Letto Tidak Vacuum dan Bukan Cleaner

(Sebuah Wawancara Acak dengan Patub Letto)

Bahkan ada yang membahagiakan dengan menyebut kita bubar, kukut. Mereka tidak tau di Letto itu problem utamanya adalah gimana cara membubarkan!

Di muka bumi ini, terdapatlah sekumpulan anak-anak yang sudah mulai tak muda lagi. Sukanya bermusik. Lalu punya nama Letto. Sudah 12 tahun berjalan di dunia musik ini. Cuma tak semuanya tahu, belakangan apa kesibukan mereka. Buktinya, tak jarang ada yang nanya, kok Letto sudah tak kelihatan lagi, lama tak muncul album baru, apakah sudah bubar, dst dst. Lewat saluran komunikasi kekinian, redaksi CAKNUN.COM mengajak Anda ngobrol dengan sang gitaris dan manajer band bersangkutan: Patub Letto. Berikut percikan dan petikan wawancara dengannya.

CAKNUN.COM: Ceritain Kak lagi sibuk apa Letto sekarang?

Patub: Letto lagi ‘menikmati’ dunia baru. Dunia yang menempatkan kita di kursi sopir. Dengan SIM dan kendaraan milik sendiri. Artinya, kita bisa mengatur kapan kendaraan di-‘pancal’ dan di-rem, atau kapan hanya sekedar dipanasi. Agak repot, dan kaget juga awalnya. Karena sejak kemunculan di industri musik, kita duduk manis di kursi penumpang. Kadang boleh juga ngernet, kadang tapi….

Sudah 5 tahun sejak album terakhir kita sering dibilang vacuum bukan cleaner. Blank. Bahkan ada yang membahagiakan dengan menyebut kita bubar, kukut. Mereka tidak tau di Letto itu problem utamanya adalah gimana cara membubarkan! Literally bubar yang tidak akan saling ketemuan, ngobrol, diskusi, dan dolan bersama lagi antar personel. Hampir mustahil wong kita ini ‘meh’ 19 tahun saling bertukar aib dan bantal penuh iler. Mungkin kertas setingkat C1 pun gak akan cukup memvisualisasikan bahwa kita ini adalah Keluarga.

Jadi Letto hanyalah bagian dari Keluarga. Maka dari itu, Letto ada atau gak ada, vacuum atau cleaner, hanyalah satu dari ribuan percikan api tukang las yang sedang merakit bangunan hidup. Tapi, dunia industri musik dan lalala yeyeye mengukur keberadaan Kelompok Bermusik dengan parameter-parameter yang tak lekang oleh zaman; lagu, kemunculan di TV, dan gosip. Kemunculan di TV selalu dijadikan parameter utama Keber-ada-an, Keaktifan, dan Ke-laku-an sebuah Band.

Letto Band Radio Interview
Letto, setelah interview radio. Foto: Letto.

Pun demikian halnya dengan Letto. Hla kok Letto, Mbah Nun yang superhero dunia jurnalis saja sering kena pertanyaan wartawan, “Kok lama tidak di TV, sudah gak aktif ya?”. Mbah Petruk bisa murka seketika kalau dengar kata “aktif” digunakan secara semena-mena seperti itu. Karena notebene kata itu hanya milik Merapi seorang.

Dengan serius kita selalu menjawab, “Situ merk tivi-nya apa e mas?”. Tapi mereka malah tertawa. Zaman sekarang guyon dan serius memang tipis, setipis kerikan alis Christiano Ronaldo. Memang tidak salah kalau frekuensi kemunculan di TV begitu gampang dijadikan ukuran. Tapi mbok ya jangan pelit mikir. Ukuran kan gak hanya Garisan to? Ada hasta, depa, dan kilan. Jadi masih ada medsos, radio, internet, dan lain-lain kalau hanya sekedar mau tahu keberadaan sebuah band itu dalam status On atau Off.

