Catatan Sinau Bareng Masjid Wisanggeni, Sukoharjo 15 Oktober 2016

Masjid Wisanggeni Paseduluran Tanpo Tepi

Di rumah Pak Dhe Pur terpajang gambar Wisanggeni dengan tulisan: Paseduluran Tanpo Tepi. Sebuah ungkapan nilai yang hendak ditularkan kepada siapapun.

Kesibukan persiapan menjelang acara tampak di sana-sini. Menjelang pukul 17.00 hingga tiba waktu shalat Maghrib, KiaiKanjeng sudah menyelesaikan cek suara. Banser yang dikerahkan untuk membantu lancarnya acara terlihat sudah lengkap dan ikut shalat Maghrib berjamaah di Masjid Wisanggeni. Anak-anak kecil, anak-anak yatim piatu, berbusana putih-putih telah berkumpul. Mereka akan mendapatkan tali kasih malam ini.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sementara itu, remaja-remaja Hadroh Fatahillah tengah bersiap-siap untuk melantunkan shalawat-shalawat. Usai Maghrib mereka sudah berada di panggung. Dan usai shalat Isya, mereka kembali melantunkan nomor-nomor shalawatan serta tembang-tembang pepujian.

Adapun KiaiKanjeng masih berada di joglo di belakang rumah Pak Dhe Pur untuk istirahat dan makan malam. Dari joglo itu, mata dapat memandang langit yang cerah. Cahaya bulan purnama terang memancar, walau sedikit tersaput awan. Malam ini, Sinau Bareng di Sukoharjo ini berbarengan dengan berlangsungnya Majelis Ilmu Padhangmbulan di Jombang bersama Cak Fuad, Kiai Muzammil, narasumber lainnya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Di depan rumah Pak Dhe Pur terpajang gambar Wisanggeni dan di bawahnya tertulis: Paseduluran Tanpo Tepi. Sebuah ungkapan nilai yang hendak ditularkan kepada siapapun yang berada di sini, khususnya para generasi muda. Suatu kalimat bermuatan semangat persaudaraan yang pernah diusung oleh Mas Sabrang MDP saat mengungkapkan tahadduts bin ni’mah atas perkawinannya di Monumen Jogja Kembali kala itu. Sebuah kalimat puitis dan indah yang juga disuka oleh banyak rekan-rekan jamaah Maiyah. Nikmat kebersamaan tak hanya dirasakan di dalam hati, dan mewarnai hubungan satu sama lain, tetapi bahkan mampu menghasilkan ungkapan kalimat yang indah.

Bulan makin utuh, merangkak ke atas, ke tengah. Bersamaan itu, pembawa acara sudah memulai acara dalam bahasa Jawa halus Kromo Inggil. Ia membacakan urut-urutan acara yang akan dilalui. Beberapa kali terdengar Ia menyebut nama Cak Nun dengan Bopo Kiai Haji Emha Ainun Nadjib. Para jamaah sudah memadati pelataran kompleks Masjid Wisanggeni. Masjid yang bernama tokoh wayang ini pun juga mengusung semangat Paseduluran Tanpo Tepi. (hm/adn)