Daur (180)

Manusia Rahmatan Lil’alamin

Ta’qid : Sehingga apapun yang kau lakukan, kau ciptakan, kau bangun, kau susun, kau dirikan dan tegakkan – tetap berposisi ‘miring-tauhid’.

Ketika bangun pagi itu, Markesot merasakan dirinya seperti tabung kosong, kering dan dingin. Sesekali angin bergerak pelan menyapu tengkuknya, membawa gemeremang bunyi ribuan kata, yang belum mereda sejak tadi malam menyerbunya.

Berseliweran bayangan-bayangan mengepungnya. Beribu wajah, beribu peristiwa, beribu pengalaman, beribu derita dan kegembiraan, beribu keriuhan dan sunyi. Ratusan tahun peradaban manusia, memuai kesempitannya, menguncup kesemestaannya. Ummat manusia meloncat keluar dari diri mereka masing-masing dan bersama-sama, mempelajari dunia dan jagat raya, membangun kehebatan, kegagahan dan kemewahan — sampai tak ada waktu untuk mengenali diri mereka sendiri.

Ummat manusia mengembangkan keahliannya untuk membangun keduniaan di dunia, sambil meragukan akherat, sorga dan neraka di kedalaman jiwanya. Yang unggul di antara mereka mengembangkan keahliannya untuk menyusun ilmu dan peradaban tipu muslihat, teknologi adu domba. Yang mayoritas di antara mereka digiring, diseret, dihimpun dan disandera di kutub-kutub, di petak-petak dalam setiap kutub, di kotak-kotak yang jauh dari katulistiwa, dengan kaki mereka berpijak di petak-petak itu. Ummat manusia berposisi miring satu sama lain, bahkan bersilangan dan garis-garis kuda-kuda hidup mereka bertentangan dan bertabrakan satu sama lain.

Jika engkau manusia universal, tidak masalah akan tinggal di ujung sebuah kutub, terserah kutub manapun. Sebab kesadaran universalitasmu mentakdirkan posisi berdiri segaris dengan poros antara pusat bumi dengan ujung arasy. Asalkan engkau manusia rahmatan lil’alamin, maka setiap titik di bumi adalah garis gravitatif yang berentang tauhid kepada Allah.

Tapi kalau posisimu adalah manusia petak, manusia kotak, manusia jengkal, manusia lokal, dan kesadaranmu sudah direkayasa menjadi kesadaran kutub, dan bukan kesadaran katulistiwa, maka engkau selalu mengalami kemiringan tauhid. Sehingga apapun yang kau lakukan, kau ciptakan, kau bangun, kau susun, kau dirikan dan tegakkan — tetap berposisi ‘miring-tauhid’.

Di dalam penataan otoritas hakekat kewajiban dan hak, di dalam aplikasi politik dan kekuasaan, engkau harus membagi diri untuk bermusuhan satu sama lain menjadi pro-Barat atau Timur, blok-Utara atau Selatan, Sosialis atau Kapitalis, Liberal atau Konservatif, Religius atau Sekuler, bahkan secara nasional kalian menjadi manusia PDIP atau Golkar, Gerindra atau PKS, Hanura atau PPP, PBB atau PKB.

Lebih terkeping-keping lagi karena PDIPmu bukan PDIP sebagaimana yang PDIP memperkenalkan dirinya sebagai PDIP. Juga kotak-kotak yang lain, yang merahnya tidak sungguh-sungguh merah, yang putihnya pura-pura putih. Bahkan lebih parah karena sesudah di wilayah atas petak-petak itu berhimpun menjadi sebuah rumah, ternyata di level bawah-bawahnya susunan petak-petaknya tidak sama komposisinya dengan yang di atas.

Lebih hancur lagi karena perbedaan komposisi petak-petak untuk mengaplikasi hak politik itu tidak disusun berdasarkan kemerdekaan berpendapat dan kesucian aspirasi, melainkan berdasarkan tawar menawar finansial dan laba material. Kemudian keadaan itu memastikan diri untuk hampir mustahil dibenahi atau diperbaiki, karena setiap kata yang diucapkan dalam setiap ekspresi petak-petak maupun rumah itu, tidak benar-benar dimaksudkan sebagaimana maka denotatif dari kata itu.

Setiap denotasi kata dikonotasikan, demi kepentingan uang dan keawetan kekuasan. Kemudian konotasi-konotasi yang dipakai untuk memanipulasi denotasi itu akhirnya diteguhkan sebagai denotasi baru. Lantas setiap denotasi baru mengalami nasib konotatif yang sama, secara terus menerus. Sehingga siklus denotasi-konotasi berlangsung secara simultan, menyusun bangunan oportunisme nilai, kemunafikan sikap dan pengkhianatan politik.

Ketika kata ‘rakyat’ disebut, yang dimaksud bukan benar-benar rakyat, apalagi sungguh-sungguh untuk rakyat. Rakyat adalah komoditas terunggul di setiap jual beli kekuasaan. Sebagaimana kata ‘demokrasi’ adalah korban utama dari manipulasi denotasi dan pemanfaatan konotasi. Demikianlah juga peradaban ummat manusia yang Markesot ketelingsut di tengah-tengahnya itu mengkonotasikan denotasi makna Negara, Pemerintah, pembangunan, hukum, keadilan, kemajuan, peningkatan, pemerataan, dan beratus-ratus kosakata kekuasaan lainnya yang babak belur maknanya.

Universalitas rahmatan lil’alamin dibagi-bagi dan dipersempit menjadi lingkup nasionalisme, kemudian dipetak-petakkan lagi menjadi golongan dan kelompok, diserpihkan lagi menjadi organisasi massa dan organisasi sosial politik, kemudian dikeping-kepingkan lagi sampai menjadi serbuk kasar oleh pengkonotasian denotasi-denotasi di setiap tahap aplikasi penyempitan itu.

Bagaimana caranya manusia sebagai dirinya sendiri maupun sebagai ummat, masyarakat dan bangsa akan mengelak dari kehancuran yang mereka selenggarakan sendiri itu? Padahal setiap manusia dirancang Penciptanya untuk menghembuskan nafas rahmatan lil’alamin, karena kualitas ahsani taqwim mereka diracik oleh Allah lebih besar dari al’alamin itu sendiri.

Tetapi kebanyakan mereka tidak berdiri di garis tauhid.