Daur (173)

Maya Semaya-mayanya

Ta’qid : “...pikiranmu maya. Hidupmu maya. Keinginanmu maya. Peranmu maya. Setiap kata dari ribuan kalimat yang kamu ucapkan semua maya...”

“Kalau memang mau maya, sejak kecil saya sudah terbiasa dengan kehidupan maya semaya-mayanya”, kata Markesot.

Semua kisah maya itu diberondongkan oleh Markesot kepada Brakodin. Memang dia pikir maya itu apa?

“Mau ke mana kamu? Mau sekadar pergi ke kemarin sore terbang mambagi wilayah dengan Empu Baradah mengucurkan air dari kendi? Mau agak ke kemarin lusa yang kita disuruh menyebutnya abad-abad BC? Atau batasi saja pasca atau pra-Adam? Atau sekalian memasuki kelengangan ruang dan waktu sebelum inisiatif penciptaan Nur Muhammad?”

“Mau ke wilayah maya yang sebelah mana? Daripada mengurusi kehidupan goni teles di sekitar kita yang bertele-tele? Kamu masih ingat goni, karung yang tebal sebelum ada plastik? Yang kalau basah, dipakai tidak bisa, dijemur tak kering-kering? Ayo kita terbang ke langit yang mana semaumu. Yang maya, yang fana, yang baka. Toh semua tak jelas di sekitarmu. Apa yang tersisa yang masih ada kejelasannya di kehidupan di sekitar kita ini?”

“Keadaan masyarakat kita ini bengkok, tapi kalau diluruskan jadi patah. Mesin rusak, kalau diservis menjadi semakin tidak bisa dipakai. Mau turun mesin, ternyata ia bukan mesin. Mau ganti onderdil, tidak ada onderdil yang mau bergabung dengan mesin yang ternyata bukan mesin. Ini peradaban besi tua. Mau dibuang, sudah habis tempat pembuangannya…”

Alhasil Markesot mengamuk mulutnya seperti orang buang air besar. Tapi ketika ia menoleh ke tempat Brakodin yang tadi tidur, temannya itu sudah tidak ada. Markesot jengkel bukan main. Spontan ia berdiri. Ia tutup semua pintu dan jendela Patangpuluhan. Lampu ia matikan. Kemudian ke kamar dan merebahkan badannya.

Sudah jelas itu adalah perilaku orang putus asa.

Markesot memejamkan mata, tapi hasilnya terbalik. Pikirannya malah berputar-putar, terbang melayang ke sana kemari tanpa bisa dikendalikan. Ia membolak-balik badannya ke kiri ke kanan, tengkurap telentang, akhirnya meloncat berdiri…

Dan ia kaget setengah mati. Ketika ia bertolak pinggang, di hadapannya berdiri sebuah sosok. Setua dia, seburuk dia, sekumuh dia, dan Markesot merasa tahu siapa dia.

“Lho Paduka kok di sini?”, Markesot menyapa.

Sosok itu tertawa kecil. “Paduka siapa”, jawabnya, “Sultan yang kamu maksud sudah meninggal berabad-abad yang lalu. Kamu tidak mungkin mengenalnya, sehingga pasti juga tidak tahu bagaimana wajahnya, berapa tinggi badannya, atau rupa pakaiannya”

“Maulana?”

“Apalagi Abu Nawas, beliau meninggal lebih dulu dibanding Sultan”

“Kamu ya Mon… jangan main-main”

Sosok itu tertawa lebih keras. “Saya bukan Jin”

“Kiai Semar?”

“Semar gemuk pendek. Saya tinggi kurus”

“Gareng?”

“Gareng lebih pendek dari saya”

“Ya sudah Bagong…”

“Kamu yang Bagong!”, sosok itu setengah membentak, “Bagong yang tanggung, yang mestinya sederhana dan sehari-hari, tapi kamu sok filosofis seperti Gareng, di saat lain bergaya cendekiawan seperti Petruk, tapi juga bernafsu untuk berlagak matang, sepuh, arif dan sakti supaya orang menyangka kamu Semar…”

“Aslinya saya Puntadewa…”, Markesot memotong.

Sudah pasti ditertawakan habis oleh sosok itu. “Kamu ini benar-benar maya. Pikiranmu maya. Hidupmu maya. Keinginanmu maya. Peranmu maya. Setiap kata dari ribuan kalimat yang kamu ucapkan semua maya. Seluruh eksistensimu ini maya semaya-mayanya…”

“Makanya saya tidak memerlukan orang menyangka saya Semar, karena sudah jelas Panembahan Ismaya…”

Sosok itu meledak tawanya.

“Mana Sapron, yang biasanya menemani kamu di sini?”, tiba-tiba ia membelokkan pembicaraan.

“Tidak ada”

“Brakodin?”

“Minggat tadi entah ke mana”

“Saimon”

“Jin bukan urusan saya”

“Kiai Sudrun?”

“Ada. Tapi tidak tentu ada di mana”

“Kamu ini siapa?”

“Lha Sampeyan siapa?”