Maiyah Merangkai Paseduluran

Kalau memang diyakini nilai maiyah adalah nilai universal, maka Jamparing Asih memiliki tugas untuk membumikan nilai maiyah dalam konteks kesundaan.

Siang itu, Sabtu, 24 September 2016, penggiat Jamparing Asih menerima pesan singkat dari Mas Harianto. “Ntar malam ada acarakah?” Mendapatkan sinyal akan disambangi oleh bapak ISIM Maiyah, kami pun langsung membalas, “Wah, Mas Har mbandung, tah? Ndak, mas, ditiadakan semua acara!” Pesan singkat dari Mas Harianto kembali diterima, “Jam 1 dini hari, OK? Stasiun Kiaragondrong.”, kelakarnya mempelesetkan nama stasiun Bandung, Stasiun Kiaracondong.

Malam itu pun tiba, teman-teman Jamparing Asih kedatangan bapak Perajut Simpul. Ya, mungkin begitulah kami dapat menyebutnya. Beliaulah yang turut bertugas wara-wiri kesana-kemari menguatkan simpul-simpul Maiyah yang kian lama kian bermunculan di penjuru negeri. Seusai bertemu di Stasiun Kiaracondong, kami mengajak Mas Harianto untuk beristirahat di kediaman salah seorang penggiat Jamparing Asih dan berbincang lepas hingga subuh tiba.

Jamparing Asih
Jamparing Asih

Kedatangan Mas Harianto di kota Bandung kami sambut dengan ngariung dadakan sembari santap siang di kediaman salah seorang penggiat. Sembari menyesap hangatnya teh dan kopi, penggiat Jamparing Asih berbincang dengan Mas Harianto mengenai maiyah dan kota Bandung tempat Jamparing Asih berada. Sudah hampir satu tahun Jamparing Asih bertumbuh di kota Bandung. Hal itu sungguhlah patut disyukuri. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa lingkaran maiyah yang  didominasi oleh kultur Jawa dapat tumbuh di tatar Pasundan. Dan Jamparing Asih adalah simpul pertama di Jawa Barat, diikuti kemunculan simpul lainnya di Tasikmalaya yang memiliki penggiat dari daerah Ciamis dan daerah sekitarnya. Juga tak lupa keberadaan penggiat-penggiat maiyah yang bermunculan di Cirebon. Dan mungkin sebenarnya banyak pula calon-calon simpul yang akan kian lama bermunculan di Jawa Barat. Yang pada saat diterbitkannya tulisan ini, keinginan satu-dua, atau bahkan sepuluh orang calon-calon penggiat simpul baru di beberapa kota-kota Jawa Barat baru sebatas niat dan mbatin dalam hati. Namun, wallahua’lam, apa yang akan terjadi 1-2 bulan ke depan, tidak akan pernah ada yang tahu. Semoga saja sejumlah niatan baik itu dapat terealisasi.

Belajar Dari Tulang Ayam

Diskusi siang itu mengenai simpul Jawa Barat kembali mengingatkan kami pada diskusi yang pernah diadakan oleh penggiat Jamparing Asih beberapa bulan silam. Dalam diskusi di penghujung tahun 2015 silam, muncul sebuah gagasan yang berkenaan dengan universalitas maiyah. “Kalau memang diyakini nilai maiyah adalah nilai universal, maka Jamparing Asih memiliki tugas untuk membumikan nilai maiyah tersebut dalam konteks kesundaan.”, kurang lebih itulah percakapan yang muncul beberapa bulan silam. “Tugas” itulah yang Jamparing Asih harus terus lakukan setapak demi setapak.

Hal lainnya yang harus dipertimbangkan adalah bagaimana Jamparing Asih dapat menampung aspirasi masyarakat Bandung. Mas Harianto yang mengetahui seluk-beluk simpul kemudian menceritakan dinamika dan positioning tiap-tiap simpul di daerahnya masing-masing. Mas Harianto pun menyatakan bahwa niat baik tetap harus disertai dengan strategi yang baik. Pendapat tersebut disampaikan dengan mengkontekstualisasikan kisah sederhana mengenai proses seseorang memberi atau menyumbangkan barang. Penuturan kisah tersebut berkaca dari kejadian malam sebelumnya ketika Mas Harianto bersantap malam bersama Pak Pipit. Makanan yang disantap malam itu adalah nasi dan ayam goreng. Ketika Mas Harianto dan Pak Pipit sedang menikmati makan ayam goreng, lewatlah seekor kucing di sekitar mereka. Melihat kucing tersebut, Mas Harianto memberikan tulang kepada sang kucing. Tulang yang diberikan adalah tulang sisa yang telah digerogoti hingga habis dan dilemparkan ke arah kucing tersebut. Karena keliru arah dalam melempar, tulang tersebut terjatuh ke dalam selokan yang tertutupi grill hingga sang kucing kesulitan untuk menggapainya dan berakhir dengan adegan sang kucing mencoba menggapai-gapai tulang yang hanya dapat dilihatnya dari balik grill yang menjadi penghalang antara ia dan tulang ayam. Sementara itu Pak Pipit memberikan ayam yang masih berdaging. Pak Pipit memotong sebagian ayam miliknya dan berjalan mendekati kucing tersebut sehingga ia dapat memberikan makan langsung kepada kucing tersebut. Dari kejadian sederhana tersebut pun Mas Harianto mengambil pemaknaan mengenai pemberian. “Orang sekarang ini tampaknya seolah seperti memberi, namun sebenarnya membuang yang tak lagi mereka butuhkan. Kalau mau berniat baik pun harus memiliki strategi. Jangan sampai menyiksa orang yang kita beri itu karena kita telah keliru cara dalam mengejawantahkan niat baik kita.” Pesan tersebut dapat tertuju khusus untuk simpul maiyah. Karena bagaimanapun juga, niat baik yang kita coba untuk tumbuh-suburkan di kota tempat kita berada harus diikuti dengan strategi, cara, dan jarak pandang yang tepat. Begitulah kurang lebihnya.

