Daur (108)

Markesot Di-Demo

Pikiran Markesot yang tadi ia perintah untuk mengolah Negara, Nagari, Negeri, Bilad, Baldatun Thayyibatun, Baladan Aminan, Baldatan Aminatan, mulai sedikit demi sedikit menyampaikan laporan.

Yang bisa menjadi masalah adalah pikiran Markesot tidak begitu terdidik oleh pengalaman bersekolah. Jadi hasil kerjanya sangat belum tentu bisa diandalkan. Dan mungkin justru karena pikiran Markesot sering dituduh sebagai “pikiran yang kurang terdidik”, maka laporan awalnya tidak jernih, mengandung semacam sentimen psikologis. Malah mungkin ada muatan sakit hati dan rendah diri.

Lihat saja awal kalimat yang diterima oleh Markesot dari hasil akalnya yang berpikir: “Salah satu sebab kerusakan masyarakat dan bangsa ini yang berlanjut-lanjut susah di-stop adalah kata belajar pindah ke atau berubah menjadi sekolah…

Markesot memotong pikirannya sendiri: “Sebentar. Apa yang salah dengan belajar berubah menjadi sekolah?”

Tapi kalimat potongan itu dipotong lagi oleh Markesot, “Kalian saya harap tak usah turut campur dulu, biar saya bereskan pikiran saya sendiri terlebih dulu”, ternyata dia memberi peringatan kepada Markesot-Markesot yang lain.

“Sekarang ini Sekolah menjadi Tuhan”, pikirannya melanjutkan, “Eh maaf, Sekolah diposisikan melebihi Tuhan. Orang berani tidak bersembahyang, tapi tidak berani tidak Sekolah. Para orangtua belum tentu menegur anak-anaknya tidak melakukan shalat, tetapi mereka marah besar dan frustrasi kalau anak-anaknya tidak masuk Sekolah”

“Sebentar, sebentar”, Markesot memotong lagi, “Kalau bisa tolong jangan dikait-kaitkan dengan Tuhan dulu, sebab saat ini saya masih punya banyak masalah dengan Tuhan”

“Jangan khawatir”, jawab pikirannya, “saya juga sangat memikirkan itu dan selalu membantumu mencari jalan keluar bagaimana menemukan cara-cara agar kamu bisa membereskan masalahmu dengan Tuhan”

“Hutang saya terlalu banyak kepada Tuhan”, Markesot meneruskan, “tumpukannya semakin tinggi dan makin meluas, sehingga menghitungnya saja saya tidak mampu, apalagi saya sangat tertindih di bawah tumpukan hutang-hutang saya kepada Tuhan”

Pikirannya agak jengkel: “Soal hutang kepada Tuhan ini maksudnya PR yang baru untuk saya kerjakan atau bagaimana? Yang soal Negara, Nagari, Negeri, Bilad, Baldatun Thayyibatun, Baladan Aminan, Baldatan Aminatan baru awal saya laporkan hasilnya, sekarang kok malah dikasih PR baru. Tolong dihitung kembali apakah itu bukan kedhaliman dan scheduling yang buruk yang ditimpakan kepada saya?”

“Ya ya ya…saya minta maaf”, jawab Markesot, “saya bukan mengejar-ngejar, saya hanya gugup oleh rasa bersalah dan hutang-hutang saya kepada Tuhan, dan sekarang saya bisa jatuh frustrasi oleh rasa bersalah saya kepada kamu. Mohon jangan marah atau mogok. Sebab kalau kamu meninggalkan saya, saya langsung berubah menjadi hewan….”

Markesot sangat sedih mendengar protes pikirannya. Apalagi pikirannya ternyata belum selesai protesnya:

“Sebenarnya sudah sangat lama saya mau menyatakan ini”, katanya lebih lanjut, “Ada dua hal. Pertama, terlalu banyak bidang-bidang permasalahan yang kamu timpakan ke saya untuk saya olah. Dari masalah orang-orang bawah yang sangat ruwet, pelunturan keJawaan, degradasi kebudayaan, keruntuhan mental, eksploitasi nasionalisme oleh pejabat-pejabat, kaburnya Negara dan Pemerintah, konspirasi global sejak menyebarnya perampok-perampok Eropa ke Afrika, Asia dan Amerika Latin, hingga Illuminati dan Freemason, ketoprak Timur-Barat Sosialisme-Kapitalisme dan Demokrasi-Komunisme, dari Auffklarung hingga Arab Spring, belum lagi pertengkaran-pertengkaran bodoh Kaum Muslimin berabad-abad, pemilu dan politik uang, segala macam masalah manusia dan dunia ditumpahkan kepada saya”

“Ya ya saya minta maaf”, Markesot gugup.