Jelek-jelek gini, semaksimal mungkin Twitter, Youtube dan amunisi-amunisi buatan bule kita optimalkan. Kita selalu update berita dan reportase setiap melakukan kegiatan Off Air dan Recording. Kita lembur-lembur untuk bisa upload gambar dan editan video di internet. Mosok mau kalah sama CAKNUN.COM sih…. Malu to yaa….

CAKNUN.COM: Hahaha haiyo betul itu. Terus?

Patub: Bulan kemarin kita mengeluarkan single yang berjudul Kasih Tak Memilih. Tepatnya 15 Februari rilis di radio-radio, dan sebulan kemudian sudah onlen dan bisa dibeli di gerai onlen seperti iTunes, Microsoft, Amazon, Deezer, dll. Kalau setelah ini Anda tidak membeli, maka saya doakan tidak ada tambahan ilmu apapun pasca membaca interview ini.

CAKNUN.COM: Mengapa lagu itu yang dipilih?

Patub: Kenapa Kasih Tak Memilih (KTM) yang dipilih? Nah… Itu juga kami tidak paham. Justru kami menghindari untuk paham ketika sudah sampai pada fase pemilihan single. Dari dulu seperti itu. Tugas itu kami percayakan kepada orang-orang yang memang ahli menakar, menimbang, dan akhirnya menentukan lagu mana yang dipilih. Urusan kami hanya membuat, berkarya, kreatif, dan tidak nganggur, agar beban negara ini tidak bertambah. Maka dusss… Kasih Tak Memilih jadi pilihan single.

CAKNUN.COM: Apa gairah dan passion di balik ‘Kasih Tak Memilih’?

Patub: Menurut Noe, sang penulis, lagu ini dibuat berdasarkan pengembangan suatu konsep. Konsep yang menerangkan hubungan antara Kasih dan Cinta. Kasih itu tidak memilih, tanpa syarat, apa adanya. Sedangkan Cinta biasanya sudah ditunggangi term and condition, seperti operator yang beriklan nelp Rp 0,- tapi syaratnya melebihi pendaftaran PNS sebuah kelurahan. Noe mencontohkan ketika kita menolong korban kecelakaan. Kita tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, apa agamanya, anak keberapa, jomblo atau sudah laku, partai Mbel atau partai Gedhes…tidak. Nah, ini Kasih. Kasih bukan petugas sensus penduduk yang mementingkan pendataan numerik dan administrasi. Kasih bukan sesuatu yang bisa diakali, seperti pelanduk mengakali gajah, atau pemerintah mengakali rakyat. Kasih itu murni.

Tapi Cinta, lain hal. Ketika kita sudah mensyaratkan harus ada ini itu, maka Kasih otomatis sudah hilang. Berganti bentuk lain. Kita pasti punya mimpi punya pasangan cantik/ganteng, kaya, sholeh, dan anak tunggal dari pengusaha super kaya berumur 83 tahun 3 bulan yang sudah stroke stadium 4. Yo ra? Nah, itu cinta. Kasih dengan term and condition. Kasih, tak akan memilih. Kasih, seperti kertas putih. Yang menyediakan dirinya untuk spidol warna apa saja, dan jenis apa saja untuk berekspresi menurut mau-nya si spidol.

CAKNUN.COM: Oh Noe ya, yang vokalisnya itu ya? Nggak bosen dengan vokalis yang itu melulu? Apa istimewanya dia? Kira-kira paham nggak tuh anak-anak muda sekarang terhadap kandungan lirik yang ia cipta?

Patub: Noe selalu saja berdalih bahwa tulisan-tulisannya tidak puitis dan romantis. Itu apa adanya. Jujur. Karena yang jujur akan konsisten kapan saja, yang konsisten akan bertahan lama. Amin.

Noe, seperti kebiasaan baiknya, selalu menyediakan lirik Letto sebagai media belajar, media hiburan dan sekaligus karya sastra. Lirik Letto berlapis, seperti brownies rasa-rasa. Setiap lapisan menyediakan pengertian sesuai daya gigit seseorang mengunyah dan mengeksplorasi browniesnya. Ada yang mampu sekali telan, ada yang harus mengunyah, ada yang sejak gigitan pertama sampai sekarang ya gak paham-paham. Itu namanya beruntung. Beruntung tidak terjebak ke dalam labirin-labirin permainan kata-katanya yang sanggup jadi zat aditif bagi yang membaca. Setajam kafein dan nikotin.

