Daur (110)

Lemah, Bodoh dan Tergantung

Setelah pikirannya merasa sedikit puas dengan protesnya, Markesot berharap akhirnya ia tuturkan juga laporannya tentang Negara, Nagari, Negeri, Keraton, Kerajaan, Kasultanan, Bilad, Baldatun Thayyibatun, Baladan Aminan, Baldatan Aminatan, Khilafah.

Cuma Markesot khawatir Saimon akan mengganggunya, meskipun Saimon tahunya Markesot sedang tidur nyenyak. Sesekali Markesot berlagak mengigau, supaya Saimon yakin ia benar-benar sedang beristirahat.

Sebenarnya sebagai Jin Saimon sedikit lebih tahu tentang gelombang dan suasana batin dibanding kebanyakan manusia. Saimon tidak bisa membaca persis, tetapi ia tahu sedang ada pergolakan di dalam pikiran Markesot, dan terkadang hal itu mengguncang jiwanya.

Biasanya cukup mudah bagi Saimon untuk meraba, membaca sekadarnya kemudian merumuskan kembali apa yang bergolak di dalam batin manusia. Tetapi rohani Markesot ini, meskipun kelihatannya kosong, tetapi dindingnya berlapis-lapis. Tidak terlalu mudah menembusnya, bahkan pun tatkala Markesot sedang tidur.

Bukannya Markesot tergolong manusia hebat, tetapi karena tidak banyak pekerjaan yang dilakukan Markesot dalam kehidupan dengan manusia, sehingga ia punya cukup banyak waktu untuk melakukan olah batin, jungkir balik batin, pelipatan dan penikungan batin, penyamaran dan peniadaan batin. Markesot bisa acting dalam tidurnya, seolah-olah ia tetap mengontrol panggung tempat pementasan berbagai macam lakon yang berlangsung di jagat batinnya.

***

Beberapa puluh tahun yang lalu ada seorang Raja Besar yang di sekitarnya ada tak kurang dari 39 Dukun atau orang pintar atau penyangga dan pelindung rahasia yang secara konstan mengelilingi Sang Raja. Banyak kesengsaraan yang ditimbulkan oleh keputusan-keputusan Sang Raja, sehingga mendorong Markesot untuk berpikir menemui Dukun-Dukun itu. Untuk apa?

Sang Raja sangat percaya dan relatif patuh kepada Dukun-dukun backingup nya. Kalau Markesot bisa bertemu, berdialog dan mempengaruhi alam pikiran si Dukun, dengan sedikit diprovokasi agar mengemukakan sesuatu kepada Sang Raja, ada kemungkinan akan lahir langkah-langkah yang sedikit atau banyak menguntungkan rakyat.

Markesot bertandang menemui salah seorang Dukun inti Sang Raja, yang paling dipercaya di antara lain-lainnya. Beliau ini tinggal di sebuah desa jauh dari kota, dekat perbukitan, di area yang dulu dipakai Kerajaan Majapahit membangun sejumlah Pesanggrahan untuk menginap tamu-tamu khusus dari Luar Negeri.

Tidak sengaja karena ketika mau berangkat ada seorang teman dari Kelompok yang menamakan dirinya Rakyat Berdaulat yang bertamu, enteng saja Markesot mengajaknya serta. Ketika sampai di jalanan depan rumah Dukun itu, tidak sukar untuk mengatur bagaimana caranya masuk. Karena toh tiap saat banyak tamu berdatangan. Markesot dan temannya hanyalah dua di antara mereka semua.

Tetapi ketika mendapat giliran untuk menghadap, Markesot membisiki temannya: “Tolong kosongkan hatimu. Sisakan satu hal saja: bahwa Sampeyan sedang menemani saya tanpa mengerti apa-apa”. Tatkala mereka berhadapan dengan Sang Dukun, Markesot benar-benar harus berlaku sebagaimana seharusnya.

Yakni, menjadi orang lemah, bodoh dan tergantung. Bertamu kepada Sang Dukun untuk mengeluhkan sesuatu hal, memohon petunjuk dan pertolongan. Markesot mencari apa yang akan dikeluhkan. Tapi bukan mengarang atau mengada-ada. Juga seluruh perilakunya bukan acting atau berlagak. Melainkan sungguh-sungguh menyurutkan dan mengkerdilkan diri sampai menjadi benar-benar lemah, bodoh dan tergantung.

