Daur (124)

Makhluk Gagal Akal

Markesot melakukan berbagai macam gerakan dan pose-pose badan, tangan, leher, kaki dan kepala, kemudian berakhir dengan bersila. Merapatkan kedua tangannya di depan dada. Dan berkata:

“Mon, minta tolong mulutmu diistirahatkan sebentar saja. Beberapa saat. Saya memerlukan keadaan senyap yang paling permukaan, karena perlu memasuki kesunyian yang lebih dalam….”

“Gayamu…”, Saimon menyahut.

“Jangan mengajak berkelahi”, kata Markesot lagi, “Saya sudah sangat sabar membiarkanmu ngomyang mengigau begitu panjang, sampai khayalan-khayalanmu bab Iblis dan semuanya. Saya kan tidak memprotesmu. Sekarang saya cuma perlu tidak ada bunyi beberapa jenak saja”

“Khayalan bagaimana maksudmu?”

“Tolonglah, Mon. Jangan memancing debat atau duel. Semua juga tahu bahwa kamu tidak tahu apa-apa tentang Iblis”

“Jangan terlalu meremehkan. Setiap kali Baginda Muhammad memanggil Iblis untuk keperluan pembelajaran dan workshop sahabat-sahabat beliau, dan kemudian pasti Iblis selalu mematuhi Baginda dan memenuhi timbalan beliau — hampir saya selalu ngintip pertemuan mereka”

“Oooo”, sahut Markesot, “Jadi kamu keturunan Buyut-buyut yang dulu nakal mengintip Lauhil Mahfudh….”

“Tidak ada hubungannya. Saya tidak pernah memikirkan apalagi mempersoalkan nasab saya. Itu kan keperluan administratif saja. Manusia saja yang kebanyakan suka gila nasab. Mengaku-ngaku keturunan Nabi Muhammad, Sunan Kalijaga, Mbah Petruk, Kiai Gringsing, Yai Jumadil Kubro, Nambi, Trunojoyo… macam-macam. Padalah dalam buku administrasi langit, semua kan didaftar sebagai keturunan Adam….”

Saimon tertawa terbahak-bahak.

“Tidak ada gunanya mengejek, Mon”, kata Markesot.

“Sudah jelas benih segala konsep ilmu dan apapun saja dalam kehidupan adalah tauhid, satu menyebar menyatu, siji nyawiji siji, wahhada yuwahhidu tauhidan wahidan ahadan…. Lha kok manusia bangga sebagai pecahan-pecahan, kepingan-kepingan….”

“Sudah tho Mon….”

“Dan kepingan itu dikukuhkan sebagai dirinya, sebagai identitasnya. Hobi amat manusia memecah-mecah dirinya menjadi serpihan-serpihan, madzhab-madzhab, golongan-golongan, kelompok-kelompok. Masing-masing golongan bersikap egois dan posesif terhadap manusia dan massa. Menyumbangkan perusakan atas bumi dan lingkungan, kemudian di antara golongan dengan golongan saling gontok-gontokan, bersaing, bertabrakan, berbunuhan….”

“Saimon, saya sudah tahu itu semua”, Markesot makin jengkel, “tidak usah kasih mau’idhoh hasanah kepada saya. Kamu telan sendiri tausiyahmu. Kamu makan sendiri fatwa dan nasihatmu. Pecah dirimu menjadi dua, yang satu bagian menceramahi, lainnya diceramahi….”

Saimon semakin menjadi-jadi tertawanya.

“Saya ngomong macam-macam ini sebenarnya untuk membuktikan kegagalan hidupmu”

Markesot tersentak oleh pernyataan Saimon itu.

“Apa maksudmu?”, ia mengejar.

“Bagaimana kok sekian ratus abad manusia bersekolah dalam kehidupan, hasilnya sangat tidak memadai”

“Tidak memadai bagaimana jelasnya”

“Kebanyakan manusia yang memenuhi Bumi di belahan Barat, Utara, Selatan, bahkan juga semakin banyak di Tengah, Timur dan Selatan, gagal bersilaturahmi dengan Tuhan. Akhirnya mayoritas mereka menyembah makhluk Tuhan, yang dituhan-tuhankan, dipatung-patungkan sebagai tuhan. Secara wadag dipatungkan, secara batin dan pikiran diberhalakan”

“Ya. Terus”

“Bagaimana mungkin pikiran manusia sanggup menerima bahwa Tuhan bisa dilihat, didengar, digambar, bahkan diikat dan dibunuh. Termasuk kedahsyatan penerimaan akal manusia bahwa Tuhan menjadi Tuhan setelah dilantik oleh seorang Raja. Belum lagi Tuhan dilahirkan, berasal-usul dari yang bukan dirinya. Kemudian menebus kesalahan ummat manusia, seolah-olah ada Tuhan lain yang lebih berkuasa dan menuntut tebusan”

“Oke terus. Tapi hati-hati bicara”

“Yang paling parah adalah Tuhan dianggap punya musuh besar, kompetitor yang mengancam-Nya, yang kekuasaannya bukan kekuasaan Tuhan, yang Kerajaannya ada tersendiri di luar Kerajaan Tuhan. Tetapi tuhan yang lain itu pekerjaannya selalu menyebarkan gangguan dan kekacauan di wilayah Tuhan. Dan dipercaya terdapat kemungkinan bahwa Tuhan bisa saja kalah oleh Tuhan yang lain”

“Saya akan simpan kalimat-kalimatmu itu hanya untuk saya”

Saimon terus membombardir.

“Kalau saya sebut manusia adalah makhluk gagal produk, berarti saya menyalahkan Penciptanya. Paling tidak bisa kita pakai bahasa bahwa ini adalah Manusia Gagal Akal”

“Silakan dituntaskan”, Markesot menahan rasa jengkelnya.

“Jadi ketika saya omong banyak tentang Iblis, saya bukan berkhayal. Mungkin kalimatnya adalah karangan saya, tetapi muatannya saya yakin memang demikian. Kecuali bagi manusia yang gagal akal. Sampai-sampai Buyut Iblis curhat kepada Baginda Muhammad:“

“Wahai Muhammad Bagindaku
Entah bagaimana caranya, tolonglah aku
Beritakan kepada ummatmu dan semua manusia
Agar berhenti mempersaingkanku dengan Allah
Wahai Muhammad yang aku kagumi
Muhammad yang aku takjub kepadamu
Muhammad yang aku segan, aku menunduk
Aku membungkuk di hadapanmu
Muhammad yang sakti mandraguna
Yang tak tertandingi oleh Jabarala, Makahala, Hasarapala
Pun Hajarala yang sigap dan perkasa
Serta siapapun tokoh jagat raya yang Allah sucikan
Muhammad yang amat sangat indah dan lembut
Yang menghuni lubuk terdalam dari asal-usul cinta

Mohon sampaikan kepada Beliau Allah subhanahu wata’ala
Bahwa benar-benar aku sudah sangat lelah
Oleh perilaku manusia….”