Maiyah kok Pakai Kursi?

Kebanyakan dari kita Jamaah Maiyah (JM) adalah orang-orang yang jengah bahkan muak melihat adu teatrikalnya orang-orang yang berebut kursi kekuasaan dan kedudukan. Namun, kelihatannya bukan itu alasan JM antipati terhadap kursi, sehingga kegiatan-kegiatannya seringkali digelar secara lesehan.

Maiyahan di banyak tempat, baik forum besar maupun kecil pada umumnya dilaksanakan dalam format lesehan. Dengan duduk di atas lantai tanpa kursi, lebih mudah orang-orang membentuk lingkaran, membangun kebersamaan. Posisi duduk bersila bisa sesering mungkin diubah menjadi selonjor, lalu ngulet meregangkan tubuh sehingga mampu rileks lebih lama. Tubuh yang rileks akan membuat pikiran kendur dan lega, sehingga siap menampung dan mengelaborasi ilmu yang didiskusikan.

Begitulah mekanisme duduk lesehan memberi manfaat positif pada perolehan keilmuan JM dalam setiap forum-forumnya.

Namun, format lesehan yang cenderung cair tentu saja tidak boleh justru menjadi memenjarakan kemampuan JM. Sehingga pada pertemuan para penyelenggara Maiyahan yang kerap disebut penggiat Maiyah pada tahun lalu, ditantanglah para penggiat untuk melaksanakan Silaturahmi Penggiat Maiyah dalam format yang berbeda. Pada pertemuan penggiat Maiyah dari berbagai kota kala itu formatnya dirancang tidak sebagaimana biasanya lesehan, kali itu diformat menggunakan kursi.

Seloroh dari beberapa penggiatpun bermunculan “Maiyah kok pakai kursi?”. Panitia pun menjadi was-was, kalau belum diskusi saja sudah terjadi perbedaan pendapat pakai kursi atau tidak, wah, bagaimana nanti menghadapi perdebatan yang lebih akut ketika forum sudah digelar? Namun, pada akhirnya Silaturahmi Penggiat Maiyah kala itu berlangsung lancar dan membuahkan hasil, sekalipun memakai kursi.

***

Di antara jebakan terdekat dari kita adalah jebakan kebiasaan. Kebiasaan lesehan membuat kita sentimen kepada kursi. Pun sebaliknya, kebiasaan berforum menggunakan kursi membuat kita under-estimate kepada forum yang tidak memakai kursi. Cakrawala pandang kita yang sebetulnya bisa luas tanpa batas menjadi sejengkal karena tersekat oleh kebiasaan kita sendiri.

JM adalah orang-orang yang sudah lulus dari jebakan diri semacam itu, karena toh sudah terbiasa berpikir substansi bukan ornamen, memandang isi bukan bungkus. Bagi orang yang tidak memiliki skala prioritas di dalam cara berpikirnya, tentu saja suasana yang cair dalam forum lesehan akan sulit didapat dalam forum berkursi yang lebih sistematis dan formal. Mosok di kursi selonjor, mosok di kursi sila. Walaupun padahal itu boleh-boleh saja asalkan situasi dan adabnya memungkinkan.

Kursi dapat saja oleh JM dijadikan tantangan, bahwa sekalipun tidak ngleseh tapi bisa kok tetap rileks. Misalnya dengan mencuri-curi momentum untuk sesekali selonjor, sila dan ngulet. Atau menganut kaidah ilmu pengembangan diri modern yang menyebutkan bahwa 15 menit harus ada jeda dalam sebuah forum. Yakni, dengan 15 menit sekali pergi ke belakang sekedar nyumed rokok atau menuang jog kopi.

JM memang terbiasa berada dalam suasana cair dalam setiap forum-forumnya. Namun, bukan berarti JM gagap dan gagal ketika harus mengerjakan kebutuhan atau problematika yang berhubungan dengan hal-hal yang sistematis dan formal. JM harus membuktikan bahwa di antara koleksi ribuan jurus-jurus keampuhannya, JM tetap memiliki daya tanding di saat harus menghadapi tantangan yang membutuhkan kemampuan berpikir terskema dan terstruktur. Bahwa sehari-hari kita terbiasa berpikir dan bertindak random alias acak, itu pandai-pandainya kita saja untuk tidak pamer keskematisan dan keterstrukturan kita.