Daur (224)

Memimpin Kearifan

Ta’qid : “Tapi untuk skala yang besar, misalnya Negara dan kekuasaan, sepertinya Tuhan mengulur-ulur datangnya hukuman. Sudah berapa kali kumpulan pejabat di beberapa rezim kekuasaan yang mendhalimi rakyat berlalu begitu saja tanpa ada hukuman yang kasat mata dan signifikan dari Allah”

“Saya sedang menertawakan diri saya sendiri”, kata Markesot setengah terbata-bata, “juga merupakan pernyataan kepada Junit, kepada semua kaum muda, bahwa ketuaan dan penuaan usia saya ini sesungguhnya tidak diikuti oleh peningkatan kedewasaan, pematangan ilmu, sublimasi sikap hidup serta kearifan terhadap kekhalifahan diri saya sendiri”

Sisa tertawanya masih muncul sesekali. “Sesungguhnya semua yang diungkapkan oleh cucu saya Junit ini tidak lain adalah bagian dari isi gudang pemikiran dan kegelisahan saya sendiri. Tuanya usia saya tidak membuat isi gudang itu bisa dibersihkan, atau didayagunakan untuk memperoleh hikmah nilai, atau apapun.”

“Junit”, Markesot memanggil Junit.

“Ya Mbah”

“Kamu ingin mengalami atau sekurang-kurangnya menyaksikan suatu keadaan di mana Allah bertindak tegas, tampak mata, nyata secara fisik, kepada manusia-manusia yang mendhalimi sesamanya?”

“Memang itu intinya yang saya ungkapkan tadi Mbah”

“Pertama kamu harus tahu bahwa saya dan kami semua yang berkumpul ini terang-terangan atau diam-diam juga memiliki keinginan yang sama”

“Begitu ya Mbah”

“Tidak harus menjadi anak muda untuk mendambakan itu, dan menjadi orang tua tidak mengandung jaminan untuk terbebas dari obsesi semacam itu. Itu peristiwa cinta, pemihakan, dan pembelaan. Tidak tergantung tua atau muda”

“Ya Mbah”

“Tetapi Mbah bertanya, keinginanmu itu berkaitan dengan kelegaan subjektif pribadimu dan kepuasan psikologismu, ataukah ada sebab-sebab lain yang mungkin objektif di dan dari luar dirimu?”

“Ada Mbah. Yang pertama, setiap pribadi tidak bisa menghindar dari keperluan psikologis untuk mendambakan sesuatu yang melegakan dan mengamankan mentalnya. Tetapi ada juga yang di luar…”

“Apa itu?”

“Itu semua merupakan ujian yang terlalu berat bagi manusia, setidaknya bagi saya pribadi”

“Bagaimana itu”

“Kalau kita menyaksikan seolah-olah Tuhan membiarkan kedhaliman berlangsung, kita bisa mengalami pengendoran daya juang dan mungkin diikuti penurunan kadar iman kita kepada Allah. Kalau saya dan anak-anak muda lain menghormati Mbah dan Bapak-bapak semua orang-orang tua yang sangat menghargai kebenaran dan selalu hidup menjauh dari kejahatan, keburukan, dan kedhaliman – kemudian ternyata hal itu tidak membantu proses menurunnya kedhaliman, tidak menunjukkan bukti-bukti menangnya kebaikan dan kebenaran — kami bisa menjadi kurang percaya kepada perjuangan menegakkan kebenaran dan kebaikan”

“Apakah sekarang secara pribadi Junit sudah mengalami penurunan iman, pelunturan kepercayaan terhadap perjuangan menegakkan kebenaran dan kebaikan?”

“Tidak juga sih, Mbah, tapi itu kekhawatiran yang rasional, dan bukan tidak mungkin akan benar-benar terjadi. Malah mungkin saja sudah terjadi pada sebagian kaum muda. Sehingga mereka bersikap apatis dan menghindar dari keharusan untuk ikut berjuang”

“Dan itu berarti Tuhan yang salah dan tega?”

“Bukan Mbah. Tuhan tidak mungkin salah. Tapi kami butuh pertolongan Tuhan dengan menunjukkan bukti cinta dan pembelaan-Nya kepada para pejuang kebenaran. Saya yakin kita semua membutuhkan itu”

Markesot tertawa. “Kami yang tua-tua ini bukan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Kami malah dihimpit rasa cemas dan ketakutan kalau-kalau sampai akhir hayat kami nanti pertolongan Tuhan itu tidak datang. Bukan dengan begitu kami menyalahkan Tuhan, tapi kami menyesali bahwa hidup kami tidak lulus, tidak layak untuk mendapatkan pertolongan Tuhan”

“Ya Mbah. Kita hidup dalam alur sebab dan akibat. Kita berjalan untuk mengalami akibat-akibat dari sebab-sebab, serta sebab-sebab yang memunculkan akibat-akibat. Allah sendiri menjanjikan sebab akibat yang berkaitan dengan perilaku manusia: kebaikan akan dibalas Allah dengan kebaikan, keburukan dibalas Allah dengan hukuman. Kita semua manusia biasa, wajar kalau membutuhkan bukti akibat-akibat dari sebab-sebab. Normal kalau manusia mengharapkan Allah menghukum pelaku kedhaliman, sebagaimana Ia memberi reward kepada pelaku kebaikan”

“Apakah tidak Junit temui bukti-bukti itu dalam kehidupan Junit selama ini?”

“Ada Mbah. Tapi kebanyakan di wilayah kehidupan pribadi dan sehari-hari. Tapi untuk skala yang besar, misalnya Negara dan kekuasaan, sepertinya Tuhan mengulur-ulur datangnya hukuman. Sudah berapa kali kumpulan pejabat di beberapa rezim kekuasaan yang mendhalimi rakyat berlalu begitu saja tanpa ada hukuman yang kasat mata dan signifikan dari Allah”

Markesot tertawa terkekeh-kekeh.

“Kami orang-orang tua ini”, katanya, “kalau mau jujur, sebenarnya kecemasan kami tentang kebobrokan Negara dan harapan terhadap pertolongan Tuhan, kalah besar dibanding penyesalan atas diri kami sendiri…”

“Maksud Mbah?”

“Jangan-jangan Tuhan sudah menjawab kegelisahan kami, cuma kami tidak mampu mendengarnya. Mungkin Tuhan sudah berkata: ‘Wahai hamba-hambaku yang udzur, apa yang Aku andalkan dari diri kalian, sehingga Aku tergerak untuk menolong?’. Maaf, Junit, saya sedang melatih kembali kepemimpinan kami terhadap bobot kearifan hidup kami sendiri….”