Catatan Tadabburan Para Buruh, Sukomulyo, Manyar, Gresik

mBuruh Kepada Allah

Justru jika niat dan pandangan hidup adalah perjuangan bukan tujuan materi, maka Allah yang Rahman Rahim yang akan memberikan materi itu.

Rembulan terang penuh menghiasi langit Lapangan POAS MUDA Sukomulyo Manyar Gresik malam ini, menaungi Tadabburan bersama Cak Nun, KiaiKanjeng dan para buruh Mie Sedap. Para buruh menggelar acara ini dengan maksud ingin “dipijati” hatinya oleh Cak Nun dan KiaiKanjang. Juga agar diberi landasan penguatan hati mereka yang sedang dalam posisi tidak seimbang di titik keadilan kebijakan pabrik.

Para buruh pabrik telah memenuhi lapangan, duduk rapat di hadapan panggung seluas 10 x 12 meter. Panggung yang sama seperti yang digunakan pada Tadabburan malam sebelumnya di Petrokimia. Malam ini adalah hari kedua dalam rangkaian panjang selama tujuh hari Cak Nun Kiai menemani masyarakat di Gresik, Surabaya, Jombang, dan Mojokerto hingga tanggal 28 nanti, yang puncaknya adalah Ihtifal Maiyah di Menturo.

Selain buruh pabrik yang rata-rata berasal dari Gresik dan Lamongan, ribuan masyarakat umum dari Sukomulyo dan sekitarnya juga memenuhi lapangan ini. Di antara mereka yang hadir malam ini, telah merasakan kehangatan cinta persaudaraan di acara malam sebelumnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Semakin hari mereka yang hadir di setiap maiyahan adalah generasi-generasi muda yang ditumbuhkan Allah menyongsong peradaban “ngerem” meninggalkan peradaban “ngegas” yang sedang berlangsung. Begitu pula yang tampak malam ini, mayoritas mereka yang hadir adalah anak-anak muda, bahkan remaja.

Acara ini sudah diawali pada sore harinya dengan pemberian santunan dan taliasih dari para buruh Mie Sedap kepada 35 yatim piatu di sekitar Sukomulyo ini. Kemudian tepat pukul 21.00 Cak Nun dan KiaiKanjeng hadir di lokasi setelah istirahat sejenak di rumah transit yang sudah disediakan.

Selama 30 menit, KiaiKanjeng membuka acara dengan membawakan lima lagu, mengajak masyarakat yang hadir masuk dalam suasana cinta persaudaraan. Diawali An Nabi Shollu ‘Alaih dengan aransemen yang sangat familiar dari quartet Biola asal Australia dan Inggris, Bond. KiaiKanjeng menyebut nomor ini sebagai An Nabi Bond.

Giliran mas Doni menyapa masyarakat sebagai sambung rasa agar hati semua yang hadir tersambung, dilanjutkan Mbak Nia yang membawakan Ahlu Ziman dan Mbak Yuli yang membawakan lagu yang sering dibawakan vokalis KiaiKanjeng alm. Zainul Arifin, La ilaha Illallah, Kuncine Lawang Suwargo. Lagu ini sendiri, terutama liriknya, baik nada dan lagunya sering dilantunkan dalam masyarakat Nahdliyyin. Almarhum yang juga berlatar belakang lingkungan NU, kemudian menambahkan lirik Jawa dipadu aransemen musik KiaiKanjeng menghasilkan atmosfir khusyuk mendalam.

Lagu yang sudah lama tidak dibawakan oleh KiaiKanjeng juga ditampilkan malam ini. Mas Imam Fatawi menyanyikan Bisikan Daun-Daun, dan Mas Doni membawakan Berlaksa Laksa, dengan aransemen musik rock KiaiKanjeng yang menghentak.

Usai rentetan lima lagu tersebut, Cak Nun menaiki panggung dan membuka Tadabburan dengan terlebih dulu “nglasani” agar alam pikir jamaah memiliki pijakan untuk menerima ilmu bersama. Memang begitu dialektika komunikasi dalam maiyahan. Tidak bisa sekonyong-konyong kita berbicara tanpa menyiapkan kesadaran berpikir orang-orang yang dihadapi. Ibarat menanam terlebih dulu disiapkan lahannya. Dengan tujuan ilmu yang hadir tersambung dan bermanfaat maksimal.

Pertama Cak Nun menguatkan alam pikir dengan kunci bahwa yang penting adalah output atau kelakuan kita, bukan apa pekerjaan kita. Selain itu bahwa pada malam ini, dengan perkenan Allah akan memberikan hadiah kemenangan. Bukan menang atas orang lain, karena prinsip dasar Maiyah salah satunya adalah tidak mengungguli orang lain. Adalah menang atas keadaan sendiri, walau apapun posisinya meskipun itu buruh, harus tetap semangat, tangguh, dan besar hati. Lalu apa bentuk menang itu? Yakni dimaafkan dosa-dosa yang lalu dan akan datang.

