Daur (132)

Malaikat Air Mata

Ta’qid : Kebanyakan manusia tidak merasa ada kerusakan apa-apa yang serius pada kehidupan dunia dan pada diri mereka.

Markesot menyimpan getaran dan menyembunyikan dirinya sedemikian rupa.

Saimon terpana. Ia bergerak ke dekat duduknya Markesot. Ia menatap warna demi warna yang kebanyakan belum pernah ia melihatnya. Sangat ingin ia mencabut diri untuk menyusuri jejak kenikmatan perjalanan Markesot, tetapi ditahan oleh keinginannya yang lain, yakni menatap itu semua dari suatu jarak. Bisakah dari suatu rentang jarak, menatap pergolakan di langit, di mana jarak menyatu dan menari bersama dengan semua yang dijarakinya?

Tidak. Bertasbih kepada-Nya segala apa dan semua siapa di Langit maupun Bumi. Tak ada yang bukan apa. Tak ada yang bukan siapa.

Jarak, jauh, dekat, semua bermakmum di belakang Baginda Nur Muhammad. Jika Sang Kekasih Utama mendirikan shalat, membungkukkan ruku’, membenamkan sujud dan melantunkan pepujian dan cinta kepada Allah — mungkinkah ada apa atau siapa yang tersisa, yang tidak merasa sayang, yang tidak merasa eman, untuk tak bermakmum padanya?

Tiba-tiba Saimon menyadari bahwa ia meneteskan air mata. Awal-awalnya cuma setetes dua tetes, tapi ternyata tak surut. Air matanya terus menetes dan akhirnya mengucur. Saimon menangis. Seolah-olah ia adalah seorang manusia.

Hatinya tertikam oleh rasa bersalah kepada Markesot. Ia selalu menyindir-nyindir, menggoda-goda dengan sinisme, terkadang mengejek, bahkan tak sengaja sampai tingkat menghina dan sesekali keluar makian dari mulutnya.

Markesot adalah sahabat sejatinya, dan mudah-mudahan bagi Markesot ia adalah juga sahabat sejatinya. Belum sampai ratusan tahun mereka saling mengenal, tapi sekurang-kurangnya sudah hampir satu abad mereka berkenalan, berinteraksi, saling belajar, menggali, menyerap, menumpahkan.

Kalau mereka bertemu biasanya selalu tertawa-tawa, bersenda gurau sampai tingkat yang bisa keterlaluan. Tetapi canda tawa mereka bukanlah ungkapan kegembiraan atau kenikmatan. Dengan sedikit saja kadar kecerdasan, siapapun langsung mengerti bahwa tertawa-tawa mereka sesungguhnya mencerminkan suasana hati mereka yang sebaliknya.

Saimon banyak mengeluhkan kerusakan-kerusakan mental di kalangan Jin. Markesot pun demikian, mencurahkan sesambatan-nya tentang kehancuran rohani manusia – meskipun manusia sendiri kebanyakan tidak merasa sedih, merasa tidak kurang suatu apa. Kebanyakan manusia tidak merasa ada kerusakan apa-apa yang serius pada kehidupan dunia dan pada diri mereka.

Situasi manusia yang demikian, Saimon tahu, memuncakkan tangis Markesot, jauh di kedalaman batinnya.

“Andaikan hidup ini tanaman”, Saimon berkata dalam hatinya, “Markesot itu kembang. Bunga. Ia merekah dan menginformasikan harapan. Optimisme menuju bebuahan di masa depan. Tapi bunga adalah yang terlemah di antara unsur lain di tanaman. Ia paling indah, tapi sebenarnya paling tak berdaya. Ia seolah-olah garda depan suatu dinamika perjuangan, tapi sesungguhnya justru ia yang paling butuh perlindungan”

Hampir Saimon tertawa dan terlepas dari kesadaran prihatinnya terhadap sahabatnya. Tapi bersamaan dengan itu semakin banyak menetes air matanya.

“Andaikan Tuhan punya kekhilafan, dan keliru menempatkan takdir, sehingga menempatkan Markesot menjadi Nabi”, Saimon membatin lagi, “maka tampaknya Baginda Isa lah ia”

Memang wajah sahabatnya itu hampir sekeras Baginda Musa, sesedih Baginda Ayub dan selelah Baginda Nuh. Rambutnya tidak seluruh dan selembut rambut Baginda Isa Ruh Allah. Apalagi wajahnya, yang sama sekali tidak cocok untuk berdekatan dengan karakter wajah Nabi siapapun. Tetapi takdir jiwanya adalah jiwa Baginda Isa yang marak ati.

“Wahai Allah, kenapa tak Kau jadikan sahabatku menjadi salah satu tetesan air mata beliau Dzu-Dam’iyah, Sang Malaikat Air mata”, Saimon berbisik kepada dirinya sendiri.

Saimon menangis menjadi-jadi. Sampai meleleh seluruh tubuhnya. Menjadi air. Merasuk menyatu dengan tanah di bawah pohon itu.