Catatan Sinau Bareng Masjid Wisanggeni, Sukoharjo 15 Oktober 2016

Mekanisme-Mekanisme Maiyah

....yang mungkin sangat menjawab kebutuhan. Mekanisme-mekanisme yang berlangsung di dalam Maiyahan boleh dikata beresensikan pembukaan diri itu.

Jika dirasakan lebih dalam, apa-apa yang berlangsung di Maiyah bisa dipandang sebagai proses transendensi. Transendensi bukan dalam arti pelepasan diri dari dunia menuju ke atas, melainkan transendensi dalam arti keterbukaan diri kepada kekuatan di luar diri kita yang menguasai hidup kita, yaitu Allah Swt. Suatu sikap yang berbanding terbalik dengan sikap menutup diri, entah karena kesempitan ilmu, prasangka buruk, dan sikap negatif lainnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ketika hujan turun, jamaah diajak untuk terbuka atau membuka diri kepada Allah dengan segala rahmat dan rahasia-Nya. Ketika berdialog dan membahas persoalan, mereka diajak terbuka kepada ilmu dan hidayah-Nya karena mereka menemukan bahwa keadaan bangsa ini tak bisa ditolong selain dengan ilmu Allah. Ketika bermusik pun, keterbukaan yang sama juga dilakukan dengan titik tekan bahwa musik itu difungsikan untuk kebaikan sosial atau kebersamaan. Saat berpikir, mereka diberi contoh oleh Cak Nun untuk melihat bahwa banyak hal yang sama sekali berbeda dengan yang mereka pikirkan atau bayangkan, dan semua itu datang dari Allah. Begitu pun dalam nilai dan filosofi hidup, keterbukaan kepada Allah adalah dasar yang penting. Dalam ungkapan lain dari al-Quran yang kerap Cak Nun tafsirkan adalah rodhiatan mardhiyah. Yaitu, Engkau ridho dulu dengan Allah, nanti Allah akan segera dengan mudah ridho dengan kita. Engkau terbuka dulu kepada Allah, nanti Allah akan menurunkan hal-hal baru, hal-hal di luar dugaan, yang mungkin sangat menjawab kebutuhan atau cita-cita. Mekanisme-mekanisme yang berlangsung di dalam Maiyahan boleh dikata beresensikan pembukaan diri itu.

Yang berlangsung hari-hari ini sebaliknya adalah kecenderungan terus-menerus untuk manusia menutup diri dengan cara mempersempit pandangan bahwa diri manusia adalah pusat, dan celakanya lebih sempit lagi dari manusia, yaitu kuatnya kecenderungan pada materialisme dan itu ditumbuh suburkan lewat banyak strategi kebudayaan. Mereka berjalan ke sana kemari karena, salah satunya, takut akan lapar dan tidak makan, sebagaimana tafsir yang sempat disinggung Cak Nun mengenai ayat-ayat surat al-Quraish pada titik tekan min juu’in.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pada bagian akhir, sesudah rangkaian tanya-jawab yang alhamudillah pertanyaan disampaikan oleh para generasi muda, para jamaah yang istiqamah hingga pukul 01.00 diajak membuka diri lebih maksimal dengan khusyuk dengan masuk pada beberapa nomor shalawat bersama KiaiKanjeng. Sesungguhnya proses pembukaan diri itu tak hanya tampak pada istiqamah mereka, konsentrasi mereka pada ilmu dan pendalaman selama berlangsungnya Sinau Bareng, tetapi juga terlihat sampai saat sesi bersalaman dengan Cak Nun dan tokoh-tokoh masyarakat lain usai acara. Antusiasme mereka sangat kuat menunjukkah hal itu. Begitu pula dengan ekspresi-ekspresi mereka saat berjabat tangan dengan Cak Nun dan Bapak-Bapak lainnya. Sementara itu KiaiKanjeng tak bosan-bosannya mengantarkan proses pembukaan diri itu melalui beberapa nomor terakhir. Salah satunya nomor Padhang Mbulan, bertepatan dengan bahwa malam ini berlangsung bulan purnama. Berlangsung pula Majelis Ilmu Padhangmbulan di Menturo Sumobito Jombang. (hm/adn)