Menemukan Ketepatan Arah dan Langkah

Tulisan ini sebagai bahan muhasabah, perenungan kita bersama untuk menemukan ketepatan arah dan langkah ke depan. Karena beberapa hari terakhir ini kami membaca bahwa ada potensi sakwasangka dan kecurigaan yang bakal dialamatkan kepada Maiyah. Atau lebih tepatnya Maiyah berpotensi untuk disalahpahami.

Yang Pertama, ketika Maiyah berupaya memperjuangkan keadilan, kesetaraan posisi dan proporsi bagi setiap anak bangsa dalam menikmati karunia bumi Indonesia dengan menyatakan bahwa Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan, mereka mayoritas sebagai penduduk, tapi minoritas yang marginal secara politik dan perekonomian, justru Maiyah bisa dituduh sektarian. Kemudian ketika Maiyah mengungkapkan fakta bahwa ada semacam suatu mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada Ummat Islam Indonesia, mereka dijadikan gelandangan di negerinya sendiri, Maiyah justru bisa dianggap berada dalam satu barisan dengan kelompok yang kerap menggunakan simbol-simbol Islam sebagai alat pembela kepentingan golongan/ pribadi.

Yang Kedua, ketika Maiyah menegur para pembela ummat dengan menyatakan bahwa hendaklah jangan sampai kebencian terhadap seseorang atau sekelompok orang menjadikan kita justru melanggar nilai-nilai keadilan, Maiyah bisa disangka hendak menggembosi perjuangan. Lebih lanjut ketika Maiyah menyebut bahwa musuh yang sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah Asing dan Aseng, melainkan keserakahan sistemik, kerakusan terorganisir yang bertahun-tahun bahkan berabad-abad menguasai bangsa Indonesia, Maiyah bisa dicurigai sedang berkoalisi dengan Asing dan Aseng untuk kepentingan tertentu.

Yang Ketiga, ketika Maiyah mengajak semua pihak yang sedang ditimpa ketidakadilan untuk duduk bersama, bermusyawarah dalam satu majelis permusyawaratan untuk lebih jernih membaca persoalan serta untuk bersama-sama merumuskan ketepatan arah dan strategi keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan, Maiyah bisa dicurigai sedang memainkan agenda politik tersembunyi.

Yang Keempat, ketika Maiyah memilih untuk tidak “melibatkan diri” di tengah konstelasi yang sedang berlangsung, dan masuk ke dalam medan dan dimensi perjuangan yang lain, Maiyah justru bisa dibilang tidak mempedulikan nasib bangsa.

Akhirnya, dengan tetap terus menerus bertafakkur, Maiyah tidak henti pula memohon hidayah dari Allah swt agar memperoleh ketepatan arah dan langkah dalam menjalani rakaat panjang perjuangan.

Yogyakarta, 20 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA