Letto Menutup Festival Pendidikan Keluarga

Diskusi dengan Sabrang (Noe Letto) serta diselingi dengan akustik dari Letto, menjadi sesi terakhir dari Festival Sekolah Keluarga yang diadakan Salam.

“Mendidik anak tanpa konsep itu tidak bertanggung jawab”, ungkap Sabrang (Noe Letto) dalam diskusi di Festival Pendidikan Keluarga yang diselenggarakan oleh SALAM (Sanggar Anak Alam) di Rumah Maiyah.

Lebih lanjut Sabrang mengungkapkan, bila menganggap pendidikan dalam rangka menambah pengetahuan, itu salah besar. Kalau hanya sekadar menambah pegetahuan itu mudah, bisa dengan membaca, juga bisa memanfaatkan media internet.

Letto Band
Letto Band

Semakin bertambahnya umur, selain semakin menua, juga otomatis pasti bertambah pengetahuannya. Namun, walaupun semakin bertambah umur, tetap bukan jaminan bahwa manusia tersebut mampu menstrukturkan pengetahuannya dalam kehidupannya.

Pendidikan itu pada dasarnya melatih berfikir, tidak sekadar menambah pengetahuan seperti telah diungkapkan di atas. Pendidikan tidak berhenti dalam dunia persekolahan tetapi merupakan proses belajar sepanjang hayat.

Ada tiga tahap dalam pendidikan dasar : pertama, mengalami sebab akibat, kedua, memahami sebab akibat dan ketiga, merancang sebab akibat.

Maka dalam pendidikan, puncak sesungguhnya adalah melatih berpikir agar mampu merancang sebab akibat. Sebab akibat yang dimaksudkan dalam pendidikan dasar, basisnya adalah agar memahami semua komponen sebab akibat sehingga dapat menahkodai kehidupannya.

Morgan membawakan lagu Ruang Rindu bersama Letto.
Morgan membawakan lagu Ruang Rindu bersama Letto.

Sedangkan pengetahuan fungsinya untuk memahami komponen-komponen sehingga mempunyai bahan untuk mengembangkan sebab akibat tersebut. Salah satu contoh, kita tahu karena ada kerusakan hutan, maka ketika hujan turun, salah satu akibatnya terjadi banjir. Karena ada kerakusan manusia dalam menebang pohon maka hutan rusak. Maka dapat disimpulkan terjadinya banjir karena ada kerakusan manusia dalam menebang pohon.

Oleh karena itu “sebab — akibat” tersebut harus diolah atau diproses, sebab kalau tidak diproses ya hanya naluriah belaka. Padahal yang membedakan manusia dengan hewan adalah sejauh mana kita mampu mengolah. Sehingga pengetahuan tidak hanya sekadar kosa kata.

Bila anak tidak mengalami tiga hal di atas, anak akan menjadi mesin. Tidak bisa mengaplikasikan ilmunya. Karena tidak paham sebab akibat. Efeknya ilmu di sekolah tidak berhubungan dengan hidupnya.

Praktek mengalami, memahami sebab dan mendesain sebab akibat akan selalu terkat dengan pekerjaan apapun. Seorang pemimpin yang tidak memahami sebab akibat, tidak akan mempunyai kemampuan memprediksi dan merencanakan.

Mengalami, memahami dan mendesain. Agar anak memiliki kemampuan mendesain, seharusnya yang diperbesar adalah komponennya. Kesalahan paradigma pendidikan kita saat ini justru yang diperbesar komponennya, serta lupa menyambungkan, mengkaitkan dengan realitas.

Diskusi dengan Sabrang (Noe Letto) serta diselingi dengan akustik dari Letto, menjadi sesi terakhir dari Festival Sekolah Keluarga yang diadakan Salam sejak 30 April 2016 sampai 02 Mei 2016 kemarin di Rumah Maiyah. Acara ini dihadiri para orang tua murid, guru dan tamu undangan, serta pameran wayang dari mbah Tertib Suratmo.

Kebahagiaan dan Kebersamaan dengan penampilan Morgan.
Kebahagiaan dan Kebersamaan dengan penampilan Morgan.

Dalam selingan akustik bersama Letto, ada penampilan dari Morgan yang memainkan gitar membawakan lagu Ruang Rindu. Morgan ini masih TK, setengah autis dan pendengarannya hanya berfungsi 45%. Tapi segala kekurangan tersebut tak menghalangi penampilan Morgan. Audiens dan kakak-kakak Letto ikut membersamai penampilan Morgan.

Lagu Sebelum Cahaya menjadi penutup diskusi, sekaligus menutup Festival Sekolah Keluarga. Semoga SALAM akan semakin bercahaya. (Tita)