Daur (253)

Manajer Tauhid

Tahqiq : “...di mana-mana baik-baik saja. Orang-orang tersenyum dan tertawa. Semua serba tenang. Mal, toko, pasar selalu penuh. Restoran, warung, dan angkringan tetap berputar keras keuangannya. Hobi-hobi tetap dijalankan: memancing, reuni-reuni, klub motor, arisan dan banyak lingkaran-lingkaran sosial lain yang bergerak dan berputar. Tempat-tempat ibadah meriah....”

Brakodin tiba-tiba menyela dengan pertanyaan kepada Jitul.

“Saya pikir-pikir, Tul, apakah zaman ini darurat atau tidak, bangsa ini hancur atau tidak, Negara ini rusak atau tidak, sebenarnya tergantung pada filosofi hidup dan parameter ilmu yang digunakan. Bagi kamu, dan mungkin kita semua, ini keadaan rusak, hancur, dan darurat. Tetapi secara nasional apakah ada kesadaran publik atau anggapan umum bahwa keadaan sedang hancur?”

“Saya tidak membantah itu, Pakde”, kata Jitul, “meskipun tidak sepenuhnya….”

“Perhatikan ke sekeliling”, Brakodin meneruskan tanpa memperhatikan respon Jitul, “di mana-mana baik-baik saja. Orang-orang tersenyum dan tertawa. Semua serba tenang. Mal, toko, pasar selalu penuh. Restoran, warung, dan angkringan tetap berputar keras keuangannya. Hobi-hobi tetap dijalankan: memancing, reuni-reuni, klub motor, arisan dan banyak lingkaran-lingkaran sosial lain yang bergerak dan berputar. Tempat-tempat ibadah meriah, orang melakukan upacara-upacara dan tradisi untuk Tuhan, Nabi, Wali atau Kiai. Doa-doa terus dilantunkan, bahkan massal di lapangan-lapangan. Istighotsah, mujahadah, tahlil, haul, tak pernah berhenti diunjuk ke langit, meskipun belum pernah diidentifikasi, diteliti atau didata berapa prosentase kabul dan tidaknya….”

Jitul tidak sabar untuk tidak memotong.

“Sebenarnya, Pakde, tidak bisa dipastikan bahwa itu semua merupakan cerminan bahwa keadaan masyarakat sedang baik-baik saja. Mbah Markesot sering bercerita bahwa ke manapun beliau pergi, dengan siapapun beliau bertemu, yang beliau hadapi adalah keluhan, protes, dan kebingungan. Dan hampir seratus persen keluhan masyarakat adalah tentang hal-hal yang menyangkut pengelolaan materialisme: ketidakmerataan ekonomi, kesenjangan keuangan, kepalsuan politik, manipulasi demokrasi, pencurian-pencurian harta rakyat yang ukurannya tidak bisa ditandingi oleh keadaan di Negara lain manapun….”

“Siapa tahu keluhan-keluhan itu berasal hanya dari bagian masyarakat yang tidak kebagian kesejahteraan”, Sundusin menyela, “Sementara yang dikemukakan Pakdemu Brakodin tadi adalah pemandangan dari masyarakat lain yang mendapat bagian lumayan dari peta kesejahteraan nasional, meskipun di dalamnya terkandung ketidakadilan, kecurangan, dan pencurian”

Tarmihim menambahkan dengan tertawa. “Kan Mbahmu Markesot memang hanya berjodoh dengan orang-orang yang segelombang dengannya: yang miskin. Yang tertatih-tatih di tepian zaman, jauh dari pusat kekuasaan dan uang. Yang tidak memiliki api untuk berebut dan ambisi untuk bersaing. Dan terutama karena Mbahmu Markesot sama sekali tidak punya naluri dan bakat untuk berdagang, meskipun di luar itu banyak kemampuan dan akses yang beliau miliki”

“Tidak benar itu”, Brakodin membantah, “Cak Sot pernah bilang kepada saya bahwa sekitar 40 tahun silam ia pernah berdagang. Dan sukses, meskipun belum besar-besaran. Selalu menang dalam persaingan dan perebutan. Hal itu membuat Cak Sot menderita hatinya, karena muncul rasa tidak tega kepada pesaing-pesaing yang dikalahkannya….”

“Itu baru dengar saya, Pakde”, Junit nongol suaranya.

“Jadi ternyata Mbah Sot pernah jadi pengusaha, Pakde?”, Toling muncul juga.

“Belum sampai bisa disebut pengusaha”, jawab Brakodin, “sekadar melakukan usaha kecil-kecilan”

“Itu pengusaha juga namanya”, kata Junit.

“Cak Sot pernah bilang kepada saya”, Brakodin meneruskan, “bahwa kebanyakan orang menyangka Cak Markesot bukanlah dirinya. Ada yang menganggap dia Dukun, Pemikir, Kiai, Preman, perekat antar manusia dan ummat, bahkan diam-diam dia seorang Qori` juga, dan macam-macam persangkaan lainnya. Padahal menurut Cak Sot sendiri, keahlian utamanya yang ia terima dari Tuhan adalah keterampilan manajemen….”

“Mbah Sot manajer?”, Jitul bertanya agak naik suaranya.

“Mbah kalian itu mengatakan bahwa kata manajer dan manajemen selalu hanya dikaitkan dengan urusan membengkaknya uang, materi, dan laba. Memang Mbahmu pernah membuktikan ia mampu di ranah itu. Tetapi yang dimaksud manajemen oleh Mbahmu adalah manajemen sosial. Manajemen perhubungan antara  manusia dan kelompok-kelompoknya masing-masing. Manajemen silaturahmi dan komunikasi. Manajemen pembersatuan dan kemesraan. Hakikat dan hulu-hilir semua itu sesungguhnya adalah manajemen Tauhid….”

“Haaa itu juga baru dengar saya, Pakde”, Junit teriak.

“Kata Mbahmu Markesot: Agama adalah wacana dan training manajemen Tauhid. Dari yang mikro hingga makro. Dari horisontal hingga vertikal. Dari dunia hingga akhirat hingga dunia-akhirat dan akhirat-dunia. Dari segmen-segmen dan complongan-complongan pembersatuan kecil-kecil di antara manusia hingga penyatuan kembali dengan Tuhan. Andaikan Mbahmu Markesot memperoleh mandat dari Tuhan, sesuai dengan anugerah-Nya kepadanya, maka Mbahmu sudah memiliki bekal kepemimpinan untuk mengelola pembersatuan, pemersatuan, penyatuan seluruh dimensi-dimensi itu, dengan semua konteks dan skalanya hingga ilaihi roji’un….”.