Daur (159)

Manusia Terlalu Sibuk Manusia

Ta’qid : “Sampai sekian abad tetap berada dua langkah di belakang posisi ‘mengetahui Tuhannya’, karena yang ia sangka ‘dirinya’ ternyata bukanlah dirinya”

Manusia terlalu sibuk manusia. Manusia terlalu sibuk sebagai manusia. Manusia terlalu peduli pada dirinya sebagai yang ia sangka benar-benar, sungguh-sungguh, sebelum dan sesudahnya, adalah manusia.

Kebanyakan manusia berpikir statis, sehingga mereka menyangka bahwa mereka benar-benar diri-manusianya itu, tanpa dinamika pengamatan terhadap sangkan-nya dan kemudian paran-nya. Kebanyakan manusia tidak mampu membebaskan diri dari pengetahuan sempitnya tentang dirinya sendiri.

Manusia menyangka bahwa dirinya adalah absolut-manusia. Terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa ia adalah immanen-manusia, niscaya-manusia. Kebanyakan manusia hingga akhir saat penugasannya sebagai manusia, berkeyakinan bahwa ia adalah benar-benar manusia.

Padahal ia hanya efek dari kemauan Penciptanya.

Ia hanya akibat dari cinta Tuhan kepada Cahaya Terpuji yang Ia ciptakan di awal mula, jauh sebelum Ia ciptakan ruang, waktu, jagat raya dan sejumlah staf-Nya.

Manusia hanya cipratan beberapa saat dari Diri Sejati yang memuaikan sebagian kecil dari Diri-Nya.

Manusia hanya ilustrasi dari rasa “bermain dan bersenda gurau” yang diasyikinya sesudah Ia memuji sendiri Cahaya ciptaan-Nya.

Manusia seharusnya tahu bahwa ia sebaiknya melibatkan diri dan bergabung dalam perasaan cinta Maha Pemuainya, Maha Pencipratnya, serta Maha Penikmat keasyikan-Nya – yang antara lain memerlukan ciptaan yang kemudian dinamakan manusia.

IT yang dahsyat, yang secara sangat radikal dan revolusioner mengubah peradaban perilaku ummat manusia, sesungguhnya adalah suatu perangkat thariqat dengan syariat yang sebenarnya sudah menyentuh sebagian haqiqat dan mencapai beberapa tahap ma’rifat – yang dengan itu terbuka gerbang menuju pelibatan diri manusia terhadap ‘isyiq kehendak Maha Penciptanya.

Andaikan langkah primer IT adalah memasuki gerbang itu, maka ummat manusia akan sangat tertolong untuk mempelajari, mendapatkan dan mengalami kesejahteraan yang sejati, kebahagiaan dan kenikmatan yang jauh melampaui kenikmatan semu yang selama berabad-abad diperebutkan oleh sesama manusia: kekuasaan, penguasaan, kolonialisasi, materialisme, kapitalisme, industri-industri pembengkakan kebodohan dan penyebaran takhayul.

Bahkan ummat manusia bisa ditolong untuk memperoleh kebahagiaan yang biaya materiilnya sangat rendah, karena lebih banyak diperlukan perjuangan software dalam diri setiap dan semua manusia sendiri: konsentrasi ke dalam, kekhusyukan, intensitas rasa cinta, kesetiaan berkasih sayang, dengan landasan istiqamah iman.

Jika manusia memasuki gerbang itu, mereka akan memperoleh peluang sangat efektif untuk bergembira dan berbahagia. Serta tidak mengucapkan atau mendengarkan kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” sebagai kabar duka.

Tetapi tidak demikian sama sekali yang terjadi. Manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, tetapi tidak melalui jalan yang akan membawa mereka ke suatu titik pemahaman atas dirinya sendiri. Manusia salah sangka atas manusia. Diri manusia menjadi tak kunjung mencapai kesadaran atas diri manusia. Manusia melangkah dengan keangkuhan untuk memahami dan menaklukkan segala sesuatu di luar diri mereka, menguras alam, mengeruk bumi, menguasai sesamanya, sehingga tidak punya peluang untuk mengurusi pemahaman atas dirinya sendiri.

Manusia yang sempat mengenal informasi tentang “barang siapa mengetahui dirinya, maka ia mengetahui Tuhannya”, sampai sekian abad tetap berada dua langkah di belakang posisi “mengetahui Tuhannya”, karena yang ia sangka “dirinya” ternyata bukanlah dirinya.

Akhirnya Bumi tempat persinggahan perjalanan panjang mereka, hanya menjadi arena pemakaman bagi manusia-manusia yang mengakhiri kesadaran perjalanannya dalam rentang waktu yang amat sangat pendek.

Bahkan menjadi kuburan-kuburan bagi sangat banyak manusia yang menjadi korban dari sebagian manusia lainnya, yang tak henti-henti melakukan pertengkaran, perang, permusuhan, kebencian, perseteruan, bahkan pemusnahan – yang semua itu tidak lain merupakan manifestasi dari kesalahpahaman manusia atas dirinya sendiri.

Semesta IT bahkan membuat penguasaan dan penaklukan antar manusia menjadi sangat efektif secara ruang dan efisien secara waktu. Bahkan sangat canggih membuka shortcut pintu-pintu penghancuran.