Catatan Sinau Bareng Dies Natalis ITS ke-56, Surabaya 12 November 2016

Makin Wungkul Cinta Kepada KiaiKanjeng

Cak Nun sangat ideologis dalam menjelaskan posisi KiaiKanjeng, sampai pada detail-detail lagu yang dipilih. Ini menyumbangkan alasan tersendiri....

Maiyahan atau Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng yang terus bergulir dari satu daerah ke daerah lain tak hanya membuat Jamaah mendapatkan banyak ilmu dan kesegaran hidup, melainkan juga membuat jamaah makin dekat dan antusias dengan KiaiKanjeng. Cak Nun sangat ideologis dalam menjelaskan posisi KiaiKanjeng, sampai pada detail-detail lagu yang dipilih. Ini menyumbangkan alasan tersendiri pada Jamaah untuk mencintai KiaiKanjeng.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Ada rasa kangen umpamanya pada penampilan Mas Imam Fatawi atau Mas Donni pada nomor-nomor tertentu yang disuka. Seperti malam ini, ketika Cak Nun membaca gejala itu, dan dan kemudian meminta Mas Imam melantunkan Beban Kasih Asmara dan One More Night-nya Maroon Five. Momentumnya pun pas, usai pemaparan-pemaparan ilmu. Termasuk saat bersama-sama para vokalis KiaiKanjeng menghadirkan Lagu Perdamaian-nya Nasyida Ria. Cak Nun melatarbelakangi bahwa penjajahan atas bangsa Indonesia ini sejarahnya sangat panjang dan berkonteks luas dalam perspektif penjajahan global.

Salah satunya adalah penjajahan yang dibikin dengan membelokkan sejarah dengan target generasi Indonesia tidak mengerti sejarah masa silam bangsanya. Nomor-nomor yang dipilih KiaiKanjeng  misalnya dari lagu tahun 60-an dan 70-an itu dalam maksud mengingatkan akan masa silam. Juga “happening art” oleh Mas Jijid di tengah lagu One More Night yang memperagakan dolanan Jawa Cublak-Cublak Suweng dan Jamuran. Sangat piawai dan hidup Mas Jijid membawakannya dengan melibatkan seorang jamaah. “Ini pendidikan yang kreatif sekaligus rekreatif,” kata Mas Jijid mengutip Cak Nun, dan disambut aplaus setuju jamaah.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pak Rektor yang notabene asli Sunda menyaksikan dengan penuh senyum dan senang, apalagi Cak Nun sempat menyampaikan pandangan ihwal sejarah masa silam Hayam Wuruk dan Prabu Siliwangi yang suatu saat harus di-recovery karena sebagian besar sejarah yang ditulis mengenai kedua tokoh itu mengandung bias Belanda dan ada maksud penjajahan di dalamnya.

Dari nomor-nomor yang asik, meriah, dan gembira, kini jamaah diajak masuk ke dala  suasana yang sublim melalui Mas Islamiyanto yang melantunkan sebuah nomor qasidah dari dunia pesantren berjudul La Tahzanu Ya Habibie. “Salah satu konstruki atau bun-yan dalam hidup ini adalah kesadaran ruang dan waktu,” ujar Cak Nun mengantarkan transisi suasana-suasana dalam deretan penampilan vokalis KiaiKanjeng barusan. Semua jamaah masuk dalam khusyuk. Dan di penghujung nomor ini, Cak Nun mengajak jamaah membacakan surat Al-Fatihah buat almarhumah Istri Mas Islamiyanto. (hm/adn)