Daur (46)

Markesot Masuk Dunia Maya

Seperti dongeng, pertemuan di Patangpuluhan itu diakhiri tanpa adanya Markesot. Sengaja menghilang, sebagaimana kebiasaannya dulu, atau bagaimana, belum jelas.

Teman-teman Markesot yang berkumpul itu kelelahan karena nonstop saling mendengarkan pembacaan karya di antara mereka hampir semalaman. Pagi itu beberapa di antara mereka yang khusyuk semalaman, justru masih tidur pulas.

Lainnya yang semalaman lebih banyak tidur karena lelah dan malas mendengarkan, sudah duluan bangun, dan bersiap untuk kembali ke tempatnya masing-masing.

Salah seorang bercerita kepada temannya bahwa semalam sambil setengah tidur samar-samar ia mendengar, entah beneran atau entah mimpi, Markesot berkata:

“Kali ini masalah yang mengancam Bangsa dan Ummat kalian jauh melebihi apa yang sering kalian diskusikan, bahkan melampaui tingkat yang kalian pernah bayangkan. Bangsa kalian sedang benar-benar dihancurkan, dan alat utama penghancuran itu adalah Bangsa kalian sendiri. Ummat kalian sedang sungguh-sungguh dirusak, dan alat utama perusakan itu adalah Ummat kalian sendiri. Hari ini kadar kehancuran dan kerusakan yang dicapai adalah bahwa Bangsa dan Ummat kalian tidak menyadari bahwa mereka sedang dihancurkan dan dirusak. Bangsa dan Ummat kalian hanya punya waktu beberapa tahun untuk mulai menyadari itu”

Temannya merespon, “Kapan Markesot tidak omong yang serem-serem. Dan kalau memang benar demikian, kenapa sekarang dia justru menghilang?”

***

Sebenarnya mereka tidak menganggap bahwa Markesot benar-benar menghilang. Biasalah kelakuan orang itu, sejak dahulu kala mereka mengenalnya. Terkadang pergi mendadak entah ke mana, kemudian datang juga tiba-tiba. Markesot tidak pernah bilang dia dari mana, semua orang lainnya juga tidak pernah menanyakannya.

Awal-awalnya ada yang bertanya. Begitulah pergaulan. Sewajarnya saling menyapa dan bertanya. Tapi sesudah menghilang, kalau ditanya “dari mana”, Markesot menjawab dengan tersenyum “dari mata turun ke hati”. Saat lain menjawab “dari Bandung ke Surabaya”. Kalau pas cemberut wajahnya, Markesot menjawab “dari sono ke sini”. Atau bahkan “dari dunia ke akherat”.

Ada yang beranggapan bahwa Markesot memang sok misterius. Lainnya merasa tidak punya hak untuk tahu. Lainnya lagi berkesimpulan bahwa Markesot tidak lengkap etika interaksinya, tidak informatif dan tidak punya imajinasi bahwa mungkin saja teman-temannya perlu tahu ke mana dia pergi.

Tetapi ketika teman-teman itu satu per satu didesak jadwalnya untuk segera meninggalkan Patangpuluhan, lama-lama mereka berpikir bahwa Markesot kambuh penyakitnya. Ia pasti menghilang entah ke mana, sebagaimana dulu. Ia yang meminta mereka datang, ia juga menyambut kedatangan mereka, tapi tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk pamit sebagaimana normalnya orang bertamu-tamuan.

***

Tapi memangnya apa yang normal pada kehidupan Markesot? Coba saja amati rumah hitam Patangpuluhan ini. Sewanya saja sepersepuluh dibanding harga umum. Yang punya rumah orang Jawa tapi warganegara dan tinggal di Selandia Baru. Datang dua-tiga tahun sekali, tidak butuh uang, sehingga sewanya tak pernah dinaikkan.

Selandia baru tergolong Negeri Sorga, makmur, cukup adil pengelolaan kebersamaannya, tidak punya masalah dan tidak pernah bikin masalah dengan masyarakat lain di Bumi. Entah bagaimana Si Jawa Prambanan itu dulu bisa sampai ke Selandia Baru. Sesekali ia ‘mudik’ untuk klangenan, merasakan kembali ‘kampung halaman’, datang ke Patangpuluhan, melihat-lihat, menikmati salah satu bagian dari jiwa masa silamnya yang terbawa sampai sekarang dan kapanpun.

