Daur (58)

Markesot Patah Hati

Rasa tidak tegaan yang terlalu cengeng dan bekal hidup berupa rasa bersalah di dalam jiwanya kepada Tuhan yang terlalu dimendalam-mendalamkan, membuat Markesot mengambil kuda-kuda rohani dan takaran sosial seolah-olah ia seorang Nabi, atau sekurang-kurangnya seorang Wali.

Tetapi sama sekali tidak dengan bekal ilmu, kekuatan mental, kualitas rohani dan kecerdasan sejarah sebagaimana layaknya Tuhan menganugerahkan kepada utusan-utusan-Nya. Markesot bahkan bukan orang istimewa yang memiliki keunggulan atas sesama orang awam pun. Markesot tidak punya keunggulan ilmu, pengetahuan, kepandaian atau kehebatan-kehebatan apapun.

Aslinya terus terang bahkan Markesot tidak cukup berpendidikan. Di Pesantren hanya satu-dua tahun, sekadar diajari alif ba  ta ditambah beberapa mahfudlat dan satu dua ayat dan hadits. Jangan sekali-sekali mempersoalkan apakah dia belajar Kitab Kuning, mengetahui khazanah ilmu-ilmu agama dari abad ke abad, atau apakah dia mengerti nahwu sharaf. Sebab jawabannya sangat terang benderang: sama sekali tidak.

Sesekali ada yang mempersoalkan kenapa dengan penguasaan yang sangat minimal atas hal-hal yang menyangkut Agama kok dia sering bicara tentang Kitab Suci, sirah Nabi, hadits Rasul dan yang sekitar-sekitar itu. Markesot menggerundal:

“Lha wong Nabi Muhammad saja diumum-umumkan sebagai Nabi annabi al-ummiyyi atau disebut buta huruf. Apalagi saya. Untungnya ke-ummiyyi-an Nabi itu melindungi beliau dari informasi yang artifisial, membentengi beliau dari pengaruh dan potensi peniruan atas ilmu-ilmu yang sudah ada sebelumnya, serta memerdekakan beliau dari intervensi dan kontaminasi bahan-bahan yang mengepung beliau dari lalu lintas komunikasi dan informasi sejarah. Kebutahurufan beliau itu membuat semua yang terungkap dari diri beliau selalu otentik, orisinal, asli, sejati, baik yang berasal dari pengajaran dan wahyu Tuhan maupun yang diperkenankan Tuhan lahir dari ketajaman berpikir dan kecerdasan akal beliau”

***

Akan tetapi Markesot lupa bahwa tak akan ada seorang pun yang berpandangan bahwa yang ia ceritakan tentang Nabi Muhammad itu juga merupakan fenomena yang terjadi pada dia. Markesot bukanlah apa-apa, apalagi siapa-siapa.

Untung Markesot tidak berkata atau berlaku berlebihan, juga sama sekali tidak mengikat siapapun yang mendengarkannya, sehingga ia tidak sampai dituduh sebagai Nabi palsu. Ia tidak peduli dipercaya atau tak dipercaya. Ia mengungkapkan sesuatu tapi tidak berkeberatan orang yang mendengarkan menolaknya. Ia tidak mempengaruhi siapa-siapa. Tidak menghimpun orang untuk jadi anak buahnya. Ia hanya berteman dan sangat kuat mengikatkan tali persahabatan dan persaudaraan.

Dan yang paling menyelamatkan nasib sosial Markesot adalah karena seseram apapun ia bicara, di ujungnya hampir selalu ia meremehkan dan mentertawakan sendiri semua yang diungkapkannya. Markesot termasuk pakar dalam hal mengejek diri sendiri. Sangat pandai berkalakar, melucu dan merendahkan dirinya. Sepandai ia menjunjung setiap orang di sekitarnya, meskipun terkadang junjungan yang ia lakukan diam-diam mengandung ejekan dan kritisisme yang sangat menohok namun tak dirasakan oleh yang bersangkutan.

Markesot tidak menjadi masalah bagi siapapun, karena toh kebanyakan orang tidak pernah benar-benar mempercayainya. Terkadang Markesot tampak seperti seorang yang terdidik secara modern, tapi barangsiapa berpengalaman dalam pendidikan modern, tidak mungkin mempercayainya. Di saat lain Markesot kelihatan seperti seseorang yang berasal dari perguruan tradisional yang misterius dan penuh dimensi, tapi siapapun yang di dalam dirinya terdapat pengalaman dan pengetahuan tradisional, takkan tergiur oleh Markesot.

Sehingga ketika Markesot diketahui sedang bersiap-siap sangat serius untuk pergi mencari Kiai Sudrun, kebanyakan orang di sekitarnya juga tidak terpesona. Itu hanya semacam angin lalu dan isu enteng-entengan saja.

