Daur (12)

Mempelajari Cinta Dan Belajar Mencintai

Setengah mati engkau membanting tulang mencari nafkah untuk keluargamu. Mulia sudah engkau di hadapan Tuhanmu. Jadi kenapa engkau datang kepadaku?

Yang ada padaku hanya cinta.

Engkau bilang bahwa engkau mencari dan menunggu solusi atas masalah-masalah. Mu’min sudah engkau ini. Hamba Tuhan yang memperjuangkan keamanan. Keamanan diri dan keluargamu dari masalah-masalah. Dan kelak kau perjuangkan juga keamanan ummatmu, masyarakat dan bangsamu, keamanan dari kemiskinan, keamanan dari kehancuran martabat, keamanan dari batas kemerdekaan di hadapan Tuhan.

Tapi kenapa engkau datang kepadaku? Yang tergeletak di meja tamuku tidak hanya cinta, tetapi lebih abstrak dan bikin pecah kepala: cinta sejati.

Tentu saja itu terlalu muluk. Engkau mendambakan penyelesaian praktis, aku hanya mampu siapkan siksaan.

Itupun dilematis. Kalau engkau sebut ‘cinta’ saja, itu sudah terlalu dipersempit, dibiaskan, disalahsangkakan, terlalu dipasti-pastikan atau dipadat-padatkan, atau sebaliknya ia terlampau dimitologisasikan, dikhayal-khayalkan, didramatisir atau dilebai-lebaikan, berujung di perkawinan tahayul, perceraian LGBT.

Sedemikian rupa sehingga kalau engkau coba mengkritisinya, membenahinya, mengukur jarak antara denotasi dengan konotasinya, hasilnya tidak lain kecuali menambah pembiasannya, bahkan melahirkan kemungkinan-kemungkinan salah sangka baru, yang memecah belah hati antara manusia.

***

Sementara ketika setengah terpaksa aku pakai istilah yang agak mewah, yakni cinta sejati, aku meyakini engkau akan menemukan ia lebih memerdekakan penafsiran dan penghayatan.

Daripada engkau menggenggam dunia tanpa cakrawala, kelak engkau akan tahu bahwa yang lebih nyata adalah meraih cakrawala meskipun tak mendapatkan dunia.

Akal yang paling minimalpun mengerti atau sekurang-kurangnya memiliki naluri untuk peka bahwa sudah pasti dunia ini akan meninggalkanmu dan engkau sendiri pasti meninggalkannya. Untuk pergi atau pindah ke mana?

Ke suatu wilayah yang untuk sementara kita sebut cakrawala.

Sekurang-kurangnya ia terbiarkan abstrak, tidak mudah diterap-terapkan, tidak gampang dipakai-pakai. Ia lebih cenderung dekat ke ‘tiada’, dan saya lebih memilih itu, daripada terlanjur mengambil ‘nyata’ yang ternyata belum pernah benar-benar nyata.

Lebih serasa hidup dengan ‘tidak’ yang benar-benar ‘tidak’, daripada ‘ya’ tetapi pada hakikinya tidak ‘ya’. Ibarat orang dalam Agama, saya memilih posisi “la ilaha”, posisi tidak atau belum menemukan (ada dan berperan-Nya) Tuhan, daripada terlalu bermantap-mantap “illallah” padahal pada kenyataannya ternyata bukan Tuhan yang disembah, sehingga masih dan tetap sanggup membenci, menyakiti atau bahkan membunuh sesama manusia.

***

Terkadang aku terdorong untuk menjelaskan cinta sejati itu misalnya melalu pembedaan sangat mendasar antara ‘cinta’ dengan ‘mencintai’.

Cinta itu suatu keadaan di dalam jiwa manusia. Suatu situasi yang bergulung-gulung di batas kedalaman jiwamu. Sedangkan mencintai adalah keputusan social. Mencintai adalah perilaku, langkah perbuatan kepada yang bukan dirimu. Bentuknya tidak lagi seperti yang ada di dalam dirimu. Ia sebuah dinamika aplikasi keluar diri, bisa berupa benda, barang, jasa, pertolongan, kemurahan, dan apapun sebagaimana peristiwa sosial di antara sesame manusia.

