Daur (293)

Meng-hidup-kan Ilmu

Tahqiq : “…termasuk lingkaran-lingkaran kependidikan orisinal yang berasal dari masa silam bangsa ini sendiri. Cemas menyaksikan semangat mereka untuk pandai, hebat, unggul.…”

Sundusin menguraikan bahwa sejak muda dulu ia merasa gelisah dan bahkan sering cemas terhadap kata ‘pintar’ dan ‘bodoh’. Kalau misalnya keutamaan hidup adalah pendidikan, maka puncak pencapaiannya pada hampir semua orang tua adalah “anak yang pintar”. Setiap tahap perkembangan anak-anak kita, jika para orangtua menyaksikannya mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya belum mampu mereka lakukan, spontanitas pujian yang keluar dari mulut orangtua adalah “pinteeeer…”

Kalau tuntunan hidup adalah pelaksanaan Agama, sebenarnya sudah ada pergeseran konsentrasi nilai dengan mendoakan anak-anak menjadi “anak saleh”. Pintar dan soleh adalah dua hal yang ada keterkaitannya, tetapi sangat berbeda skala urusannya, tidak sama ukuran keluasan nilai-nilai kandungannya, bahkan bisa sangat berjauhan arah pencapaiannya.

Akan tetapi budaya kesalehan belum bisa subur karena belum tersedia tradisi kependidikan untuk menyemaikan dan menumbuhkembangkan kesalehan anak-anak. Belum ada metode persekolahan atau pembudayaan yang mengolah kesalehan. Hidayah Allah berupa aspirasi “semoga menjadi anak saleh” masih terserimpung dan tersempitkan oleh laboratorium kependidikan sosial yang komprehensinya tidak bertitik berat pada kasalehan.

Gambar besarnya adalah kenyataan bahwa Ummat Islam adalah bagian inheren dari bangsa Indonesia yang mendirikan Negaranya, menata perkembangan rakyatnya, mendesain pembangunan hidupnya, tidak dengan meneruskan faktor-faktor kependidikan tradisional yang sesungguhnya lebih berorientasi kepada kesalehan, dibanding sistem dan ideologi kependidikan yang mereka adopsi dari luar, yang sekarang menjadi mainstream dunia kependidikan bangsa Indonesia dan Ummat Islam.

“Anak-anakku Junit Toling Jitul Seger dan semua sudah pernah mendengar Mbah Sot bicara tentang beda serius antara Peradaban Kontinuasi dengan Peradaban Adopsi”, Sundusin memberi tekanan, “yang disebut Indonesia atau NKRI bukanlah evolusi nilai atau pertumbuhan ekosistem kehidupan yang meneruskan peradaban, kebudayaan, filosofi, dan nilai-nilai yang digali dan dihikmahi dari peradaban nenek moyang yang sudah berabad-abad berlangsung”

Ndusin mengingatkan kembali para keponakannya tentang atmosfer nilai di masyarakat Patangpuluhan yang mengkomprehensikan dimensi-dimensi dasar kehidupan manusia: baik dan buruk, benar dan salah, indah dan kemproh. Ndusin membukakan kembali bun-yan (konstruksi) dan tasyrih (anatomi) ilmu hidup yang dunia kependidikan nasional belum mengenalnya: yakni evolusi Tadris, Ta’lim, Ta’rif, Ta`dib, Tarbiyah, dan Ta`lih.

Ndusin melebarkan jendela kembali agar anak-anak itu mendzikirkan ulang dan ulang bahwa ilmu tidak sama dengan pengetahuan. Bahwa “ngelmu kuwi kelakone kanti laku”. Bahwa itu bukan sekadar pemahaman linier tentang “ilmu harus diamalkan”. Bahwa jangan punya ilmu tanpa amal, dan jangan beramal tanpa ilmu. Lebih dari itu: pengetahuan atau kawruh bahwa pengetahuan itu baru menjadi ilmu apabila sudah dilakukan, dilakoni, di-hidup-kan, dimanifestasikan, diwujudkan, dibumikan, atau apapun istilahnya.

Bahkan Sundusin mengingatkan evolusi pembangunan hidup dengan Pancasila sebagai metodologi, di mana Sila kedua adalah tahap pendidikan. Secara khusus Ndusin Pakdenya anak-anak itu mewanti-wanti bahwa dalam melakoni evolusi Tadris, Ta’lim, Ta’rif, Ta`dib, Tarbiyah, dan Ta`lih itu jangan terlalu mengandalkan semangat dan optimisme Tafsir, melainkan berendah hati dan merentangkan keluasan jiwa dengan ghirah Tadabbur.

Tafsir mempersyaratkan ekspertasi atau keahlian atas segala unsur pengetahuan dan ilmu yang menyangkut kehidupan dan AlQur`an, tetapi tidak ada pagar akhlaq yang mempersyarati atau melingkari area perjuangannya. Tafsir lebih banyak berputar-putar di ranah “pandai”. Sedangkan Allah menagih agar manusia melakukan Tadabbur dalam alur konteks di mana manusia dikritik tradisi kedhalimannya, kebuta-tuliannya, kejahiliyahannya.

Maka parameter Tadabbur adalah outputnya, adalah apa yang keluar dari “dubur”nya: kalau dalam bertadabbur manusia tidak menemukan dirinya menjadi lebih mendekat kepada Allah dan Rasulullah, tidak menjadi lebih “al-amin”  sebagai manusia, maka belum bisa disebut tadabur yang dilakukannya. Sementara kriteria Tafsir hanya terbatas pada kebenaran ilmu.

Pakde Sundusin sangat cemas pada dunia kependidikan dan persekolahan, termasuk lingkaran-lingkaran kependidikan orisinal yang berasal dari masa silam bangsa ini sendiri. Cemas menyaksikan semangat mereka untuk pandai, hebat, unggul….