Catatan Ngaji Bareng Masjid Walisongo, Gresik 20 Oktober 2016

Long Life Education yang Unik dan Indah

Maiyahan atau Tadabburan ini merupakan satu bentuk yang lain daripada yang lain, dan belum banyak disadari, dari long life education.

Dalam wacana pendidikan ada dikenal ungkapan long life education. Artinya, belajar tidak mesti melalui pendidikan formal, dan tidak mesti semasa usia-usia pendidikan formal tersebut. Pada usia kapan pun, orang perlu belajar untuk mengembangkan diri, menjawab kebutuhan, dan memahami dunia.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Terdapat berbagai bentuk pembelajaran yang merupakan penerapan dari semangat long life education. Jika boleh meminjam perspektif ini, sesungguhnya Maiyahan atau Tadabburan ini merupakan satu bentuk yang lain daripada yang lain, dan belum banyak disadari, dari long life education. Yang menjadi fokus dan kekuatannya bukan pada pelatihan skill teknis, melainkan pertama-tama adalah pembenahan cara berpikir, pembaharuan paradigma, dan upaya-upaya membangun martabat manusia dan bangsa Indonesia.

Hal-hal mendasar itu mungkin luput, atau belum sungguh-sungguh dikerjakan, oleh proses pendidikan oleh negara. Bahkan nilai-nilai itu tidak menjiwai proses pendidikan yang berlangsung. Tadabburan seperti ini diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat, namun dengan cita-cita jauh ke depan bagi Indonesia. “Harusnya yang mengadakan pertemuan seperti ini adalah menteri sosial, menteri pendidikan, atau menkominfo,” ujar Cak Nun seraya menegaskan cinta kepada masyarakat yang mengundangnyalah yang membuatnya datang kemari.

Menariknya ada dua hal di sini, jangkauan buah yang ditimbulkan berpusat pada ajek atau kuatnya nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa orang-orang yang hadir, yang harapannya bisa long life. Kedua, berlangsungnya Tadabburan ini diperindah dengan adanya musik KiaiKanjeng. Dan seluruh yang hadir melalui KiaiKanjeng bukan keindahannya saja, melainkan bagaimana musik itu dibawakan menjadi pintu masuk ilmu dalam memahami sesuatu, sebagaimana sering Cak Nun kemukakan.

Yang ikut serta tak hanya kawula muda, remaja-remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, bahkan anak-anak kecil, melainkan para tokoh masyarakat. Semuanya belajar melalui apa-apa yang muncul sebagai pembahasan dan peristiwa dalam Tadabburan. Dimensi-dimensi long life education pada Maiyahan bisa ditemukan lebih banyak lagi.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Sesudah rangkaian tanya-jawab, dan setelah serangkaian nomor yang dipersembahkan oleh KiaiKanjeng seperti Kuncine Lawang Suwargo, Ajining Urip, dan Bisyahri, kini jamaah diajak menep dan khusyuk melalui shalawat dan beberapa bagian narasi Kitab Maulid Simthut Duror yang dibacakan secara khas oleh Cak Nun. Narasi tentang Nur Muhammad.

Satu kali pertemuan Maiyahan di masyarakat seperti ini mungkin berlangsung 5 lima jam, mungkin juga lebih, tetapi dalam volume waktu yang sebenarnya pendek jika dilihat dari keperluan long life itu, Cak Nun telah berusaha memberikan respons, pandangan, dan pemikiran yang komprehensif. Perisitiwa-peristiwa yang terjadi senantiasa dibingkai oleh ilmu, kedalaman spiritual, kebenaran, keindahan, dan kemesraan.

Seluruh jamaah menunduk, mengikuti lantunan shalatun minallah wa alfa salam. Langit yang terang bersama rembulan yang bening menaungi jiwa-jiwa mereka. Menyaksikan kegigihan anak-anak muda yang menyelenggarakan acara ini, serta menyaksikan pula kesetiaan masyarakat dan jamaah yang hadir pada nilai-nilai yang mereka yakini, lada harapan-harapan yang mereka miliki dan perjuangkan. “Saya mengapresiasi dan memuji anak-anak muda di sini. Mereka adalah pejuang-pejuang nasional yang militan. Pilihan-pilihan nilai atau tema mereka sangat akurat, yaitu mempersambungkan masa silam dengan masa depan,” ujar Cak Nun. (hm/adn)