Daur (210)

Mana Banjir Nuhnya?

Ta’qid : “Bahkan sedang serius menelusuri apakah ada Rasul atau Nabi yang pernah mengalami jenis kekisruhan manusia, kehinaan bangsa dan kebobrokan sistem sosial seperti yang sedang berlangsung di Indonesia”

Ndusin memperdengarkan rekaman pembicaraan sangat panjang Markesot, yang ia ternyata diam-diam merekamnya, tatkala ia menemani Tarmihin mendengarkan orang tua itu.

“Kok makin ruwet ya Cak Sot”, komentar salah seorang teman.

“Tapi memang begitu keadaan dunia dan zaman sekarang ini”, seorang lainnya menyahut.

“Apa ketika kita dulu di Patangpuluhan keadaan belum seruwet sekarang?”

“Sebagian memang sudah ruwet”, jawab Sundusin, “tapi ada bagian-bagian lain yang sekarang ini memuncak keruwetannya”

“Tetapi beda tanggapan Cak Sot dulu dengan sekarang”, bantah teman yang pertama, “dulu Cak Sot langsung membawa kita-kita ke jalan keluar yang efektif dan sederhana. Kita menjadi tenang dan terus tahan banting melayani tantangan-tantangan hidup. Kalau sekarang rasanya kok kita ditimbuni, dikeluhi, disambati, dituangi cairan-cairan panas, kumuh dan berbau busuk… Begitu yang saya rasakan”

Tanpa sengaja Ndusin salah menekankan jarinya ke layar telepon genggamnya, sehingga terdengar suara Markesot:

“Itu semua sedang membawa ummat manusia ke jurang konflik yang tidak mungkin bisa diakhiri oleh ilmu mereka sendiri. Ada konflik pemilikan darat dan kekuasaan laut di antara Negara-negara. Ada konflik hukum, tarik-tambang nilai-nilai, penyerbuan kebudayaan sampai tingkat pemusnahan kemanusiaan. Ada perang yang tampak dan bisa dihitung. Ada perang yang tak tampak dan bagaikan asap bergulung-gulung yang sangat sukar ditemukan tepiannya…”

“Iya kan, jadi seram dan rumit”, kata teman yang pertama lagi, “hidup ini jadi waswas, rasanya dikepung oleh beribu-ribu hantu yang kita tak bisa melihatnya tapi ditimpa oleh deraan-deraannya”

Teman yang lain menyambung, “Dulu saya ingat Cak Sot bilang bahwa beberapa abad yang lalu kakek Pujangga sudah mengeluhkan hal-hal tentang zaman edan. Cak Sot bilang: apakah ada zaman yang tidak edan? Zaman Jahiliyah yang diberantas oleh Nabi Muhammad kan juga zaman yang tak kurang edannya. Nabi Nuh sampai disuruh Tuhan bikin bahtera raksasa untuk mengangkut ratusan orang dan ribuan pasang hewan, itu juga karena zaman sudah edan. Bahkan Nabi Adam pun di awal generasi ummat manusia sudah mengalami zaman edan yang dirintis oleh putranya sendiri”

Tarmihim tertawa. “Jadi lebih edan mana manusia sekarang dibanding era Habil-Qabil?”

“Ketika itu penghuni bumi hanya beberapa orang, jadi tidak ada pembunuhan massal, hanya orang per orang”

“Apakah di abad 20-21 ini ada trend di mana seseorang membunuh kakaknya sendiri karena cemburu atau dengki?”

“Di generasi awal Adam itu belum ada perangkat-perangkat, metode-metode dan ragam sasaran pembunuhan. Hanya ada pembunuhan konvensional-manual. Sekarang ada pembunuhan karakter, pembunuhan citra, pembunuhan harga diri, pembunuhan akses dan aset, pembunuhan samar dan tak kentara. Habil mati dibunuh dan total mati secara jasad. Sekarang orang hidup bisa diperlakukan sebagai orang mati, ditiadakan, dipersonanongratakan, ditutup pintu-pintu kehidupannya, adanya dianggap tidak ada, atau adanya dimanipulasi, ada-A di-B-kan atau sebaliknya.”

“Benar”, teman yang pertama menyambung, “keedanan zaman modern menyediakan lembaga-lembaga pengadaan dan peniadaan, melalui palu legitimasi, legalisasi, klaim-klaim kekuasaan yang bersifat institusional — yang di era Adam belum ada. Eksistensi manusia dipotong-potong, orang punya wajah tapi yang diekspos hanya pantatnya, orang punya kebaikan 99% tapi yang diumumkan adalah 1% cacatnya”

“Yang terjadi sekarang bukan hanya pembunuhan, tapi juga penyiksaan dan penghinaan atas martabat kemanusiaan. Sesudah seratus tahun berlangsung kehidupan sesudah Adam baru ada kesadaran tentang ‘fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan’. Dan untuk melakukan itu alat-alatnya sangat melimpah, melalui kekuasaan politik, dominasi informasi, monopoli mikrofon, buku-buku di Sekolah, teks-teks sejarah versi pemenang, dan hampir semua manusia hanya mengetahui satu hal tentang kehidupan: yakni apa kata pihak yang menang. Kemudian ia meyakini itu sebagai satu-satunya kebenaran. Dan atas dasar itulah ia berjalan sebagai manusia, melangkah sebagai warga negara, berbuat sebagai pelaku Agama”

Tarmihim mengejar, “Kalau memang kadar edannya zaman sekarang ini melebihi keedanan zaman-zaman yang lalu, kenapa Tuhan tidak menenggelamkan dunia dengan banjir banding dan serbuan air bah ke seluruh permukaan bumi sebagaimana yang dialami oleh Nabi Nuh? Apakah perilaku gila masyarakatnya Nabi Nuh lebih parah edannya dibanding masyarakat zaman sekarang?”

“Kalau melihat yang saya simpulkan dari ungkapan-ungkapan Cak Sot setahun terkahir ini”, kata Sundusin menambahi, “tingkat keedanan zaman yang sedang kita jalani sekarang ini memang benar-benar memuncak komplikasinya. Cak Sot bahkan sedang serius menelusuri apakah ada Rasul atau Nabi yang pernah mengalami jenis kekisruhan manusia, kehinaan bangsa dan kebobrokan sistem sosial seperti yang sedang berlangsung di Indonesia”.

Tarmihim memuncakinya: “Jadi sudah sempurna alasan kebobrokan zaman ini bagi Tuhan untuk menurunkan adzabnya. Kapan banjir Nuh akan datang? Kapan adzab Nuhy, Hudy, Luthy, Shalihy, Fir’auny dan Muhammady ditimpakan oleh Tuhan ke bumi? Mungkin saya tidak terlalu siap untuk dihisab oleh Allah, tapi rasanya tidak ada masalah gagal panen Lombok asalkan Tuhan berkenan memperbaiki kehidupan di bumi, sekurang-kurangnya di Negeri Khatulistiwa ini, terserah dengan mukjizat, adzab, qudroh, rahmah atau apapun. Kalau memang dianggap sudah saatnya qiyamah ditiup terompetnya oleh Malaikat Isrofil, saya akan riang gembira menyongsongnya….”