Beberapa kali malah Si Jawa Sepuh itu kasih biaya ke Markesot untuk memperbaiki beberapa hal di rumah Patangpuluhan: temboknya yang lembab, kamar mandinya yang kacau, mengganti meja kursi bambu yang sangat tidak layak pakai, dan beberapa hal lagi. Apakah itu normal? Di mana ada empunya rumah yang menyewakan rumahnya sebegitu murahnya, bahkan memberikan biaya perbaikannya?

Hanya fakir miskin jenis Markesot yang mendapatkan anugerah seperti itu. Semua teman Markesot tahu bahwa memang rumah itu kosong puluhan tahun lamanya sebelum disewa oleh Markesot. Jadi si Selandia Baru itu senang bukan main Markesot berkenan menyewa rumahnya. Sebab aslinya memang tidak ada siapapun sudi menyewanya. Bukan hanya karena buruknya keadaan rumah itu, tetapi terutama karena tempat itu adalah sarang hantu.

***

Ah, bukan. Bukan sarang hantu. Mana ada hantu mau bersarang di rumah hitam Patangpuluhan. Hantu kelas bawah, kasta rendah, mungkin. Dan lagi, hantu apa dan siapa maksudnya? Energi liar? Ruh orang tidak ikhlas mati? Anak turun Iblis?

Hantu dari sekitar Yogya? Apa Mbah Petruk, Kiai Gringsing, atau Syekh Jumadil Kubro itu hantu? Atau Parpolo di keraton Merapinya. Jeyeng Westhi Parangwedang, Buto Kepolo Prambanan, Mbok Bereng Parangtritis, Rajeg Wesi Plered, Nyai Panggung Kotagede? Apa perlunya beliau-beliau ini ke Patangpuluhan? Apa menariknya Patangpuluhan? Mereka sudah mapan di palenggahan masing-masing bersama komunitasnya.

Apalagi yang jauh-jauh. Apakah karena di Yogya banyak pendatang dari berbagai daerah, maka masyarakat hantu juga mendistribusikan pasukannya untuk mengawal para perantau itu? Bolobatu Blambangan, Endrayaksa Magetan, Lancur Blora, Lowar Subang, Kuru Bogor, Pujongga Pujonggi Kediri, Telubrojo Cilacap, Wirasul Waringin Bali, Korep Ponorogo, Trenggiling Wesi Majenang, Sido Kare Pacitan, Duduk Warih Labuhan dan sekian ratus komunitas hantu lainnya?

Apakah ada kaitan ‘genekologis-historis’ antara mereka itu dengan Komandan-komandan Batalyonnya Iblis di seantero Bumi: Komandan Tsabar, Komandan Dasim, Al-A’war, Miswath, Zaknabur? Atau sekedar sayap-sayap jauh atau ranting dari dahan-dahan Kaum Jin Global: Jan, A’mir, Ifrith, Arwah? Atau komunitas hantu-hantu yang menyebar itu sebenarnya semacam bangsa jajahan dari kolonial-kolonial dunia maya: Hudais, Hudavis, Jalnabur, Biter, Mansud, Qafandar, Akwariya Zawal, Wahhar, Tamrih, Matkun, Ruhaa, Wasuth, Khanzab, Haffaf, Zalinbur Zalitun, Tsabur, Walhan, Lagus, Abyad, Awan dan Watsin?

Ataukah karena sejatinya Markesot adalah bagian dari masyarakat maya itu? Sehingga sebenarnya Markesot bukannya menghilang atau pergi tanpa pamit. Mungkin Markesot tetap ada di Patangpuluhan, tetapi nyelip di salah satu lipatan gelombang yang teman-temannya tidak bisa melihatnya dengan pandangan jasad?

Dan si Bapak dari Selandia Baru itu sesungguhnya adalah rekanan  Markesot sesama hantu? Sehingga membayar sewa rumah Patangpuluhanpun selama ini bukan pakai uang manusia, melainkan mungkin dupa, kemenyan, bawang campur tanah kuburan, atau entah apa.

Semakin jelas: apa yang normal pada kehidupan Markesot? Kenyataannya maya. Realitas hidup Markesot adalah Dunia Maya. Pantas dia tidak pernah mau beli gadget, tidak mau masuk internet, alergi kepada medsos, pergi menjauh dari media massa.