20160521-gresik-02
Foto: Adin.

Demikian juga atas nikmat kita akan disempurnakan Allah. Kesempurnaan itu sesuai posisi masing-masing. Nikmat yang didapat itu tidak untuk diperbandingkan dengan yang lain. Misalnya, memperoleh 1 kg beras, tidak perlu iri dan dengki dengan yang mendapat 10 kg. Temukanlah kenikmatan dari yang didapat. Ini berlaku dalam hal apapun, temukan kenikmatan di dalamnya, syukuri apa yang ada. Melengkapi ini Cak Nun memberikan sangu untuk ditadabburi, yakni surat Al Fath ayat 1-3.

Cak Nun juga sedikit memberi penjelasan tentang KiaiKanjeng. Bahwa KiaiKanjeng dalam dua puluh tiga tahun bersama, berjalan tidak dengan kesadaran pemain musik atau bermusik seperti pada umumnya. Maka KiaiKanjeng pekerjaan utamanya bukan bermusik, tetapi melayani orang banyak bersama Cak Nun. Maka dengan kesadaran melayani, KiaiKanjeng tidak bisa dikotak-kotakkan harus ahli hanya di satu jalur, tetapi mau tidak mau bisa menampung banyak hal. Otomatis KiaiKanjeng akan meningkatkan kemampuan dan kepekaan, dan terus belajar. Apa yang dilakukan KiaiKanjeng ini sesungguhnya merupakan kunci hidup karena kenyataan kehidupan itu sangat luas dan berlipat-lipat dimensinya, tidak linier dan lurus-lurus saja. Belajar dalam perjalanan itu telah sesuai fakta ketentuan Tuhan bahwa kita hidup terlebih dahulu belajar. Tidak pernah kita belajar cara hidup baru kemudian dihidupkan di dunia.

Dari awal acara hingga menjelang tengah malam, masyarakat yang hadir menyimak dengan penuh perhatian paparan demi paparan yang disampaikan Cak Nun. Ini perpaduan energi cinta kebersamaan dan cara berpikir yang berbeda secara sangat mendasar sehingga yang menyimak selalu “loading”. Proses berpikir yang berbeda ini mampu membuat diri tetap terjaga melawan kantuk, sehingga tetap segar sampai di akhir acara. Balutan canda tawa sepanjang acara, diselingi musik, “switching” dari satu suasana ke suasana lainnya. Aliran ilmu yang hadir dipandu Cak Nun agar jamaah cukup menemukan kunci-kunci ilmunya.

Pada malam ini, Cak Nun ditemani salah satu Redaktur Maiyah, Mas Helmi dalam menggali aspirasi jamaah. Sebelum itu, Cak Nun memperkuat landasan di Maiyah dalam memandang sesuatu. Cara pandang dan berpikir di Maiyah itu universal, tidak parsial. Maka dari itu melihat keterkaitan sebuah masalah dengan banyak hal yang akhirnya terlihat gambaran besarnya.

Terkait kondisi yang dialami para buruh, harus dilihat bahwa permasalahan itu ternyata terkait kondisi global dunia yang dikuasai segelintir orang pemilik modal. Jika sudah terlihat bahwa urusan upah dan seterusnya itu permainan mereka yang menguasai dunia, maka para buruh tidak perlu ikut ribut sesama buruh.

Cinta dan kemesraan adalah selimut tebal yang membungkus hati semua yang hadir di setiap maiyahan. Ikatan tali kebersamaan itu pada malam ini dikuatkan dengan partisipasi salah seorang jamaah putri yang menyanyikan Sebelum Cahaya dibersamai KiaiKanjeng. Beberapa lagu lain seakan seperti wajib akhir-akhir ini. Seperti One More Night yang selalu diikuti kegembiraan bernyanyi bersama pada sesi di pertengahan lagu. Yakni Cublak-Cublak Suweng, Gundul Pacul, dan spesial malam ini mas Jijied mencuplik lirik dari band rock Seurieus yang diubah sedikit menjadi “Buruh juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati.”

Malam ini terjadi diskusi yang asyik dan mengalir dalam menggali pemahaman buruh dan masyarakat mengenai dasar perjuangan. Tepatnya apa landasan buruh dalam memperjuangkan kenaikan upah. Sebagai contoh, apa sebenarnya yang diperjuangkan para pejuang anti korupsi. Apakah mereka berjuang karena eman menyayangkan uang atau materi yang dikorupsi, ataukah yang lebih tinggi nilainya, menyayangkan perilaku atau akhlaq para koruptor.

