak Nun sudah melekuk masuk ke banyak sisi-sisi pendalaman lukisan dan keindahan, tak terkecuali ihwal galeri. “Anda datang ke sini, menikmati lukisan-lukisan, kemudian mengapresiasi, dan mengapresiasi itu kan doa juga…,” sentuh Cak Nun dengan enak, rileks, dan mendekatkan hubungan antara masyarakat dan galeri seni. Sang ibu yang penuh keseriusan itu barangkali satu contoh dari apresiasi atas galeri seni ini dengan diantarkan oleh Maiyah. Di dalam hati mungkin beliau juga mendoakan galeri ini dan generasi-generasi muda yang hadir. Sejalan itu, Cak Nun berharap dengan keberangkatan hati yang demikian itu, galeri bukan terutama berfunhsi tempat jual beli, tetapi laboratorium keindahan, bersama para seniman dan kurator. (hm/adn)