18 November 1990, dari buku Kiai Sudrun Gugat

Menembus Langit dengan Sultan

Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono IX dikukuhkan sebagai pahlawan nasional; apa artinya bagimu? Adakah perasaanmu tersentuh olehnya? Masih mungkinkah di dalam dadamu mengalir sesuatu yang menggelora, setidaknya untuk hal ini, jika engkau dengar ada seseorang anak bangsamu diangkat sebagai pahlawan?

Bagi kita yang lahir pada era kemerdekaan, yang dibesarkan oleh keadaan di mana yang bernama ‘negara Indonesia’ itu ada, yang dimanjakan oleh situasi tanpa perang, terutama bagi engkau generasi 90-an, kata ‘pahlawan’ barangkali terasa datar belaka seperti halnya lencana, emblem, atau baju batik.

Orang yang tak pernah sakit kudis di sekujur tubuhnya tak bisa membayangkan betapa tersiksanya harus menggaruk-garuk kulit setiap saat. Aku pernah hidup bertetangga dengan seorang kawan yang tak pernah sakit dalam hidupnya, karena ia biasa makan daun pepaya mentah-mentah bagai kambing. Seminggu penuh aku numpang meringkuk di pojok dipannya dalam keadaan demam panas dingin, tak mau minum atau makan, dan ia tenang-tenang saja karena tak sedikit pun sanggup membayangkan situasi yang bernama sakit.

Barangkali demikian juga kita yang sering suka menertawakan bapak-bapak dan om-om ketika mereka bernostalgia mengenangkan peluru yang parkir di pahanya, darah, luka, tangis, dan kesengsaraan selama memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan — dan itu semua sungguh-sungguh, meskipun ada juga segi komedi dan ironinya. Bisa jadi itu disebabkan kita memang tak pernah mengalami hal semacam itu. Pun, tak pernah belajar atau diajari mengimajinasikan dan menghayatinya.

Mungkin kita pernah akrab dengan darah, pisau, parang, luka, ketakutan, dan kesengsaraan. Tapi kita tak pernah menjadi anak muda yang dijajah orang lain secara langsung, yang bukan saja tak bisa menikmati hedonisme apapun, bahkan sama sekali tak berani membayangkan punya masa depan, tak punya negara, tak punya kedaulatan, kepastian hukum, supermarket, motor bebek, dan musik dangdut.

Berapa gelintir di antara manusia bangsa Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan itu yang berani menumpahkan hidupnya ke dalam kepercayaan bahwa akan sunguh-sungguh ada negara Indonesia yang berdaulat? Mayoritas penduduk kepulauan Nusantara ketika itu hidup rutin dan alamiah. Sebagian dari mereka memilih kepastian pragmatis dengan menjadi tangan Belanda. Dan sebagian yang lain, sebagian yang sangat kecil, beristiqamah untuk hidup dan mati, mencoba percaya bahwa kita sungguh-sungguh akan bisa memperoleh kemerdekaan. Istiqamah antara hidup dan mati itulah takaran mental yang membuat mereka kini kita sebut sebagai pahlawan.

Dan Hamengku Buwono IX adalah raja, yang jika pun tak ada negara kesatuan Indonesia, beliau sudah tak kurang satu apa. Engkau tahu, ketika itu yang bernama Indonesia itu tak ada, Indonesia barulah cita-cita, simbol yang dibayangkan akan mempertemukan komitmen antara kerajaan-kerajaan atau kelompok-kelompok masyarakat yang ada ketika itu. Dalam keadaan terjajah hampir mutlak oleh Belanda seperti itu, siapa berani membayangkan apalagi mempertaruhkan nyawa—bahwa impen (impian) itu akan pernah terwujud? Seperti juga, siapa hari ini berani membayangkan bahwa Jepang akan engkau lampaui langkah raksasanya, bahwa akibat buruk kemajuan akan lebih murah harganya dibanding dengan biaya pembangunan, atau bahwa tinggal landas itu identik dengan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur?

Dalam posisi semacam itu, Mas Dorodjatun, ya Sri Sultan itu, bukan sekedar menyediakan diri untuk ikut mendalangi perlawanan terhadap Belanda. Ia bahkan mempersembahkan otoritas kerajaannya secara ikhlas kepada negara kesatuan Republik Indonesia. Bisakah engkau bayangkan pertarungan dahsyat di dalam diri Sultan, serta di dalam keseluruhan kosmos beliau sebagai seorang raja, sebelum pada akhirnya diambil keputusan amat besar untuk mengindonesia?

