Mbah Ratmo dan Wayang Kardus

Tujuh puluh enam (76) tahun bukanlah usia yang muda lagi untuk berkarya. Tetapi Mbah Ratmo, sapaan akrab pria bernama Tertib Suratmo ini, seakan enggan tunduk oleh usia. Melawan daya penglihatan dan pendengaran yang mulai berkurang, serta fisik yang mulai renta, ia masih berkarya sebagai seorang pembuat wayang kardus hingga saat ini.

Sembari membuat wayang, Mbah Ratmo menuturkan kisah masa kecilnya ketika sang ayah sering membawakannya oleh-oleh wayang suket sepulang dari menggembala kambing, dari situ ia mulai mencintai wayang — tak ada hari tanpa nonton wayang, begitu kenangnya.

20160501-asepi

Orang desa memang kreatif. Demikianlah Mbah Ratmo menggambarkan sang ayah yang mewarisinya ilmu membuat wayang. Dari sekadar suket (rumput), pandan, dan clumpring bambu, ayahnya lalu mencoba kertas marga (bahan pembuat kardus snack) sebagai bahan pembuat wayang, sehingga lebih akrab dikenal sebagai wayang kardus. Ada empat ketebalan kertas marga yang digunakan sebagai bahan membuat wayang. Proses pembuatan wayang kardus sebenarnya sama dengan pembuatan wayang pada umumnya.

Desain gambar wayang dibuat dengan cara ngeblat, yaitu meniru pola dari gambar fotokopian dengan ukuran yang diinginkan. Setelah itu dilanjutkan dengan menatah (mengukir), kemudian membubuhkan warna dasar putih sebelum dilakukan pewarnaan, agar warna yang dihasilkan nantinya lebih cerah. Pewarna cat air digunakan untuk menyungging (memberi warna) pada wayang. Proses selanjutnya adalah nyawi (memberi ornamen pada wayang).

Wayang kardus ini kemudian dijual dengan harga antara Rp 20.000,00 hingga Rp 50.000,00 per buah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan. Wayang yang paling banyak dipesan adalah Punokawan, Pandawa Lima dan Rama Wijaya, Anoman serta Gatotkaca.

Selain tokoh wayang, Mbah Ratmo juga membuat wayang berupa binatang. Mbah Ratmo juga sering memanfaatkan wayangnya untuk media mendongeng. Ia cukup piawai karena sebelumnya pernah aktif di beberapa komunitas teater, seperti Bengkel Teater Rendra, juga sebagai pendiri Teater Dinasti, dan kini aktif di Teater Perdikan.

Bagi Mbah Ratmo, wayang adalah bayang-bayang. Wayang adalah gambaran kehidupan manusia, sehingga ia berharap kesenian ini bisa terus hidup berkembang. Untuk itu, Mbah Ratmo menerima siapa saja yang ingin belajar membuat wayang kardus di rumahnya di Dipowimatan MG I / 69 RT.1 RW.2. Yogyakarta.

Mbah Ratmo sangat bangga dilibatkan dalam acara Festival Sekolah Keluarga, di Rumah Maiyah—siapa tahu bertemu dengan anak-anak yang kelak tertarik dan meneruskan budaya ini. (Tita)