Daur (280)

Melankolia Urat Leher

Tahqiq : “...Manusia tidak pernah membenci anjing atau babi melebihi kebenciannya kepada sesama manusia. Sehingga tidak terpikir oleh seorang pun untuk misalnya sebagaimana Rasulullah menyikapi Umar bin Khattab....”

“Puncak eksistensi dan prestasi manusia di zaman ini harus kasat mata, harus berdasar Ilmu Katon, harus memenuhi bahasa komunikasi materialisme”, kata Tarmihim lagi.

“Tapi kan Mbah Sot selalu punya banyak cara untuk melakukan apapun saja”, Toling membantah.

“Yang samar saja Mbah Sot bisa, apalagi yang sederhana dan kasat mata”, Jitul menambahkan.

Brakodin yang kemudian menanggapi.

“Saya orang yang paling mengharapkan Mbah kalian Markesot ada di tempat dan momentum seperti di Ibukota itu”, katanya, “tetapi saya mungkin yang paling meragukan bahwa beliau ada apalagi terlibat di situ”

“Alasannya apa, Pakde”, Jitul mengejar.

“Banyak”, jawab Brakodin, “pertama, itu bukan style Mbah Markesot. Beliau bukan orang yang gegap gempita. Ibarat memukul orang, Mbah kalian Markesot tidak menghantam tubuh atau menampar mukanya. Mbah Markesot cenderung berurusan cukup dengan sentuhan ke urat leher yang bersangkutan..”

“Maksud Pakde langsung ke pangkal batang nyawa?”

“Semacam itu. Mbah kalian Markesot bukan jenis orang yang gaduh, riuh rendah, mengepal-ngepalkan tinju, unjuk gigi, unjuk rasa, show of force. Mbah Markesot tidak menolak pertunjukan kekuatan, tetapi itu jalan terakhir, dan sasarannya harus sepresisi mungkin….”

“Sebagaimana yang Mbah Sot lakukan dua puluh tahun silam ke leher Raja pada waktu itu?”, Seger penasaran.

“Bisa begitu”, jawab Brakodin, “tapi berulangkali Mbah kalian Markesot mengemukakan bahwa ia tidak akan melakukan hal yang seperti itu lagi kecuali dengan terpenuhinya sejumlah syarat”

“Apa saja Pakde?”

“Pertama, tahqiqi fakta sosiologis bahwa sesudah urat leher itu disentuh, keadaan akan menjadi lebih baik, pelaku-pelaku sejarah siap untuk benar-benar beriktikad dan berjuang memperbaiki keadaan. Dari pengalaman dua puluh tahun silam itu, Mbah kalian Markesot menjumpai yang sebaliknya. Karena beliau sendiri salah perhitungan, ternyata keadaan justru menjadi sempurna kebobrokannya. Dan beliau tidak mungkin mau lagi melakukan hal yang sama. Sehingga menurut saya mustahil Mbah Markesot kalian ada di Ibukota bersama semua orang yang berkumpul itu”

“Syarat-syarat lain apa, Pakde?”

“Mbah kalian Markesot pernah mengeluhkan bahwa Ummat kita ini belum pernah sanggup mempersatukan diri atas dasar iman kepada Allah, cinta kepada Rasulullah serta penghormatan kepada Kitab Suci. Mbah kalian Markesot sangat ngeri kalau suatu saat Ummat dipersatukan justru oleh kebencian bersama kepada seseorang atau suatu kelompok”

“Apakah itu yang sedang berlangsung di Ibukota, Pakde?”

“Tidak perlu pemikiran mendalam untuk tahu itu. Mungkin cukup dengan akal sehat umum saja, atau dengan sedikit jernih merasakannya saja. Manusia tidak pernah membenci anjing atau babi melebihi kebenciannya kepada sesama manusia. Sehingga tidak terpikir oleh seorang pun untuk misalnya sebagaimana Rasulullah menyikapi Umar bin Khattab, musuh besar Islam yang beliau mohonkan kepada Allah agar memberinya hidayah. Sejauh yang terasa, yang sedang berlangsung adalah mendalamnya kebencian dan membaranya dendam. Jutaan orang mengalami perasaan dan pengharapan yang sama: sangat ingin menyaksikan kesengsaraan orang yang dibencinya, yang juga bagaimanapun adalah ciptaan Allah juga….”

“Tetapi kemarahan massa seperti itu kan wajar to, Pakde”, sahut Seger.

“Sekali lagi ya”, jawab Brakodin, “Pakdemu ini adalah orang yang sudah sangat malas berdiskusi dan setiap siang dan malam hanya menunggu Mbah kalian Markesot berada di leher zaman itu. Tetapi Pakde justru yang paling tidak yakin beliau sedang ada di sana. Mbah kalian Markesot terakhir banyak membisiki saya bahwa hidupnya ternyata tidak seberguna yang ia sangka. Tidak sebermanfaat yang ia perkirakan. Ia merasa bukan siapa-siapa. Tidak dibutuhkan oleh siapapun, apalagi oleh masyarakat luas dan ummat yang sangat banyak itu. Beliau merasa sangat kesepian juga karena merasa seperti pegawai yang sudah memasuki masa pensiun. Tidak ada penugasan, tidak ada dhawuh, tidak ada perintah, tidak ada amanah apa-apa kecuali amanah umum dan standar sebagaimana yang dibebankan kepada semua orang yang lain….”

Jitul memotong. “Mbah Markesot bisa cengeng sampai merasa semelankolik itu?”.