Daur (303)

Manusia Dalam Gelembung

Tahqiq : “...dengan rencana jangka panjang menjadikan mereka sebagai jongos-jongos penjajah. Tidak perlu berdoa atau beristighotsah kepada Tuhan, insyaallah tujuan itu akan tercapai dengan sempurna....”

Seger sangat panjang pemaparannya.

“Kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada sekarang yang berkaitan dengan utang luar negeri dan penanaman modal asing merupakan kelanjutan dari kebijakan-kebijakan sejak era yang pro pasar bebas. Tetapi dengan ukuran dan volume yang sangat melebihi batas. Sedemikian rupa sehingga sesungguhnya hakikat maupun fakta bahwa ini adalah Negara, sudah batal”.

“Artinya, negara tidak pernah meninjau kembali arah dan kebijakannya terutama yang berkaitan utang luar negeri dan modal asing, dan ini berarti negara tak pernah melihat secara serius hal kedaulatan Bangsa dan Negara. 260 juta penduduk Negeri ini berkeluarga dan membuat anak-anak cucu-cucu dengan rencana jangka panjang menjadikan mereka sebagai jongos-jongos penjajah. Tidak perlu berdoa atau beristighotsah kepada Tuhan, insyaallah tujuan itu akan tercapai dengan sempurna”

“Penduduk hampir dua ratus Negara-Negara di dunia seratus persen bebas masuk ke tanah air kita, berhak memiliki properti apapun di sini, berhak seratus persen menguasai industri gula dan karet, sepenuhnya berhak memiliki saham seratus persen restoran dan perusahaan-perusahaan. Delapan puluh lima persen berhak memiliki saham ventura. Seratus persen modal perusahaan pembangkit listrik, bioskop serta tiga puluh lima bidang usaha lainnya di tanah air yang dilantik oleh “germo”nya untuk menjadi pelacur. Belum lagi boleh menguasai tujuh bidang usaha Pariwisata, pengelolaan Jalan Tol, Bandara dan Pelabuhan, serta atas berkat Allah Swt sangat bisa dikembangkan menjadi penguasaan atas laut, darat, nyawa, tubuh, dan roh setiap dan seluruh penduduk tanah air yang ditipu oleh Negaranya sendiri ini”

Seger mengungkapkan bahwa itu semua hanya pokok-pokok pemaparan. Sesungguhnya semua itu bisa direntangkan secara detail dari berbagai sisi pandang, termasuk akibat-akibat buruknya secara sosial, budaya, psikologis, mental dan apa saja. Pada hakikatnya bangsa ini sudah direndam di dalam api neraka. Meskipun daya adaptasi rakyat Negeri ini sangat ajaib terhadap betapa panas dan menyiksapun api nereka itu, terhadap segala jenis penderitaan dan kesengsaraan.

Sedemikian rupa sehingga seluruh penduduk dunia terkagum-kagum, bahwa rakyat di rentangan bumi khatulistiwa ini di dalam sejumlah penelitian, merupakan kumpulan manusia yang ternyata tetap paling banyak senyum, banyak tertawa, berwajah ceria. Bercahaya gembira, berperilaku asyik. Tidak mengalami stres. Tidak ada frustrasi massal sampai tingkat yang menghancurkan hati dan jiwa mereka. Angka bunuh diri tidak sepadan dengan kadar kesengsaraan mereka. Hampir tidak punya kecengengan, kecuali mereka yang tinggal di perkotaan.

Penduduk yang pandai-pandai, yang terpelajar dan bergelantungan gelar dan simbol eksistensi di pundak dan dadanya – sibuk mempertengkarkan persangkaan-persangkaan diri yang diciptakan oleh penjajah untuk memecah-belah mereka. Orang-orang di desa sudah lama memproklamasikan dirinya sebagai orang kecil, rendah, dan bodoh. Orang-orang kota bertengkar memperebutkan pengakuan bahwa masing-masing adalah pinter, sedangkan yang lainnya bodoh.

Ada banyak kosakata, istilah, idiom atau formula bahasa yang berkaitan dengan lingkungan makna pandai dan bodoh. Misalnya paham, salah paham, gagal paham, mengerti, mafhum, cerdas. Atau ke subjeknya: akal, pikiran, nalar. Atau variabel dari bahasa lain: mudheng, dhong, bodho, pekok, mendo, dungu, mahir, dzaki, ahmaq. Itu mereka pegang di tangannya sebagai batu-batu kutukan untuk mereka lemparkan ke wajah siapapun yang bukan mereka.

Yang satu disebut dan menyebut dirinya Liberal. Yang lain dikasih stempel dan mensetempel dirinya sendiri sebagai Radikal. Lainnya lagi Konservatif, Ortodoks, Fundamentalis, Moderat. Mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok dengan memilih nama salah satu dari istilah-istilah itu. Mereka berhimpun dalam kotak-kotak, di garis-garis, aliran-aliran, kubu-kubu, madzhab-madzhab, sekte-sekte.

Mereka, manusia-manusia yang diciptakan Tuhan dengan utuh, dimasukkan ke dalam gelembung-gelembung dan monofenomena pada masing-masing gelembung itu. Seolah-olah ada manusia yang khusus dibikin oleh Tuhan sebagai makhluk liberal, lainnya radikal, lainnya lagi moderat. Dan mereka yang terpelajar dan menyandang kostum kemajuan itu mau direduksi kemanusiaannya dan dijejal-jelalkan di dalam retakan-retakan.

Padahal Tuhan menciptakan mereka sebagai jagat makro yang di dalam jiwa mereka terkandung semua kemungkinan-kemungkinan itu, secara lebih sempurna dibanding makhluk-makhluk lainnya.