Engkau bisa mencintai meskipun tanpa cinta. Karena perbuatan mencintai bisa engkau ambil energinya dari nilai-nilai sosialitas yang bermacam-macam. Bisa kasih sayang kemanusiaan, bisa kenikmatan bebrayan, bisa toleransi, empati, simpati, partisipasi dan apapun. Atau engkau ambil landasan dari Tuhan: aku tetap mencintainya, menjalankan kebaikan kepadanya, meskipun di dalam dirimu sudah tak tersisa rasa cinta yang eksklusif kepadanya.

***

Engkau bisa memasuki kedalaman makna cinta dan mencintai dengan berpindah-pindah pintu untuk memasukinya. Engkau bisa menyelami lubuk-lucuk cinta dan mencintai dengan merangsang terbukanya berbagai pori-pori nilai untuk engkau buka dan masuki.

Cinta itu suatu potensi, suatu keadaan, sebuah situasi batin, mungkin berujud ruang yang membutuhkan waktu, atau bisa jadi ia terasa sebagai energi atau teralami sebagai semacam frekwensi. Seluruh kemungkinan itu terletak di dalam diri manusia, ia ada dalam kesunyian dirinya, ia belum fakta bagi selain dirinya.

Adapun ‘mencintai’ adalah sikap sosial. Keputusan dari dalam diri ke luar diri dan untuk yang bukan dirinya sendiri. Apabila ‘cinta’ diaplikasi menjadi tindakan ‘mencintai’, maka begitu ia mensosial: wujudnya, bentuknya, formulanya, prosedurnya, nada dan iramanya, sudah ‘bukan’ cinta itu sendiri. Sang cinta ada di balik itu semua.

Mencintai itu wajahnya seakan tak ada hubungannya dengan cinta, karena ia bisa berupa kerja keras membanting tulang di pasar dan jalanan untuk keluarga. Ia bisa berujud kepengasuhan dalam keluarga, kepemimpinan dalam bermasyarakat, kearifan mengurusi kesejahteraan rakyat.

Bahkan bisa berwujud undang-undang, kreativitas teknologi, serta apapun saja yang dikenal oleh manusia sehari-hari tanpa mereka pernah menyadari bahwa itu semua bersumber dari keputusan dan tindakan mencintai.

***

Ada kalanya suatu masalah diselesaikan tidak dengan berhadapan dengan masalah itu. Bisa juga dengan berpindah konsentrasi, memikirkan atau melakukan sesuatu yang lain sama sekali dan tak ada kaitannya dengan masalah itu.

Semakin engkau berkenalan dengan sifat-sifat kehidupan yang hampir tak terbatas keluasannya dan tak terukur kedalamannya, semakin engkau lincah dan kreatif untuk tidak berhenti mengurung diri atau dikurung oleh ruang sempit masalah yang sedang merundungmu.

Nanti, di tengah-tengah istirahat dari gegap gempita perjuangan duniamu, di tengah riuh rendah peperangan melawan masalah-masalahmu, engkau duduk bahkan tergeletak dengan nafas terengah-engah.

Tiba-tiba, semoga, engkau di sapa oleh ‘cinta ilahiyah’, ia tiba-tiba saja hadir seakan sebuah sosok yang terbaring di sisimu. Ia menerbangkanmu dari dunia yang hampir bikin pecah kepalamu. Engkau dibawa menyelam ke lubuk ‘uluhiyah’ atau melebar meluas ke semesta ‘rububiyah’, di mana segala fakta pemuaian, pertumbuhan, harmoni, pernikahan-pernikahan pada inti universalitasnya, dan apapun saja yang merupakan indikator persatuan, penyatuan, kebersatuan, kemenyatuan, manunggal, nyawiji, dan apapun saja kumpulan huruf-huruf yang dibangun dan disusun untuk nilai dan makna — datang mendaftarkan diri mereka masing-masing, satu persatu dan bersama-sama, kepada ilmu dan pengetahuanmu.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
12 Pebruari 2016