Lambaian Tangan di Stasiun Kereta

Catatan Jalan Bareng Pak Toto (1)

Permisi sebelumnya, kalau mungkin beberapa kalimat dalam tulisanku ini terkesan genit, cengeng atau lebih tepatnya ‘lebay’ kalau menggunakan istilah terkini. Karena memang sebetulnya tulisan ini kuambilkan dari catatan harian di buku diariku. Sebagaimana lazimnya catatan pribadi, tentu kata-kata yang tertuang sengaja dimaksudkan untuk dikonsumsi sendiri oleh sang penulis, bukan untuk khalayak umum. Sehingga bahasanya pun terkadang lebih polos dan terkesan ‘sok dramatis’. Tapi tidak apalah, aku yakin pembaca memahami itu.

Karena sebuah keharusan tertentu, dengan sedikit terpaksa kusuguhkan catatan ini untuk khalayak ramai. Tentu ada beberapa kalimat yang harus kupenggal, kuganti dan kutambahkan dari catatan aslinya. Harapanku satu, semoga tulisan ini — yang mungkin akan ada beberapa seri — bisa menjadi sambung rasa di antara kita.

***

Hari itu menjadi momen spesial bagiku, hari dimana pertama kali aku menjalankan tugas ngancani Pak Toto Raharjo pergi beberapa hari ke luar kota. Spesial buatku, karena beliau termasuk dalam daftar orang yang aku segani. Ya segan, pertama karena beliau sesepuh di Maiyah. Kedua, sebelum-sebelumnya aku punya persepsi bahwa beliau itu orangnya galak, angkuh dan berbagai bayangan yang menyeramkan lainnya. Maklumlah, dari beberapa kali perjumpaan sebelumnya beliau selalu menampilkan wajah dingin, minim senyum apalagi tertawa. Ditambah dengan kumis tebal melintang dan garis wajah keras menggurat di parasnya, sempurna bayangan seram itu.

Apalagi baru beberapa hari aku dekat dengan beliau.

Karena itu sebelum berangkat, aku sudah bersiap-siap bahwa hari ini akan menjadi perjalanan yang sangat menegangkan. Sepi dari bicara, minim cengkrama dan pasti jauh dari gelak tawa.

“Har, besok langsung ketemu di Stasiun Tugu ya. Jam 09.00 tolong diusahakan sudah sampai stasiun.”

Begitu kira-kira pesan di Whatsapp, dari Pak Toto.

Aku mengiyakan, meskipun agak sedikit terheran-heran. Kenapa. Karena jadwal keberangkatan kereta tertulis di tiket pukul 11.30. dan itu artinya kami harus menunggu kedatangan kereta selama 2 ½ jam di stasiun. Apa beliau tidak tahu bahwa jadwal berangkat jam 11.30, dan 2 ½ jam itu waktu yang sangat lama untuk urusan menunggu, atau apa beliau memang orang yang over disiplin, atau beliau sengaja menyediakan rentang waktu yang cukup longgar untuk berjaga-jaga dari berbagai kemungkinan. Berarti beliau itu orang yang gampang cemas, mudah khawatir. Berbagai simulasi pertanyaan terlontar di benakku.

Bapak satu ini memang penuh teka-teki. Begitulah caraku mengakhiri kebingungan menebak pertanyaan, mengapa Pak Toto menyuruku datang ke stasiun gasik sekali.

Baru beberapa tahun kemudian — tidak lama dari aku bercerita ini — rahasia itu terkuak, teka-teki yang sebenarnya sudah terlupakan itu kutemukan jawabannya. Sayang aku belum bisa menceritakannya kali ini. Semoga kesempatan lain dapat kuungkap jawaban itu. Karena ada adegan lain yang ingin kuceritakan lebih dulu.

***

Kami berdua tiba di Stasiun Tugu, aku datang lebih awal dan beberapa menit kemudian beliau menyusul datang.

Stasiun saiki wis ora manusiawi”. Stasiun sekarang sudah tidak manusiawi, itulah kalimat yang pertama beliau ucap saat bertemu. Dengan nada sedikit gusar dan raut muka yang kurang nyaman. Sengaja tidak kutanggapi, meskipun kembali bertanya-tanya, apa maksud ungkapan beliau itu. Sambil berjalan menenteng tas besar dengan suasana stasiun yang cukup ramai, menurutku itu bukan momen yang tepat untuk diskusi. Biarlah sesampai di ruang tunggu, sambil duduk santai nanti kutanyakan apa maksud kalimat itu.

Belum sempat aku bertanya, beliau sudah mendahului menjelaskan. Dengan diawali pertanyaan, “Har, coba perhatikan apa yang hilang dari stasiun, adegan apa yang menurutmu sudah tidak bisa lagi dijumpai di stasiun?”

Aku terdiam. Bingung. Bukan tidak punya jawaban, tapi justru bingung karena ada sekian banyak kemungkinan jawaban. Karena memang susana di stasiun hari ini benar-benar berbeda dengan dulu.

Belum juga aku sempat menjawab, beliau sudah menjawab sendiri pertanyaanya.

“Yang hilang dari stasiun hari ini, suasana romantis orang-orang melambaikan tangan melepas kepergian kereta. Karena para pengantar hanya dibolehkan menemani sampai pintu masuk stasiun, mereka tidak diperkenankan untuk masuk peron. Sangat berbeda dengan dulu. Kalau dulu orang dipersilahkan masuk peron, duduk-duduk bareng di ruang tunggu, atau bahkan mengantar masuk ke dalam kereta dan sebentar duduk di samping orang yang diantarnya pergi. Ketika sirine mulai berbunyi tanda kereta segera berangkat, para pengantar berjajar di pinggir rel kereta. Sesaat kemudian kereta berangkat diiringi dengan lambaian tangan para pengantar dan dari balik kaca jendela kereta. Entah saudara, pacar, sahabat atau siapa orang yang diantar membalasnya dengan lambaian tangan pula. Ada yang lama berdiri termangu menatap kereta sampai benar-benar tidak terlihat, ada yang segera bergegas pergi, ada yang terlihat murung karena mungkin berat hati melepas kepergian seseorang.”

Panjang sekali penjelasan beliau, dan itu semua diceritakan dengan ekspresi wajah tegang. Penggalan adegan romantis tapi diceritakan dengan nada kesal, jengkel dan marah.

“Diam-diam pengelolaan stasiun hari ini menghilangkan hak romantisme warga masyarakat. Orang saling melambaikan tangan saja tidak diberi kesempatan, ini kan tidak manusiawi.”

Sejenak beliau menghela nafas, diam dan menyulut sebatang rokok yang sejak tadi hanya dipegang dan tidak dinyalakan. Aku semakin terdiam, dan tegang.

Karena ini perjalanan pertamaku dengan beliau, dan belum begitu akrab, makanya aku lebih banyak memilih diam dan sesekali mengiyakan pendapatnya.

Yang dapat kurasakan dari kalimat-kalimat itu, tidak lain adalah lontaran-lontaran kegetiran hati beliau menyaksikan berbagai macam ketimpangan, kejanggalan dan keganjilan yang ada di sekelilingnya. Dan sepanjang perjalanan di dalam kereta tidak henti-hentinya beliau terus bercerita.