Catatan Ngaji Bareng Mbangun Sukowati, Sragen 23 November 2016

Memahami Rumah Besar NKRI

Agama bukanlah rumah, melainkan nilai yang membantu kita membangun, membenahi, dan memperindah rumah besar kita itu.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Dalam kesempatan waktu yang tidak terlalu lama sebagaimana Maiyahan bersama masyarakat umum di malam hari ini, ada setidaknya dua hal dasar yang diingatkan kembali oleh Cak Nun untuk jangan tidak diingat terutama pada saat-saat seperti ini di mana silang sengkarut pemahaman makin menguat menjadikan segala pembicaraan dan pendapat tidak gravitatif.

Yang pertama, jangan pernah menuduh Indonesia tidak kompak, rukun, dan guyub. Sejak dulu sudah ada orang Cina, orang Arab, dan lain-lain berada di negeri ini. Semuanya diterima dengan baik dan hidup berdampingan. Jika terjadi apa-apa, titik beratnya bukan pada ras atau etnis, melainkan pada ketidakseimbangan pada penerapan nilai-nilai sejati hidup.

Kedua, Indonesia atau NKRI adalah rumah besar tempat kita dilahirkan. Agama bukanlah rumah, melainkan nilai yang membantu kita membangun, membenahi, dan memperindah rumah besar kita itu. Sama halnya dengan Sragen pada skala yang lebih kecil. “Sebelum Anda lahir, Sragen sudah ada. Itu berarti Sragen adalah tempat atau rumahmu. Islammu membantumu untuk ndandani omahmu. Jadi, agama dan tanah air atau bangsa tidak berdiri berhadap-hadapan.”

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Selain memberikan tusukan pada pemahaman kenegaraan dan keagamaan di atas, Cak Nun juga mengingatkan bahwa para hadirin ini tidak kekurangan kondisi eksternal apapun yang menyebabkan mereka perlu cari motivasi. Cukup merncari ke dalam diri untuk menemukan dorongan untuk nikmat dalam bekerja. Cak Nun memberi contoh, “Kalau saya sederhana. Saya melakukan semua yang saya lakukan dalam rangka mbayar utang kepada Allah. Mosok sudah diberi anugerah badan tangan kaki dan lain-lain tidak bersyukur dengan cara sregep kerja.”

Analogi Rumah Besar ini sangat menggugah Pak Setda, dan membuatnya mengajak segenap ASN (Aparatur Sipil Negara) istilah baru untuk PNS untuk benar-benar mencintai Sragen sebagai rumah dengan setulus-tulusnya. Bu Bupati juga merasa apa yang disampaikan Cak Nun hendaknya bisa dijadikan dorongan yang kuat untuk bekerja membangun Sragen yang guyub rukun. (hm/adn)