Riungan Jamparing Asih dengan Mas Harianto dipungkasi pukul 16.30. Seusainya, kami bersama dengan Mas Harianto memacu kendaraan untuk maiyahan menuju Tasikmalaya. Di sepanjang perjalanan kami melanjutkan perbincangan-perbincangan hangat. Dari mulai memperbincangkan penjual mie ayam di suatu kampung di Yogyakarta yang mengiklankan dagangannya dengan cara menelpon “titip salam” ke sejumlah radio-radio di Yogyakarta yang akhirnya membuat warungnya penuh oleh pembeli, hingga perbincangan mengenai Islam dan sejarah Nusantara.

Nikmat Paseduluran

Sekitar pukul 22.00, kami mendaratkan kendaraan di tempat parkir Masjid Agung Tasikmalaya. Kami kemudian berjalan menuju Gedung Dakwah tempat maiyahan malam itu diadakan yang berlokasi tepat di samping Masjid Agung Tasikmalaya. Kedatangan kami disambut oleh penggiat Lingkar Daulat Tasikmalaya yang malam itu sedang melingkar mendiskusikan kepemimpinan dengan temanya yang berjudul “Mimpi Basah Kepemimpinan”. Salah seorang penggiat LDTasikmalaya menceritakan mengenai tercetuskannya tema tersebut. Ia mengakui bahwa tema tersebut terlintas ketika ia sedang buang air besar di kamar mandi. Pengakuan tersebut disambut tawa oleh jama’ah yang melingkar malam itu. Mas Harianto kemudian menambahkan bahwa dirinya pun kerap kali mendapatkan banyak inspirasi ketika sedang berada di kamar mandi. “Tahu kenapa? Karena pada saat di kamar mandi itulah saat dimana kita dapat menjadi diri kita sendiri secara jujur-sejujurnya. Kita tidak peduli penampilan kita. Kamar mandi adalah tempat di mana kita menjadi diri kita apa adanya, tanpa polesan apa-apa.”

Maiyahan LDTasikmalaya malam itu ditutup sekitar pukul 01.30 dini hari. Setelah sejenak berbincang dengan penggiat Tasikmalaya, penggiat Jamparing Asih pamit untuk kembali memacu kendaraan ke kota Bandung. Pertemuan demi pertemuan yang terjadi tidak pernah kami rencanakan sebelumnya. Namun, pertemuan-pertemuan aksidental itulah yang justru menghangatkan persaudaraan di maiyah. Pertemuan-pertemuan itulah yang menyadarkan kami bahwa ikatan paseduluran itu ada. Tanpa membedakan asal dan latar belakang masing-masing orangnya. Dengan hanya menghubungi 1 atau 2 sedulur maiyahmu di kota yang sekiranya ingin dituju, maka dengan suka hati mereka akan menerima.

Dari satu-dua pertemuan tak terduga itu nyatanya akan memberikan pertemuan-pertemuan atau hal-hal yang tak dapat terbeli nilainya di kemudian hari. Dari satu-dua perjumpaan, tak dirasa dapat merekatkan persaudaraan. Dari satu-dua titik-titik simpul, tak dirasa dapat perlahan demi perlahan menjahit dan merekatkan simpul-simpul yang sebelumnya belum pernah tersambungkan. Dari satu-dua simpul, tak terasa bahwa itu adalah upaya untuk menjahit simpul satu dan yang lainnya yang sebelumnya belum terhubungkan. Dari satu-dua jahitan, tak dirasa dapat membentuk pola yang akan menjadi indah di kemudian harinya. Dari simpul-simpul maiyah kian lama kian bertumbuh, disadari atau tidak, adalah upaya untuk mencicil dan merangkai Nusantara.

Hatur nuhun, para sedulur yang telah bersama-sama urun rembuk dan menetesekan peluh yang dalam menjahit maiyah dari titik tumpunya di masing-masing daerah tempatnya berpijak. Hatur nuhun, Mbah Nun yang telah membuat kami lebih jernih dalam memandang peran-peran yang harus kami emban di kehidupan, di kota tempat masing-masing dari kami tinggal dan menyemai harapan. Ya Allah, ridho…

Salam hangat dari kota Bandung dengan segala kesejukan dan kemacetannya.

28 September 2016,
Penggiat-penggiat Jamparing Asih
Tatar Pasundan