“Madzab-madzhab yang nama alirannya memakai nama Ulama-Ulama yang dulu mereka tidak pernah berpikir apalagi berniat untuk bikin madzhab. Apalagi lantas menjadi persekongkolan, korps, diinstitusionalisasikan, dipadat-padatkan dengan tajaman-tajaman kepentingan, yang akhirnya terjerembab juga pada kapitalisme tersamar”

“Saya mengerti”, kata Markesot, “tapi tak usah diundat-undat dietrek-etrek sehingga menyakitkan hati dan kita semua”

“Belum lagi soal Papa Kilo, Forum Pemancing, Klub Congklang, Ahlul Bid’ah wal-Jamaah, kreativitas dan akulturasi yang langsung distempel sebagai kesesatan, kesegaran berijtihad yang langsung diklaim sebagai dholalah, ditambah kehancuran kaum tani dan kapitalisme pejabat kementerian pertanian, beribu-ribu manipulasi dan kemunafikan dalam kehidupan ber-Negara”

“Aduuuuh…”, Markesot mengeluh.

“Yang kedua, banyak amat Markesot yang kasih-kasih perintah kepada saya. Mbok para Markesot bersidang dulu menyatukan gagasan dan mengerucutkan kesepakatan. Jangan semua Markesot perintah sendiri-sendiri ke saya. Markesot boleh banyak, tapi akal dan pikirannya kan cuma satu, meskipun satu-nya itu bercabang-cabang dan berdimensi-dimensi”

Pikiran Markesot belum puas-puas juga menghardik Markesot.

“Kamu suka menceramahi orang bahwa tidak boleh semua orang berpikir tentang semua hal, sebaiknya ada manajemen dan pembagian tugas di mana sebagian orang memikirkan sebagian hal. Ini malah kamu sendirian berpikir tentang semua hal. Dan untuk itu saya yang kamu siksa. Kamu ini penjajah. Kamu paksa saya kerja rodi. Kamu enak-enak tidur, saya yang harus menggiling mesin pemikiran selama kamu tidur. Dan setelah kamu bangun, kamu larang pula saya beristirahat”

“Abracadabra…. Gusti Kang Moho Agung…”, Markesot ampun-ampun.

“Kamu pikir pikiran tidak butuh istirahat. Akal juga punya kelelahan. Akal pikiran dibatasi oleh Tuhan. Tidak boleh diforsir. Tapi kamu memperlakukan saya seperti budak. Saya ini bukan jongos. Saya ditaruh oleh Tuhan di kepalamu justru untuk membantu dan meringankan hidupmu. Saya ini taat kepada Tuhan, bukan taat kepada kamu. Saya dipasang oleh Tuhan untuk menyelamatkan kamu, untuk memilih batas-batas, untuk memagari keterbatasan-keterbatasan, supaya hidup tidak celaka dan hancur gara-gara tidak mengerti batas”

“Lama benar demo-mu…”, Markesot nyeletuk.

“Hatimu enak. Tinggal ingin ini itu. Tinggal menuruti kehendak, kemauan, keinginan, nafsu, khayalan, imajinasi, lamunan. Hatimu bebas sebebas-bebasnya. Tuhan menyuruh kamu memasukkan iman supaya menemani hatimu. Tapi itu tidak cukup. Karena pengendalian dan tuntunan arah langkah hidup yang diajarkan oleh iman, harus saya terjemahkan dan saya rumuskan. Saya juga yang repot. Iman tinggal bersemayam, tapi saya yang bekerja keras untuk mengkonstruksi tuntunan iman itu. Harus begini, jangan begitu, segini saja, jangan sampai segitu, kendalikan jangan lampiaskan, di-rem jangan di-gas melulu, ditahan jangan dilepaskan sama sekali…. Iman tinggal kasih perintah, tapi saya yang harus menghitung, menggambar peta regulasinya. Dan itu sangat ruwet dan sama sekali tidak mudah. Iman tinggal kasih policy, tapi juklak-juknis yang complicated, dan itu saya sendirian yang menanggung. Saya lembur sepanjang siang dan malam, saya kerja rodi sepanjang zaman….”