Daur (20)

Melatih Ketidaklayakan

Mendidik Ketidakpantasan

Ini semacam dongeng sebelum tidur buat anak cucuku dan para jm. Kita tergeletak berjajar di lantai Langgar. Lampu sudah dimatikan, kuharap di tengah dongengku jangan tiba-tiba kudengar ada yang mengorok. Memang suaraku kubikin agak pelan, karena orang-orang yang di luar Langgar tidak memerlukan dongeng ini. Meskipun demikian jangan sampai terjadi nanti aku mendongeng berkepanjangan, ternyata kalian sudah tidur semua.

Pada zaman dulu ada seorang pengurus tertinggi sebuah negeri yang memilih para staf atau punggawa-punggawanya menggunakan Ngelmu Katuranggan.

Turangga artinya kuda. Para pemelihara kuda meneliti dan memahami bermacam-macam karakter kuda, kecenderungannya, bakatnya, staminanya, daya juangnya, mentalnya dan seluruh unsur-unsur kejiwaan dan jasadnya. Peta pemahaman terhadap kuda ini ternyata kemudian bisa diterapkan secara relatif kepada keberagaman manusia.

Sebuah negeri punya urusan yang beraneka-aneka. Pertanian, perekonomian, politik, kebudayaan, pertahanan dan berpuluh pembidangan lainnya. Si pengurus tertinggi negeri itu tidak sekedar mengidentifikasi para bawahannya berdasarkan ciri pribadi atau kecenderungan karakternya. Tetapi juga mempetakan perjodohan setiap orang dengan urusan-urusan yang harus ditangani bersama.

Perjodohan tidak berlangsung hanya antara lelaki dengan wanita. Bisa juga antara manusia dengan hewan peliharaan. Antara setiap orang dengan arah dan mata angin, dengan jenis rumah, dengan susunan pintu, tembok, kamar dan susunan depan belakangnya timur baratnya. Apakah itu takhayul? Klenik? Gugon-tuhon? Khurafat?

***

Jawabannya: ya.

Kalau yang memberlakukan pola-pola itu tidak mendasarinya dengan dua hal. Pertama, pengetahuan yang dibangun dengan penelitian, baik secara ilmiah modern maupun secara titen-tradisional. Ia memilih dan mempercayainya secara buta dan dengan keyakinan yang tanpa nalar. Kedua, pemahaman bahwa Allah menciptakan besar kecil, atas bawah, arah-arah, panas dingin, kemarin dan besok, jasad dan udara, juga antara apapun dengan apapun — semua itu dengan suatu konsep. Tuhan menyusun itu semua dengan kemauan yang jelas. Tuhan menempatkan, menjauhkan, mendekatkan, menempelkan, merenggangkan, antara apapun dengan apapun. Semua itu empan-papan dan dengan maqamat yang terang benderang di pandangan Penciptanya.

Termasuk gagasan Tuhan tentang anomali. Tentang perkecualian dan pengecualian. Illalladzina… kecuali mereka yang….

Dan pengurus tertinggi negeri yang kuceritakan ini sangat berhati-hati membaca jodoh tak jodoh itu. Sangat waspada terhadap ketepatan, kelayakan, kepantasan. Misalnya ketika semua teori komunikasi meyakini rumusan bahwa seorang petugas hubungan masyarakat adalah orang yang fasih berbicara, yang lancar mengemukakan sesuatu, yang mumpuni kadar kemampuannya untuk merangkum dan merangkai masalah-masalah — si pengurus tertinggi negeri ini melakukan yang sebaliknya.

Ia memilih punggawa komunikasi yang agak gagap, yang sangat lamban bicaranya, yang ekspressi wajah dan sorot matanya tidak sedap dipandang, yang setiap tampil selalu menghabiskan waktu yang panjang untuk informasi yang sedikit dan pendek.

Tentu saja pilihan ilmu dan metode yang terbalik itu bisa dilatarbelakangi oleh maksud baik ataupun oleh niat buruk. Tetapi bukan itu tekanan pembicaraan kita. Yang kita beber adalah batas pengertian tentang kelayakan, kepantasan, ketepatan, empan-papan.

***

Puluhan tahun ia mengurusi seluruh aspek negeri itu dengan pemahaman Katuranggan. Tidak sangat berhasil, tapi juga tidak bisa disebut gagal. Tidak selalu benar, dan bahkan banyak salahnya. Tidak pasti baik, bahkan sangat mudah orang mencari buruknya.

Tetapi minimal ia meletakkan lembu untuk menarik gerobak. Kerbau untuk membajak sawah. Memakai wuwu atau jala untuk menjaring ikan, meskipun ia tidak tertutup pada kemungkinan pukat harimau dan kapal besar pengeruk ikan. Dalam mengurusi segala sesuatu, ia selalu sangat berhati-hati meletakkan orang atau sesuatu, berdasarkan pemahaman Katuranggan, ditambah Ngelmu Pranotomongso. Ilmu tentang momentum. Tentang ketepatan waktu, di sisi ilmu tentang ketepatan ruang dan isi ruang.

Sesudah yang saya ceritakan ini, berikut-berikutnya ada pengurus tertinggi negeri yang lain yang tidak berpendapat bahwa ketepatan itu perlu. Atau minimal pengurus tertinggi yang ini punya pandangan progresif bahwa ketepatan, kelayakan, kepantasan dan empan-papan tidak selalu terikat pada ilmu baku Katuranggan dan Pranotomongso.

Ada sesuatu yang tampak tidak tepat tapi kemudian malah menghasilkan ketepatan. Bahkan ada ketidaktepatan yang justru merupakan suatu jenis ketepatan. Orang yang pekerjaan sehari-harinya menyabit rumput dan menggembalakan kambing dijadikan ketua nelayan. Jago rally motor diberi tanggung jawab nyetir truk antar kota. Bahkan orang yang badannya sakit-sakitan disuruh jadi ketua perguruan silat, hafidh Quràn diamanati jadi kepala teknologi.

Sejak itu penduduk seluruh negeri dibiasakan untuk melihat, merasakan dan mengalami banyak hal yang tidak empan-papan. Masyarakat dilatih untuk memaklumi ketidaktepatan. Rakyat dididik untuk terbiasa menelan ketidakpantasan.

Sejak itu sampai hari ini semua orang terbiasa memaafkan pelanggaran-pelanggaran hahekat hidup. Terbiasa memaklumi jagoan pasar menjadi wakil rakyat. Terlatih untuk permisif untuk ibarat orang shalat berjamaah: diimami oleh orang yang dalam keadaan najis mugholladloh.

Sejak itu rakyat tidak merasa heran melihat siapapun menjadi apapun. Kursi pemimpin, Kiai, pejabat, tokoh dan apapun yang tinggi-tinggi boleh diisi oleh siapapun tanpa hitungan kelayakan, kredibilitas, hak ilmiah, proporsi nalar atau pola logika ekspertasi, kepantasan budaya maupun kelayakan sosial.

Sejak itu budak boleh jadi raja, raja tak mengherankan ketika melorot jadi budak. Sejak itu kebun-kebun buah dititipkan kepada kera-kera. Sejak itu kumpulan perampok dipasrahi mengamankan gudang dari maling-maling.

Dari cn kepada anak-cucu dan jm
Yogya 22 Februari 2016