Satu per satu jamaah urun pendapat, dengan dipandu salah satu Redaktur Maiyah, mas Helmi, menyampaikan perjuangan buruh itu dari titik vital gerak mereka. Dua orang jamaah dari tengah berpendapat. Dimulai dari sudut pandang apabila mereka tidak berjuang, khawatir akan kehilangan peningkatan penghasilan. Berikutnya dasar perjuangan hak yang seharusnya mereka dapat, jika tidak diperjuangkan akan dicuri oleh yang memiliki kuasa di perusahaan.

20160521-gresik-04
Foto: Adin.

Dari arah sisi kiri panggung giliran diberi kesempatan. Menurutnya harus diperjuangkan, karena perilaku mereka yang mengabaikan hak para buruh pasti berakibat kualat kepada keluarganya.

Tampaknya dari ketiga penjuru jamaah aktif berpendapat. Dua orang di sisi sudut kanan depan panggung berprinsip perjuangan buruh berlandaskan eman akan masa depan anak, dari seharusnya cukup untuk rencana masa depan anak menjadi sangat kurang. Jamaah lain di sampingnya berjuang karena bila upah yang merupakan hak mereka tidak diraih, motivasi untuk kerja maksimal akan rendah, juga tidak menjadi berkah untuk perusahaan.

Dari sekian banyak pendapat yang dikemukakan, sebenarnya masih ada satu hal paling utama yang mendasari perjuangan, yang belum diungkapkan jamaah, yakni harga diri, martabat, dan muruah atau marwah.

Cak Nun mengajak jamaah memasuki kesadaran berpikir yang lain lagi. Kesadaran untuk berbalik arah dari sebuah arus pikiran pembodohan yang menghantam bertubi-tubi. Yaitu terkait siapa penindas dan yang ditindas.

Alam pikiran kita digiring bahwa minoritas identik dengan yang ditindas, sedangkan mayoritas itulah penindas. Padahal, ada sisi lain yang ditutup pada alam pikir kita. Kenyataannya dunia berlaku tidak begitu. Pemilik modal yang berkuasa di dunia ini selalu lebih sedikit jumlahnya dibanding buruh dan pekerja. Mereka yang hanya 1% menguasai dunia dengan mengorbankan 99% manusia lain. Itulah yang terjadi pada krisis 2008 lalu. Dan coba perhatikan yang terjadi di negeri ini saat ini.

Melihat fakta kehidupan yang seperti itu, bahwa mayoritas yang secara kuantitatif di negara ini ternyata minoritas secara kualitatif. Begitu juga sebaliknya minoritas kuantitatif sesungguhnya berkuasa sebagai mayoritas secara kualitatif. Maka Cak Nun mengajak ke kesadaran berikutnya yang merupakan puncak dalam tadabburan malam ini, yakni perjalanan hidup jamaah sebagai buruh, berorientasi sebagai tujuan yakni capaian kondisi ideal duniawi, atau merupakan perjuangan.

Sedikit demi sedikit sejak awal para buruh dan masyarakat dibuka pemikirannya terkait orientasi hidup yang hanya sebentar di dunia. Digugah alam pikir jamaah apakah Allah menciptakan manusia hidup di dunia hanya untuk mengejar kualitas kehidupan di dunia semata. Justru jika niat dan pandangan hidup adalah perjuangan bukan tujuan materi, maka Allah yang Rahman Rahim yang akan memberikan materi itu.

Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah berganti hari. Cak Nun tetap menyegarkan jamaah dengan kelakarnya, “Ini sudah jam satu pagi hari Ahad, berarti sudah dua hari kita di lapangan ini.” Disambut tawa segar semua yang hadir.

20160521-gresik-05
Foto: Adin.

Memuncaki kebersamaan cinta persaudaraan malam ini, mereka yang berada di panggung, diminta Cak Nun menyumbangkan suaranya. Sewu Kutho, sepertinya merupakan nomor wajib bagi para pejabat, baik swasta maupun pemerintah. Sebenarnya rasanya semua tidak ingin tadabburan malam ini berakhir begitu cepat. Tapi Cak Nun mengingatkan bahwa berhenti makan sebelum kenyang itu yang terbaik, seperti diteladankan Rasulullah. Maka pertemuan jasadiyah malam ini harus diakhiri.

Sekali lagi, KiaiKanjeng adalah pelayan, buruhnya Allah. Kesadaran itu yang berlaku di setiap maiyahan hingga acara usai ditutup. KiaiKanjeng setia menemani jamaah bersalaman dengan Cak Nun dan mengantarkan mereka meninggalkan lokasi acara dengan satu dua lagu, agar selalu berada dalam bingkai kemesraan bersama Allah dan Rasulullah.