Catatan Ngaji Bareng Bersih Deso Gogodeso, Blitar 13 November 2016

Lurah Lulusan Universitas Patangpuluhan

Namanya Mas Khoirul. Dia adalah lurah atau kepala desa Gogodesa ini. Dan ternyata dia adalah lulusan Universitas Patangpuluhan.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Namanya Mas Khoirul. Dia adalah lurah atau kepala desa Gogodesa ini. Dan ternyata dia adalah lulusan Universitas Patangpuluhan. Universitas Patangpuluhan adalah sebutan untuk rumah kontrakan Cak Nun di Patangpuluhan Gang Madubronto Yogyakarta pada tahun 80-an hingga 90-an.

Di rumah ini, berkumpul banyak orang, mahasiswa, dan aktivis. Ada yang sebagian tinggal di sana. Tempat ini menjelma markas dan kawah condrodimuko aktivisme sosial di Yogyakarta yang resonansinya meluas. Di rumah kontrakan ini pula, Cak Nun menerima tamu-tamunya yang tak pernah berhenti mengalir dengan berbagai persoalan yang dibawanya.

Mas Khoirul adalah salah satu yang tinggal di sana pada awal tahun 90-an. Menurut ingatan Cak Nun, dia anak yang rajin saat itu, meskipun banyak pendiamnya. Dia asli desa Gogodeso ini. Saat diminta memberikan sambutan dan pengantar, Mas Khoirul menyampaikan dengan penuh rendah hati. Dengan menghadirkan Cak Nun dan KiaiKanjeng, Mas Khoirul mengungkapkan keinginannya untuk sungguh-sungguh membangun desanya.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Cak Nun agak kaget dengan sambutan Mas Khoirul dan mungkin tapi pernah membayangkan seorang yang pernah ikut tinggal di rumahnya itu berbicara seperti itu. “Aku ra tau ngajari shalawatan, tapi dia bisa. Aku yo ra tau ngajari pidato, tapi dia bisa pidato,” ujar Cak Nun menyimpan apresiasi. Kemudian Cak Nun menegaskan dan meyakinkan untuk tidak usah menunggu Indonesia atau Jakarta atau pemerintah pusat untuk membangun desa ini. “Sudah, cukup dengan desa ini saja. Jangan mau diracuni. Kedaulatan republik Indonesia sedang dijual-jual. Jaga desa ini, jangan sampai dijajah. Desamu adalah desamu. Kesenianmu adalah kesenianmu. Indonesia tidak akan selamat karena Jakarta, tetapi karena desa, kecamatan, dan kabupaten yang menjaga diri,” pesan Cak Nun.

Proses Mas Khoirul ada dan tinggal di Patangpuluhan tak luput dari peran Arif Affandi. Mantan Wakil Walikota Surabaya dan Redaktur Jawa Pos itu adalah asli dari Gogodesa dan yang memelopori orang-orang desa ini menimba ilmu ke Yogyakarta pada tahun 83. Arif Affandi yang juga kakaknya Mas Khoirul ini malam ini juga pulang ke desa dan ikut menghadiri acara Bersih Deso. Dalam kesempatan ini, Arif Affandi selain mengisahkan proses Mas Khoirul menjadi kepala desa, menuturkan perkembangan desa ini sejak tahun 80-an, juga menyampaikan sejumlah kesaksian tentang Cak Nun. Diceritakan Arif Affandi sesuai keterlibatan dan ngangsu kawruhnya pada Cak Nun, Cak Nun adalah sosok yang konsisten sejak dulu, termasuk konsisten dalam pola pengajiannya. Pola yang tidak linier dalam komunikasi, tidak monoton dan tidak monolog. Itu adalah model pembelajaran yang mencerdaskan. Mengajak masyarakat berpikir logis, dan berpikir logis ini menemani proses keberagamaan seseorang atau masyarakat. (hm/adn)