Daur (48)

Markesot Mencari Kiai Sudrun

“Dari dulu kita tahu”, celetuk Tonjé, katakanlah demikian nama salah seorang teman Markesot itu, “kalau dia menghilang, ya ke mana lagi…”

“Ke mana memangnya?”, Kasdu, sebut begitu nama teman lainnya.

“Cari Kiai Sudrun”

Tonjé tersenyum. “Pergi jalan kaki menjadi gelandangan kumuh, menyusuri jalanan selang-seling rel kereta api”

“Merasa sedang menyamar jadi gelandangan kumuh, padahal memang aslinya gelandangan kumuh”

“Kumuh, kumal, kemproh”

“Mencari Kiai Sudrun, di pesanggarahan di tengah hutan belantara”

“Di hutan belantara yang dirasakan atau dia anggap sebagai keraton”

“Dianggap keraton oleh Markesot atau oleh Kiai Sudrun?”

“Oleh keduanya. Karena sama-sama tokoh Dunia Maya”

Tonjé dan Kasdu tertawa bersama-sama.

***

Semua teman-teman Markesot sudah satu persatu meninggalkan rumah hitam Patangpuluhan, kecuali Tonjé dan Kasdu. Tanpa satu pun bertemu dan pamit kepada tuan rumah, karena sesudah pertemuan maya, Markesot menghilang ke dunia yang lebih maya lagi.

Tapi the show must go on. Kehidupan harus diteruskan. Entah berat atau ringan tetapi mereka harus meninggalkan Patangpuluhan, kembali ke kehidupan nyata. Terserah yang mana sebenarnya yang nyata dan yang maya. Mereka sudah merdeka diputar-putar diombang-ambingkan oleh Markesot untuk menghayati kebingungan di antara nyata yang maya dan maya yang nyata, yang terus berganti-ganti hakekat dan syariatnya.

Hanya Tonjé dan Kasdu yang tampaknya masih agak santai-santai di Patangpuluhan. Mereka tidak terlihat akan harus segera pulang. Tapi seandainya meninggalkan Patangpuluhan, sebenarnya belum tentu jelas juga pulang ke mana. Katakanlah kalau ‘ke mana’-nya jelas, yang tidak jelas adalah konsep ‘pulang’-nya.

Di antara teman-teman yang lain, dua orang ini yang paling ‘tidak profesional’. Mungkin tidak tepat-tepat amat disebut demikian. Kurang mapan, mungkin? Dari segi profesi, mereka kerjanya sangat swasta, atau swastanya swasta. Tidak bisa disebut sebagai pekerja yang mandiri, dengan bisa usaha atau penghidupan yang tertentu. Mandiri mereka berdua ini maksudnya hidup dari hari ke hari dengan serabutan dan spekulatif.

***

Tonjé dan Kasdu duduk-duduk di kursi bambu jebol-jebol di beranda Patangpuluhan. Celetak-celetuk, terkadang tertawa, kemudian diam, masing-masing terhanyut dalam lamunannya.

“Tapi kali ini mungkin serius lho dia mencari Kiai Sudrun itu”

“Apa kamu tahu apa beda antara serius dan main-main dalam perilaku Markesot?”

“Saya yakin kali ini Markesot serius dalam pengertian seriusnya kebanyakan orang”

“Kebanyakan orang kan seriusnya juga ternyata main-main”

“Saya tidak berbicara tentang kebanyakan orang. Saya berbicara tentang Markesot”

“Kan tidak mungkin bicara Markesot kalau tanpa komparasi di tengah kebanyakan orang”

“Tapi fokus saya Markesot, bukan kebanyakan orang”

“Di Patangpuluhan kita sejak dulu sudah sama-sama melihat bahwa hancurnya bangsa kita tidak terutama terletak pada gagalnya managemen pengelolaan negara, tidak pada kekayaan bumi rahmat Tuhan menjadi adzab bencana, tidak terletak pada budaya korupsi total, atau tidak pernah tercapainya harapan untuk masyarakat adil makmur. Itu semua hanya akibat. Karena sebab utamanya adalah manusia bangsa kita sudah tidak memiliki pagar yang jelas antara serius dengan main-main, antara baik dengan buruk, antara benar dengan salah, antara mulia dengan hina, antara malu dengan bangga…”

“Saya ini omong tentang Markesot mencari Sudrun, tidak mempersoalkan Negara dan Bangsa”

“Lho mana mungkin Markesot mencari Kiai Sudrun kalau tidak membawa tema dan keprihatinan tentang negara dan bangsa?”

“Lha memang itu yang tadinya mau saya katakan. Tapi kamu mendahului. Kamu berkomunikasi tanpa irama. Dialog teater saja pakai progresi dan eskalasi”

“Gini saja. Anggap saya mewakili kebanyakan orang”

“Maksudmu?”

“Kebanyakan orang tidak kenal teater, apalagi progresi dan eskalasi”

“Tapi kan hidup mereka pakai progresi dan eskalasi, meskipun mungkin tidak menyadarinya”

“Itu namanya tidak kenal. Tidak tahu. Tidak mengerti. Kebanyakan orang hanya terhanyut oleh progressi alam bercampur dengan eskalasi keadaan-keadaan zaman. Sebagian mereka beruntung karena nasib alamiahnya bagus dan keadaan zaman melemparkan mereka ke tempat yang tidak terlalu menyengsarakan. Tetapi kebanyakan dari kebanyakan orang hidup menjalani spekulasi dan perjudian nasib habis-habisan”

“Kita termasuk yang mana?”

“Kita tidak berada pada semuanya. Jadi orang kebanyakan yang susah dan malas. Jadi orang kesedikitan ya tidak punya keistimewaan apa-apa”

“Kok kesedikitan?”

“Banyak kebanyakan, sedikit kesedikitan”

“Tidak jelas ya bahasa kita”

“Tidak konsisten”

“Tidak logis”

***

Tonjé dan Kasdu termangu-mangu lagi.

Sesungguhnya diam-diam ada yang mengganjal dalam hati mereka berdua. Memang rata-rata teman-teman Markesot itu berlagak cueg terhadap tidak adanya Markesot ketika mereka harus pulang. Tapi semakin mereka pergi menjauh dari Patangpuluhan, semakin terasa ada sesuatu yang tidak selesai. Ada sesuatu yang belum benar-benar terisi di dalam jiwa mereka. Sehari semalam bersama Markesot itu pun seperti mimpi sejenak melayang-layang di dunia maya. Bahkan mayanya maya.

Ketika tadi malam Markesot mendadak berlaku seperti orang gila dengan ledakan cambuk dan suara tertawanya, sebenarnya diam-diam mereka menyadari bahwa bukan perilaku Markesot itu titik urusannya. Melainkan sesuatu di belakangnya, yang melahirkan ledakan pada kadar yang tinggi dan mendalam.

Dan kemudian Markesot tiba-tiba menghilang, mungkin ada beberapa kemungkinan yang membuatnya mengambil keputusan itu. Bisa sederhana saja: Markesot sejak dulu memang takut pada adegan perpisahan. Tidak tahan hati untuk berupacara pamit-pamitan.

“Mudah-mudahan Markesot mencari Kiai Sudrun untuk meminta izin, atau sekurang-kurangnya minta pertimbangan”, Tonjé nyeletuk.

“Soal apa?”, Kasdu menyahut.

“Kudeta”

“Yesss!”

“Lho kok yes?”

“Kudeta to?”

“Ya”

“Lha ya itu bahasa sono-nya yesss!”