Jadi, kami tidak khawatir lirik-lirik Letto tidak dipahami bagi penikmatnya. Karena Noe sudah menyediakan dan mengantisipasi setiap narasinya dengan pemahaman yang bertingkat, dan kejutan-kejutan di setiap fase-fasenya. Top lah. Maka dengan ini kami menyatakan akan memperpanjang kontrak Noe sebagai Vokalis dan penulis lagu Letto!!

CAKNUN.COM: Saat ini gimana kondisi warga Letto? Sejahtera dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya?

Patub: Sebentar Boss. Kembali dulu ke hal single baru Kasih Tak Memilih. Ya, inilah single terbaru kita. Single dengan tema sederhana tapi mewah, ringan tapi berbobot, dan digestable sekaligus rumit. Kenapa? Ya gak kenapa-kenapa. Biar tetep keren aja. Sejauh kami tau, Noe jarang sekali menulis lirik berdasar pengalaman aktual, atau pengalaman yang baru saja terjadi. Bliyow bukan tipe penulis seperti itu, tapi penulis yang lebih mengandalkan pemikiran-pemikiran sendiri, kontemplasi, berpikir akan sebuah konsep, dan nulis. Seringkali bisa dipesan berdasar tema lagu yang dimau-i. Ringan-ringan saja bagi Noe. Anda mau nembak gebetan? Bisa pesen lho. Tapi ya lewat saya… Jangan biyayakan.

Single Kasih Tak Memilih ini dibuat bersamaan dengan sekitar 5-6 lagu lainnya. Entah apa rencana kami nanti, akan merangkum dalam bentuk Album, EP, atau lainnya. Yang jelas tidak dalam bentuk Paket Kebijakan Ekonomi yang banyak gak jelasnya daripada manfaatnya.

Kita merasa kembali lagi ke masa-masa awal Letto. Semangat baru, lagu baru, dan kondisi psikologis yang hampir sama dengan yang pernah kita alami, dulu. Maka si KTM harus melewati mekanisme industri yang sama dengan saudara-saudara tuanya dulu seperti Ruang Rindu, Sebelum Cahaya, dll. Memasuki ruang-ruang MD radio, memasuki kolom-kolom media cetak, hilir mudik di medsos, dan kalo beruntung mampir di telinga dan hati penikmat musik.

Nah, sekarang masuk ke pertanyaan: “Saat ini gimana kondisi warga Letto? Sejahtera dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya?”

“Hmm….”, biasanya diikuti kalimat “tidak terasa sudah bla bla bla….”. Oke.

Hmm…. Tidak terasa sudah 12 tahun Letto ada. Ada karena situasi membutuhkan ada. Karena dulu kami ini punya lagu duluan, tapi tidak punya band. Sedangkan untuk ikut Kompilasi Pilih 2004-nya Musica, harus ada identitas. Maka dibuatlah Letto untuk mengakomodasi kemauan si Lagu menuju rekaman. Dst.. Dst.. Anda tahu lah album-album kami. Sudah 4. Anda bisa googgling untuk cari tahu. Ikhlaskan bandwith-mu untuk melengkapi informasi obrolan ini, jangan hanya utk DM-DM an sama inceran yang jelas-jelas hopeless. Iya, kamu.

Dan, 12 tahun kok rasanya masih seperti kemarin ya gaes. Selimut-selimut kamar bersama kami di Kadipiro rasanya belum dilipat, cucian yang direndam 2 hari pun masih terasa baunya. Pun masih teringat Mbah Nun yang selalu menegur kalau barang-barang studio kami berantakan. Karena sregep tidak cukup, harus juga bersih dan rapi.

