Daur (228)

Lebah Dipimpin Wahyu

Tahqiq : “Manusia tidak bisa unggul atas lainnya sesama manusia, kecuali pada kasus yang parsial, pada batas ruang serta suatu penggalan waktu tertentu yang terbatas”

“Brakodin”, Markesot beralih ke Brakodin, “belum terjawab tadi pertanyaan Junit tentang apa boleh manusia biasa seperti kita ini mencemburui keistimewaan para Nabi dan Rasul yang dianugerahi wahyu dan mukjizat oleh Allah”

“Mbok Cak Sot sendiri yang menjawab”, jawab Brakodin, “supaya lebih mendasar dan lebih lengkap”

“Ayolah, Din”, Markesot mendesak.

“Saya takut tidak jernih. Karena saya sangat obsesif terhadap situasi masyarakat dan bangsa kita saat ini. Saya khawatir penjelasan saya mengandung kecenderungan yang bisa dianggap eskapisme oleh anak-anak muda sekarang. Nanti dianggap karena gagal menyelesaikan masalah bumi, maka lari ke mistik langit….”

“Saya mohon, Din. Seingat saya sudah tiga puluh tahun silam soal itu kita perbincangkan di Patangpuluhan”, kata Markesot, “Tolonglah saya jangan dikejami dengan kewajiban menguraikan sesuatu yang sudah ribuan kali saya jelaskan sejak puluhan tahun yang lalu”

Bener Cak”, sahut Tarmihim, “Brakodin yang tanggung jawab”

Rowahu Imam Brakodin”, Ndusin menambahi.

“Perawi hadits-hadits palsu”, Tarmihim lagi.

Brakodin merespons, “Nanti kalau saya sempurnakan dengan Sayyidina Markesot shollallohu ‘alaihi wa sallam kita bisa ditangkap Polsek lho….”

“Tidak masalah asal ditambah satu kata: semoga….”

“Ya. Sayyidina Markesot mudah-mudahan shollallohu ‘alaihi wa sallama

“Barang siapa bershalawat atasku satu kali, demikian sabda Rasulullah, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali, serta ditinggikan derajatnya di sorga sepuluh tingkat”

“Tapi mosok Sayyidina Markesot. Wagu dong”

“Bisa diganti Panjengenanipun, Tuanku, Tengku…”

“Hahaha…Tengku Markesot”

“Sudah, sudah, jangan ngelantur”, Markesot memotong.

Alhasil akhirnya Brakodin tidak bisa mengelak untuk menuturkan ingatan-ingatannya tentang dulu sekali pernah diungkapkan oleh Markesot.

Terdapat pandangan klasik yang baku hingga saat ini bahwa “wahyu” itu suatu jenis transfer hidayah atau ilmu atau apapun yang baik dari Allah khusus kepada para Nabi. Wahyu dipahami oleh umumnya Kaum Muslimin sebagai sesuatu yang spesifik, yang kuantitas maupun kualitasnya hanya diperuntukkan bagi Nabi-Nabi.

Wahyu dipahami sebagai transfer dari Allah berupa informasi atau perintah, yang bentuknya kata atau kalimat. Sedang “mukjizat” dibayangkan semacam kesaktian, kemampuan khusus, kekuatan ekstra, pada tingkat yang ajaib. Nabi Ibrahim dipahami memperoleh mukjizat kekebalan dari api, Nabi Musa telapak tangan bersinar dan tongkat pembelah air laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati, Nabi Muhammad membelah rembulan.

Wahyu dipahami sebagai sudah tidak lagi dipancarkan oleh Allah sepeninggal Nabi Muhammad, karena beliau penutup Nabi-Nabi dan Rasul pamungkas. Sampai-sampai Kaum Muslimin berpandangan bahwa karena biasanya yang menyampaikan Wahyu itu Malaikat Jibril, maka Baginda Malaikat senior ini pensiun sesudah wafatnya Nabi Muhammad.

Ummat Islam menggunakan pandangan bahwa kalau bukan Nabi, sesaleh apapun, sealim apapun, sesuci apapun, tidaklah mungkin memperoleh wahyu dari Allah. Sejumlah wacana menyebut ada transfer yang kadarnya lebih rendah dari wahyu, yaitu “karomah”, yang diperuntukkan bagi para Wali Allah. Sedangkan orang biasa seperti kita semua ini paling pol hanya mendapat “ilham”, atau “fadhilah”, semacam kelebihan pada setiap orang yang Allah menentukannya berbeda satu sama lain. Jarak atau gradasi dari ilham menuju karomah terkadang disebut mungkin bisa dicapai oleh manusia melalui perjuangan “tarekat”, dengan bermacam-macam cara, metode, jenis, aliran, termasuk bermacam-macam pula pembimbingnya, Guru atau Mursyidnya.

Fakta “fadldlalallahu ba’dlan ‘ala ba’dlin”, Allah menganugerahkan fadhilah yang berbeda pada satu manusia dari lainnya, membuat manusia itu unik, spesifik, tidak bisa diperbandingkan secara utuh kecuali sekadar satu dua unsurnya. Manusia tidak bisa unggul atas lainnya sesama manusia kecuali pada kasus yang parsial, pada batas ruang serta suatu penggalan waktu tertentu yang terbatas.

Bahkan pada hakikatnya setiap manusia itu “tunggal”. Karena setiap Allah menciptakan satu manusia, ia bukanlah manusia yang lainnya. Setiap butir kacang, bukanlah butir kacang yang bukan butir yang itu. Meskipun ada titik-titik pasir yang menghampar sesabana, meskipun kecilnya sama, warnanya sama, bentuknya seperti tidak berbeda – tetapi tetaplah pasir yang ini bukan pasir yang itu, pasir yang sana bukan pasir yang sini.

Setiap partikel adalah tunggal. Seluruh partikel yang membentuk alam semesta terdiri dari tunggal dengan tunggal-tunggal yang lain. Gumpalan dari setiap dan seluruh partikel yang masing-masing tunggal itu kelak berhimpun menjadi se-tunggal gumpalan, yang merupakan bagian sangat kecil dari Yang Maha Tunggal.