Sesungguhnyalah kepahlawanan beliau itu rangkap: bersediakah engkau sore ini didatangi tamu yang meminta separo kekayaanmu untuk bangsa dan negara? Cukup separo hartamu hari ini. Tak usah hartamu besok, tak usah pangkat dan jabatanmu, tak usah darah dan nyawamu. Apalagi kalau engkau bersedia menukik ke lubuk tersembunyi dari berbagai sepak terjang politik dan kebudayaan Sri Sultan selama Orde Baru.

Kalau engkau datang ke Yogya menyaksikan samudera cinta rakyat beliau tatkala dimakamkan, juga tatkala putra sulung beliau jumenengan, Insya Allah engkau akan mengerti bahwa sesungguhnya beliau memiliki akar kekuatan dahsyat, namun demikian rupa beliau sanggup menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan destruksi yang lebih parah.

Kini pahlawan kita itu telah tiada, dan engkau akan saksikan dimensi kepahlawanan beliau yang lain dengan melihat watak lingkaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sepeninggal beliau. Engkai boleh catat: pengganti beliau adalah Sultan Haji, raja Mataram pertama yang memperbolehkan diri melakukan ibadah haji.

Kerajaan Matara, sejak Panembahan Senopati, sebenarnya adalah medan tawar-menawar antara Jawa dan Islam. Demak adalah kutub Islam di seberang kutub Majapahit-Budha-Hindu yang dilawannya. Pajang adalah transisi menuju titik tengah kembali untuk lebih konkret empirik menegosiasikan secara teologis, politis, dan kultural antara titik Jawa dan titik Islam.

Si Jebeng Senopati dan anak turunnya adalah proses panjang pencarian bagaimana Jawa secara lebih realistis menemukan dan bersenyawa dengan kebenaran Islam, sekaligus bagaimana khazanah aspirasi nilai Islam menemukan titik pijak serta darah dagingnya di dalam tubuh Jawa. Engkau tahu betapa mahal harga pencarian itu: ingatlah Mangkurat II, pergulatan-pergulatan Jawa-Islam atau Islam-Jawa yang tercermin dalam kompleks peristiwa politik, kebudayaan, maupun segi-segi lain yang lebih kualitatif.

Berabad-abad mengaduk ramuan antara pasir, gamping, batu bata, dan semen-semen sejarah: Sultan Hamengku Buwono IX adalah pamungkas di mana fundamen sintetis Jawa-Islam—dalam bingkai keindonesiaan—diletakkan. Sultan Hamengku Buwono IX wafat ketika Jawa semakin gamblang menemukan sosok kosmopolitnya—mungkin dengan justru makin mengertinya kita semua dengan primordialisme dan egosentrisitas Jawa—serta ketika Islam, pada level pemikiran maupun kebudayaan, bahkan pada tingkat strategi politik, sudah tak bisa dianggap mualaf lagi. Sultan Hamengku Buwono IX wafat tatkala isu kebangkitan Islam menggema di kota-kota besar maupun di pelosok-pelosok dusun. Datanglah engkau ke Yogya, dan daftarkanlah diri ikut pengajian dan zikir di keraton.

Fundamen sejarah telah diletakkan, dan kini Sri Sultan Hamengku Buwono X sedang mengasah kepekaan dan kawaskitan (kewaskitaan) untuk memperoleh ketepatan sejarah dan mulai menegakkan dinding-dindingnya. Masukkanlah kata-kataku ini dalam koordinat peta gagasan perjuangan sejarahmu. Tetapi, kenapa kusebut “menembus langit”?

Kalau radius pengetahuan dan pengalamanmu hanya sekecamatan, engkau manusia lokal. Juga seandainya lingkar kesadaran dan kepribadianmu agak lebih luas, mungkin engkau masih manusia primordial atau provinsialis, atau paling jauh manusia nasional. Padahal, engkau ditugasi Allah mengkhalifahi kehidupan ini seluruhnya: engkau butuh menjadi manusia universal, kosmopolit.

Engkau diperlukan takdir penciptaan ini agar menjadi rahmatan lil ‘alamin. Engkau harus memperluas pandanganmu, ilmumu, kepribadian dan kekhalifahanmu. Engkau butuh menembus langit. Laa tanfudzuuna illaa bi sulthaan.

Gelar “sultan” lahir sungguh-sungguh dari konsep sulthan. Siapa saja yang memahkotai kepalanya dengan gelar itu hanya punya dua kemungkinan: menghidupi nilainya dengan seluruh hidupnya, atau mencopotnya dari kepalanya dan mengembalikannya kepada Allah, Pemilik Aslinya.