So, kita baik-baik saja. Yang penting adalah mengabdi pada proses, karena itu adalah sesajen menuju hasil. Ntah apapun hasilnya. Seperti kata twitter, Gusti Allah tidak tidur. #KasihTakMemilih

CAKNUN.COM: Anda punya om-om dan pak dhe bernama KiaiKanjeng dan Simbah yang akrab dipanggil Mbah Nun. Dosa kalau tidak tawadhu sama beliau-beliau. Lho, malah bukan pertanyaan.

Patub: Kami hidup di sini, di Kadipiro. Tentu merupakan karunia luar biasa. Di sinilah pusat kegiatan KiaiKanjeng dan Mbah Nun berada. Mau ilmu apa saja tinggal nyawuk. Mau teater, ada. Mau bedah buku, ada. Mau drama, tiap hari. Mau diskusi langitan, Noe punya forum Martabat. Wah lengkap ya…. Ya iya lah. Gado-gado Bu Ning kalah lengkap.

Dulu kami sering ditanya peran apa yang diberikan Mbah Nun untuk Letto. Pertanyaannya bagus lho itu. Tapi lebih baik lagi gak usah nanya. Itu kan sama saja menanyakan sumbangsih seorang bapak pada anaknya. “Le, menurutmu bapakmu wis tau ngopo wae neng uripmu?”. Ini namanya menggugat keniscayaan relasi orangtua-anak. Walaupun kadangkala kami mengalah untuk menjawabnya. Menurut kami peran terbesar Mbah Nun bagi kami, anak-anaknya, adalah Membiarkan. Lho, maksudnya? Lhaa…. Katanya nanya…. Ya itu jawabannya. Mbah Nun membiarkan kita berproses tanpa campur tangan. Melihat dari jauh. Dan selalu mendoakan. Kok ngerti? Ya ngerti wong saya selalu minta doa. Mosok gak diparingi.

Letto, Live Perform. Foto: Letto.
Letto, Live Perform. Foto: Letto.

Mbah Nun ‘hanya’ mengawal proses. Zoom in dan zoom out sesuai kebutuhan kondisi dan kepentingan waktu. Maka kami bisa berdiri mandiri tanpa mengeliminasi faktor Pangestu. KiaiKanjeng pun punya pengaruh yang besar terhadap Letto. Mereka selalu jadi tolok ukur kami mengukur Malu. Ketika kami lemes dan butuh charge, kepala selalu menoleh ke bliyow-bliyow. Maka datanglah Malu itu. Mosok Letto kalah bregas sama Mas-mas dan Bapak-bapaknya: KK. Dan kami selalu mendoakan kesehatan dan kesejahteraan Mbah Nun dan KK. Karena kami optimis, bliyow pun dengan ikhlas akan selalu mendokan kami. Donga dinonga.

CAKNUN.COM: Letto punya sahabat bernama pLettonic. Mau Anda apakan pLettonic?

Patub: pLettonic. Kami juga beruntung punya temen-teman pLettonic. Mereka selalu memberi support tak kenal lelah. Tidak bosan bertanya kapan lagu baru keluar. Kami suruh pindah fans band lain yang lebih reguler ngeluarin lagu, juga gak mau. Malah ketawa. Lucu katanya. Padahal seluruh mekanisme kerja pemerintah negeri ini dijalankan dengan azas yang Lucu. Mereka gak sadar.

pLettonic bukan fans Letto. Mereka adalah kumpulan orang-orang yang suka mencari ada apa di lagu-lagu Letto. Tidak sekedar lalala yeyeye. Itu jauh dari mereka. Makanya dulu ketika di TV, mereka selalu ketilep sama fans band lain. Mereka gak cukup punya keberanian mempertontokan ke-euforia-an menikmati lagu-lagu artis idola seperti OI atau Massiver. Kasihan ya.

Kami selalu menjaga jarak dengan pLettonic. Maksudnya, jarak kami jaga untuk selalu dekat. Karena kita butuh mereka untuk ngobrol kesana kemari. Membahas apa saja. Dari kenaikan suhu kutub sampai demo buruh yang menuntut kenaikan UMR. Hubungan Letto dengan pLettonic ini unik. We love them. [hm]