Catatan Sinau Bareng Pameran Kaligrafi Nusantara, 28 September 2016

Mata yang Terpana oleh KiaiKanjeng

Ketika musik KiaiKanjeng menghentak pada nomor Gundul Pacul, semua mata memandang, menikmati dan terpana pada kegesitan Pak Nevi Budianto dan kawan-kawan.

Jumlah orang yang hadir di pembukaan pameran ini kiranya sangat banyak dibanding umumnya pembukaan pameran. Panggung pun dipenuhi orang. Cak Nun mengajak semua pelukis yang hadir. Bahkan terlihat juga Pak Sujud Kendang ikut menyimak di sisi belakang panggung. Malam ini audiens Sinau Bareng ini tersusun atas empat kelompok. Masyarakat Sonosewu, jamaah Maiyah, para seniman Yogyakarta, dan masyarakat pada umumnya. Semua duduk bareng dan berbaur. Beberapa wajah dan sosok dengan tampilan seniman mewarnai panggung dan area jamaah yang memenuhi jalan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ketika musik KiaiKanjeng menghentak misalnya pada nomor Gundul Pacul, semua mata memandang ke KiaiKanjeng, menikmati dan terpana pada kegesitan Pak Nevi Budianto dan kawan-kawan. Tatkala Cak Nun demikian intens muatan-muatan pandangannya pada detail-detail senirupa, para audiens juga mengikuti dengan penuh perhatian. Jangkauan pembicaraan Cak Nun ternyata meluas dan mendalam. Dari kedekatan Allah kepada pelukis melalui sifat-Nya yaitu al-Mushawwir, kesadaran tentang ketika anda melihat lukisan anda ketemu batin anda sendiri, keberangkatan kaligrafi dari huruf atau aksara, hingga kesadaran mantiqat thayr (tatapan tajam burung) yang dipakai untuk memahami proses melukis.

Dari kedalaman dan bobot poin-poin yang muncul, agaknya diskusi di Galeri ini sangat padat dan mengarah pada bulatan pemahaman. Menariknya dan di luar dugaan, para seniman yang ikut maju dan beberapa penanya justru banyak mengemukakan pikirannya seraya mengutip al-Quran atau literatur berbahasa Arab. Padahal sedari awal Cak Nun menyesuaikan diri dengan temanya yang bertitik berat pada kesenian. Tetapi sejumlah ayat dan literatur berbahasa Arab itu membuat Cak Nun makin komprehensif dan dialektif dalam merespons. (hm/adn)