Daur (60)

Markesot Ahli Dubur

Yang dimaksud Markesot Ahli Dubur awalnya hanyalah pengetahuan tentang motor atau mobil.

Markesot bilang untuk mengetahui ‘kebenaran’ mesin, kita tidak perlu membuka kapnya, memeriksa seluruh peralatannya, apalagi membuka-buka detailnya, menganalisisnya, mengukur-ukurnya, dengan metode dan kriteria yang tepat atau belum tentu tepat dengan fakta mendasar kebenaran mesin itu.

Kebenaran mesin maksudnya adalah kualitas per onderdilnya, ketepatan penempatannya, presisi konstruksinya, kelancaran putarannya dan maksimalitas hasil kerjanya.

Kalau mendengar kata ‘kebenaran’ kata Markesot jangan lantas hanya berasosiasi ke Kitab Suci, ucapan Nabi, buku filsafat atau pelajaran-pelajaran Sekolah dan Pesantren. Sebutir kacang juga hadir dengan dan karena kebenarannya sebagai butir kacang. Seekor cacing bertempat tinggal di dalam kebenarannya sebagai cacing. Sezarrah debu tak bisa beterbangan atau hinggap di tembok kalau tak disertai oleh kebenaran hakiki dan syar’i jasadiyahnya sebagai debu.

Kebenaran bukan hanya berada di genggaman kaum Ilmuwan dan Ulama. Kebenaran adalah juga hakikat utama setiap makhluk hidup maupun benda-benda. Kebenaran tidak hanya melandasi bagaimana seorang kuli memanggul barang, tapi juga wajib adanya pada barang yang dipanggul, pada cara si kuli memanggul, pada cara kakinya berkuda-kuda dan melangkah, termasuk pada keputusan si kuli tentang di lokal lantai atau tanah sebelah mana ia memijakkan telapak kakinya dari langkah ke langkah.

***

Kebenaran dalam ilmu bukan monopoli ilmuwan. Kebenaran kandungan Agama bukan kuasa Ulama.

Kebenaran dalam negara tidak boleh didominasi oleh Pemerintah. Kebenaran dalam demokrasi bukan hanya milik para pakar demokrasi. Kebenaran yang dianugerahkan Allah untuk mengakari penciptaan semua makhluk adalah berada pada semua makhluk itu.

Bahwa hampir setiap penguasa punya kebiasaan untuk merebut kebenaran umum dipersempit menjadi kebenaran lokal-subyektif mereka, itu adalah sumber konflik antara para penguasa dengan Tuhan.

Dan Tuhan selalu membuka tangan lebar-lebar, mempersilakan makhluk-makhluknya siapa saja, di mana saja, kapan saja, untuk menyelenggarakan pertengkaran melawan Tuhan. “Barangsiapa mau setia kepada-Ku, setialah. Barangsiapa mau berkhianat kepada-Ku, berkhianatlah”.

Jadi bagaimana kebenaran mesin motor atau mobil? Menurut Markesot “lihat duburnya”. Maksudnya tentu knalpotnya. Lihat apa yang keluar dari dubur motor itu. Asap hitam, asap putih, disertai jenis suara atau geraman tertentu.

Kalau yang keluar dari dubur motor adalah tetesan-tetesan air, meskipun mungkin dibarengi sedikit asap, juga suara knalpot yang sopan dan rendah hati, maka itulah kebenaran mesin motor.

Sejak Markesot memandu Sapron menata kebenaran mesin motor dan mobil, dan menegas-negaskan keluaran di duburnya, orang-orang di sekelilingnya menjuluki Markesot sebagai Ahli Dubur.

***

Kalau Anda punya motor, menaikinya tiap hari untuk pulang pergi bekerja, mengantarkan anak ke sekolah, mengawal istri berbelanja, atau mungkin sebagian dari Anda memakai motor itu sesekali untuk pergi ke tempat yang Anda jaga jangan sampai diketahui oleh istri dan keluarga Anda, Markesot punya saran, meskipun tanpa menyetujui hal yang terakhir yang istri Anda tidak boleh tahu itu.

