Daur (187)

Lombok Tarmihim

Ta’qid : “Hak dan kewajiban bukan dua hal yang sejajar atau setara. Kewajiban adalah bapaknya, hak adalah anaknya. Tidak ada Gudel yang lahir tanpa Kerbau.”

Tarmihim, demikian nama teman lama Markesot itu, tiba-tiba sadar tentang apa yang dilihatnya: perubahan wajah Markesot sedemikian seriusnya sesudah membaca beberapa tulisan yang ia bukakan. Kesedihan yang sangat mendalam terpancar sangat nyata melalui guratan-guratan di wajah itu.

Bahkan dengan polosnya spontan Tarmihim berkata: “Gusti Pengeran, Cak Sot, nyuwun sewu Sampeyan sudah tua ya…”.

Markesot terkejut oleh pertanyaan yang sangat bersifat pernyataan itu, tetapi wajahnya tidak bereaksi oleh itu. Markesot tidak menatap wajah Tarmihim untuk menampakkan responsnya. Dan Tarmihim menyadari bahwa wajah tua Markesot tampaknya bukan semata-mata karena memancarkan kesedihan yang mendalam, tetapi karena memang benar-benar ia sudah tua.

Tiba-tiba Markesot berdiri. Masuk ke dalam kamarnya. Kemudian kembali membawa botol air dengan dua gelas. Ia menuangkan air ke dua gelas itu dan menyodorkan satu ke depan Tarmihim. Kemudian Markesot bersandar di tembok. Wajahnya menatap jauh ke depan, terkadang ke langit-langit atas, sekilas melewati pusat mata Tarmihim.

“Kenapa kepandaian anak-anak sekarang tidak membawanya ke suatu posisi kesadaran di antara kewajiban dan hak. Saya belum berhasil memahami hal itu sampai detik ini”, Markesot berkata sangat pelan.

Dengan polos Tarmihim menatap wajah Markesot. Tapi ketika sorot mata Markesot pun menatapnya, Tarmihim membuang pandangannya ke bawah. Ia tidak memasukkan kalimat Markesot ke dalam pikirannya, karena masih penuh dengan semacam rasa tertekan melihat kerut-kerut ketuaan di wajah Markesot.

“Kenapa kecerdasan pikiran anak-anak modern sekarang ini sangat miring ke wilayah hak dan menjauh dari kewajiban”, suara Markesot lagi, “mereka sangat peka dan penuh kobaran api untuk hal-hal yang menyangkut hak, tetapi hampir padam ingatannya terhadap kewajiban. Apa karena sejak kecil ke dalam telinga mereka diperdengarkan urutan kata hak dan kewajiban. Hak dulu, baru kewajiban. Yang utama adalah hak, berikutnya baru mungkin ada kewajiban. Yang primer adalah hak, sedangkan kewajiban berposisi sekunder. Saya sungguh belum mampu memahami”

Tarmihim mulai mendengarkan kalimat Markesot yang menyebut hak dan kewajiban, sehingga ia mencari apa hubungannya dengan tulisan-tulisan yang tadi ia sodorkan. Setahu Tarmihim, tema tulisan-tulisan itu tidak ada kaitannya dengan hak dan kewajiban.

“Apakah tidak pernah ada Guru atau Dosen, Kiai atau Ustadz, Pastur atau Pendeta, tulisan atau makalah, atau apapun saja, yang menjelaskan bahwa hak adalah buah dari kewajiban”, Markesot meneruskan.

Tentu saja Tarmihim semakin kehilangan jejak. Dan semakin tertinggal oleh percepatan pikiran dan ungkapan Markesot.

“Bahwa hak baru diperoleh sesudah seseorang menjalankan kewajiban. Sementara kalau dibalik, andaikan hak dulu yang dipegang oleh seseorang, ia berisiko kewajiban”, lanjut Markesot, “Hak dan kewajiban bukan dua hal yang sejajar atau setara. Kewajiban adalah bapaknya, hak adalah anaknya. Tidak ada Gudel yang lahir tanpa Kerbau. Anak-anak sekarang sangat sadar Gudel, tapi semakin melupakan Kerbau”

Tarmihim semakin pasrah pada ketidakmengertiannya.

“Masa depan mereka sangat mengkhawatirkan, karena masa silam mereka tinggalkan dalam kegelapan”

Mata Tarmihim berkedip-kedip di hadapan wajah Markesot, pikirannya loncat ke sana kemari tak menentu.

“Tuhan sendiri sesudah menciptakan makhluk, menjalankan terlebih dulu kewajiban-Nya atas makhluk-makhluk itu, baru ia menentukan diri-Nya memiliki hak atas mereka. Tuhan menghamparkan rezeki, melimpahkan fasilitas-fasilitas, kesuburan dan kemakmuran, tetumbuhan kesejahteraan dan jaminan hidup, baru kemudian Ia memerintahkan kepada makhluk-makhluk-Nya untuk berterima kasih kepada-Nya dengan cara mengabdi, dalam bentuk ibadah, cinta dan kesetiaan”

Benar-benar Tarmihim tidak bisa melacak sama sekali apa hubungan semua ungkapan Markesot itu dengan isi tulisan-tulisan yang dibacanya tadi.

“Kamu sekarang tinggal di mana?”

Tarmihim kaget oleh pertanyaan Markesot yang sangat mendadak di tengah kalimat-kalimat yang susah dimengertinya.

“Di Magelang, Cak Sot”, tergagap ia menjawab.

“Di kota?”

“Agak naik ke arah barat kota, di pegunungan”

“Bertani?”

“Ya. Lombok”

“Apakah orang yang bertanam Lombok berhak menentukan harga Lombok?”

Tarmihim semakin tergagap oleh pertanyaan itu. Bukan hanya karena sekian puluh tahun bertani Lombok ia ternyata memang belum pernah menentukan harga Lombok, tapi juga karena semakin tidak mengerti apa hubungan tani Lombok dengan hak dan kewajiban yang sebelumnya diomong-omongkan oleh Markesot.