***

Padahal Markesot sendiri sebegitu dramatis dengan tekadnya mencari Kiai Sudrun, yang katanya demi keselamatan masa depan Bangsa Negeri Khatulistiwa.

“Aneh-aneh”, kata seorang sahabatnya Sapron yang kebetulan datang ke Patangpuluhan, “Apa itu Negeri Khatulistiwa. Khatulistiwa kan sabuk bumi. Tidak hanya melintasi kepulauan Nusantara, tapi mengelilingi seluruh bulatan bumi. Negeri Khatulistiwa mestinya ya meliputi seluruh jalur tengah bumi”

“Biar saja, biasa, Cak Sot selalu melebih-lebihkan atau menganeh-anehkan sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja”, sahut Sapron.

“Kenapa sih dia seperti enggan menyebut kata Indonesia?”

“Nggak ah. Kadang-kadang Cak Sot menyebut Indonesia juga kok”

“Apa karena nama Indonesia itu bukan bikinan bangsa yang bernama, atau dinamai, atau menamakan diri Indonesia?”

“Ah, Cak Sot tidak pernah bicara begitu-begitu. Mungkin karena sangat sedih karena dia patah hati kepada Indonesia. Tapi Cak Sot memang suka bikin istilah-istilah sendiri. Dia sering mengecam saya, ‘Pron, kamu ini saya kasih tahu kok tidak mengaku…”

“Lho…”

“Ndak tahu asal-usulnya. Kata mengaku itu maksudnya percaya”

“Ah, ndak lucu”

“Saat lain Cak Sot bilang ‘Saya ini cemburu pada stang piston mobil ini’. Yang dimaksud cemburu itu curiga”

“Ah, ndak mutu. Itu main-main tapi tidak lucu”

“Sampai sekarang saya belum mampu menafsirkan kenapa kata ‘percaya’ diganti ‘ngaku’ dan kata ‘curiga’ diganti ‘cemburu’… Mungkin ada hubungannya dengan ulang-alik kemunafikan yang parah antara denotasi dengan konotasi dalam pemahaman bahasa kita”

***

Kapan-kapan siapa saja yang kebetulan berjumpa dengan Sapron, tolong tanyakan apa maksudnya “ulang-alik kemunafikan yang parah antara denotasi dengan konotasi dalam pemahaman bahasa kita”, dijamin Sapron tidak paham. Paling-paling itu copy-paste dari mulut Markesot. Dan jangan lupa, Markesot sendiri kemungkinan besar juga tidak paham. Mulutnya bisa jadi asal mecothot saja.

Namun demikian Markesot sangat bersungguh-sungguh dengan niatnya mencari Kiai Sudrun. Ia menjadi sangat dramatis di dalam dirinya sendiri, meskipun sang Negeri Khatulistiwa tidak tergerak sehelai rumputnya pun oleh dramatika jiwa Markesot.

Markesot merasa hatinya kosong. Ia menemukan dirinya adalah jiwa yang ruangnya hampa. Tak berisi apa-apa kecuali dua hal. Yakni seonggok kesedihan rasa bersalah kepadaTuhan, pikiran yang penuh sesak oleh rumusan permasalahan Negeri Khatulistiwa. Serta pendaran-pendaran gelombang kerinduan yang perih dan penantian yang amat sunyi atas hadirnya kasih sayang dan pertolongan Tuhan terhadap Bangsa Negeri Khatulistiwa.

Padahal Bangsa yang menghuni Negeri Khatulistiwa tidak merasa ada apa-apa dan tiap siang dan malam tertawa-tawa saja.

Tapi Markesot bagaikan penyair remaja. Bajunya angin, celananya bumi, topinya langit, jaketnya alam semesta. Tak sehelai rambut pun di kepalanya yang ia potong, seakan-akan merupakan pertanda waktu hingga entah kapan nanti ia akan memergoki Kiai Sudrun di suatu titik silang antara ruang dan waktu.

Seolah-olah Kiai Sudrun itu siapa. Padahal Bangsa Negeri Khatulistiwa pun kebanyakan tak mengenalnya dan tak pernah mendengar namanya.

“Kiai Sudrun silakan seandainya Sampeyan bisa memadamkan listrik seluruh kota dengan satu tepukan tangan, saya akan tetap kejar. Tidak akan membuat saya mengurungkan tuntutan terhadap tanggung jawab Sampeyan, meskipun kabarnya Sampeyan bisa menggulingkan kereta api dengan meletakkan sepuntung rokok di relnya, atau mampu merontokkan bebuahan seluruh kebun dengan hentakan kakinya, serta bahkan pun sanggup membakar gedung-gedung besar dengan sorot mata, itu tak akan membatalkan gugatan bumi langit saya kepada Sampeyan…”

Ampun. Ampun. Siapa paham bicaranya Markesot itu.