Saran Markesot adalah, “naiki dan nikmatilah motormu, kuasai bagaimana mengendalikannya, pahami sedikit pengetahuan standard tentang mati hidupnya mesin, membesarkan mengecilkan saluran bensin, nyetel stasioner, bongkar pasang roda dan beberapa kebisaan elementer. Tetapi Anda tidak perlu mencari tahu terlalu jauh”

“Tidak usah mencari pengetahuan tentang siapa saja nama orang-orang yang dulu bertugas memasang alat-alat sehingga menjadi motor Anda. Siapa penemu awal teknologi motor itu. Siapa pemegang hak patentnya. Namanya siapa, punya anak berapa, kelahirannya kapan, alamatnya di mana, di desa atau kota, RT RW RK berapa, hobinya mancing atau medsosan”

“Apalagi mempelajari sampai detail tentang bahan logam apa saja yang dipakai untuk mengkonstruksi motormu. Sasisnya logam apa, bempernya, roda dan jerujinya, kaca spionnya dibikin sendiri oleh pabrik motor atau pesanan dari pabrik kaca. Kalau ternyata pesanan, siapa pemilik pabrik kaca itu. Modal perusahannya dari warisan keluarga atau pinjam uang dari Bank. Si pemilik perusahaan itu punya penyakit apa, sudah berobat ke dokter mana, pengobatannya medis modern atau tradisional”

“Anda juga tidak perlu meneliti peta pasar motor internasional. Yang paling laku di Negara mana. Bagaimana sistem pembelian atau pengkreditan yang diselenggarakan. Ketika perusahaan motor itu mengeksport produk motor mereka ke sini, pakai nyogok pejabatnya atau tidak. Kalau nyogok, berapa. Nyogok sekali atau setiap kali memasok motor-motor. Yang disogok satu pejabat atau banyak, satu kantor atau banyak, satu pintu atau semua pintu. Bagaimana uang sogokan itu dituliskan di buku manajemen perusahaan, diletakkan di lajur CSR, zakat, infaq, shadaqah atau uang iseng atau apa klausul lainnya”

“Adapun pejabat yang disogok, diteliti bagaimana penerapan uang sogokan itu dalam keuangan keluarganya. Apakah istri dan anak-anaknya tahu. Apakah uang haram itu dipakai untuk beli beras dan lauk untuk dimakan sekeluarga, serta dibelikan susu untuk diminum bayinya. Apakah sebagian uang sogokan itu dipakai untuk menyumbang pembangunan Masjid atau Gereja atau Kuil. Atau mungkin menyumbang khitanan massal. Dipakai untuk biaya umroh, membelikan semen dan genteng untuk pembangunan gedung Pesantren. Atau untuk membeli sekian ratus mushaf Al-Qur`an dan dibagi-bagikan ke Madrasah Penghapalan Qur`an. Dan banyak kemungkinan lagi, yang memerlukan seribu halaman lagi untuk dituliskan”

***

Kata Markesot, penelitian dan pengetahuan yang berderet-deret dan bertumpuk-tumpuk di atas itu adalah wilayah kewajiban kaum ilmuwan dan para ahli Tafsir.

“Kalian dan kebanyakan orang tidak menanggung kewajiban semacam itu, dan tetap berhak memakai motor, menaikinya, mendayagunakan dan menikmatinya”

“Sebagian dari manusia dianugerahi oleh Tuhan kemampuan menggali ilmu sehingga mereka bekerja sebagai Ahli Analisis dan Interpretasi, alias Mufassir atau Ahli Tafsir. Kebanyakan manusia termasuk kita-kita ini mungkin memang tidak disuruh oleh Tuhan untuk menjadi Mufassir. Kita semua sekedar Mutadabbir. Orang yang ber-tadabbur. Orang yang men-tadabbur-I Al-Qur`an”

Apakah mereka tidak men-tadabbur-i Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?’ Tuhan memfirmankan itu di surah Muhammad kekasih-Nya. Firman itu berupa pertanyaan, padahal kan tidak mungkin Tuhan bertanya. Bentuk pertanyaan itu mestinya semacam retorika atau strategi komunikasi untuk lebih menonjok ke hati dan pikiran pihak yang difirmani”

Kata Markesot, kalau tafsir, syaratnya adalah pencapaian kebenaran ilmu dan pengetahuan. Kalau tadabbur, kriterianya adalah bertambahnya kebaikan dan iman pada diri manusia.

“Kalau tadabbur, ayatnya jelas di Surah Muhammad”, kata Markesot, “Kalau tafsir, saya belum tahu mana ayatnya, saya cari belum ketemu…”