Sekurang-kurangnya harus sebatas itu getaran, aura dan gelombang dari Markesot yang sampai ke batin Sang Dukun. Markesot harus membangun dinding sangat tebal pada frekuensi komunikasinya, agar muatan-muatan batin dan alam pikiran yang membawanya ke Sang Dukun tidak terbaca sama sekali. Nanti secara bertahap sejumlah muatan inti akan Markesot ungkapkan, tetapi harus tetap dibungkus dengan bahasa dan getaran kelemahan, kebodohan dan ketergantungan.

Setelah beberapa puluh kalimat dan sopan santun, Sang Dukun akan mempercayai identifikasi itu, sehingga kemudian tidak sengaja akan menurunkan kewaspadaannya. Dan kalau sudah pada tahap itu, Sang Dukun semakin tidak fokus untuk bisa waskita, jeli, peka dan lantip. Itulah momentum dan peluang bagi Markesot untuk melakukan subversi ide, pemikiran, usulan, meskipun tetap harus berwajah lemah, bodoh dan tergantung.

***

Strategi utama di depan Sang Dukun pastilah harus menghiasi komunikasinya dengan pujian-pujian dan kekaguman kepada Sang Raja. Kemudian menyatakan lebih takjub lagi mengemukakan “pasti orang yang mendampingi Sang Raja adalah manusia istimewa setingkat Begawan, Panembahan, orang bijak yang meskipun seolah-olah berposisi seperti Punakawan, namun sesungguhnya beliau adalah pengendali ke mana angin berhembus, ke mana asap membubung, pengelola suhu kapan panas kapan dingin, bahkan membalikkan siang menjadi malam, dan sebaliknya….

Karena dipuji maka Sang Dukun semakin kehilangan kewaspadaan. Memang ternyata dia lupa untuk kritis bahwa orang lemah, bodoh dan tergantung, tidak mungkin bisa menyusun kalimat-kalimat seperti itu, apalagi dengan muatan-muatan yang tidak terlalu bodoh.

Markesot menambahi, “saya yakin semua pemimpin-pemimpin dunia diam-diam berguru kepada Sang Raja. Terutama hal-hal yang menyangkut manajemen cuaca dan pengenalan terhadap beribu jenis katuranggan.”

Dasar-dasar pertimbangan Sang Raja memilih pembantu-pembantu di sekitarnya, memilih para Menteri dan Pejabat, sangat berbeda, bahkan terbalik, dibanding yang berlaku baku di seluruh dunia. Bahkan merasukkan prinsip ilmu dan cara memilih itu sehingga maresonansi sampai level paling bawah. Kerajaan kita ini benar-benar punya ilmu dan kawruh yang sangat khas dibanding Negara-negara di seluruh permukaan bumi. Itulah sebabnya Sang Raja tidak mungkin dilengserkan oleh siapapun, beliau berkuasa sudah sangat lama, sudah melebihi pendahulu beliau, dan rakyat sudah menetapkannya di dalam hati sebagai Raja seumur hidup….

Akan tetapi sesuatu mendadak terjadi dan sangat mengagetkan Markesot. Angin cukup besar berhembus, berputar mengelilingi ruangan pertemuan mereka. Tentu saja sejuk sapuan angin itu, tetapi setiap kali melewati wajah Markesot, ia berubah menjadi panas. Beberapa kali kemudian malah menjadi semakin panas.

Markesot langsung menoleh ke temannya yang duduk di sebelahnya. Tapi belum beberapa sekon, ia beralih melihat wajah Sang Dukun, karena terasa ada perubahan yang sangat membalikkan keadaan.

Benar. Wajah Sang Dukun berubah tegang dan memancarkan kemarahan. Kedua tangannya melakukan gerakan-gerakan tertentu, kemudian berdiri dan berkata, “tolong pintunya ditutup sesudah keluar dari ruangan ini” — kemudian Sang Dukun berlalu masuk ke ruang dalam rumahnya.

Markesot berdiri, diikuti temannya. Dan terus terang saat itu ingin langsung menonjok wajah temannya itu. Andaikan dia bukan Markesot.