Catatan Mahasiswa Baru UM Mengaji Bersama CNKK, Malang 29 November 2016

Kulliyah dan Jaami’ah KiaiKanjeng di Universitas Negeri Malang

Bahwa menjadi mahasiswa universitas berarti tidak boleh masuk ke dalam kotak-kotak pemikiran yang sempit, sebab ciri utama kulliyah adalah komprehensivitas.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Prof. Dr. AH. Rofi’uddin, M.Pd., Rektor UM, bersama beberapa wakilnya mendampingi Cak Nun di panggung dan menyaksikan bagaimana Cak Nun membukakan kunci-kunci dasar yang selayaknya dimiliki para mahasiswa baru agar dapat menjadi subjek yang memiliki konstruksi dan personal character dalam menjalani hari-harinya sebagai penimba ilmu di kampus.

Para mahasiswa baru ini telah diperkenalkan pada tahapan pendidikan: Tadris (madrasah), Ta’lim, Tafhim, dan Ta’dib. Madrasah adalah satu tahap pendidikan yaitu yang paling dasar, yang anehnya di Indonesia sampai jenjang sekolah menengah dan atas tetap disebut madrasah. Bahwa menjadi mahasiswa universitas berarti tidak boleh masuk ke dalam kotak-kotak pemikiran yang sempit, sebab ciri utama kulliyah adalah komprehensivitas. Adik-adik mahasiswa baru UM ini diajak mengenal kelengkapan nilai dasar hidup: benar-salah, baik-buruk, dan indah-jelek. Cara memberi contohnya ya pun dari yang paling sederhana, “Saya pakai baju ini benar atau salah? Baik atau buruk? Indah atau jelek?,” lempar Cak Nun kepada mereka untuk memastikan pemahaman mereka.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Tetapi Cak Nun mengenal betul psikologi remaja generasi milenial ini. Muatan ilmu disampaikan secara bertahap dalam takaran yang dirasakan pas untuk nanti diteruskan lagi. Ada saat para mahasiswa baru ini ingin mengekspresikan jiwa remaja mereka. Mas Alay diminta Cak Nun menyanyi untuk mereka. Lagu Letto dipilihnya: Cinta Bersabarlah dan Ruang Rindu. Sontak gemuruh suara menggema di gedung ini. Bak para penggemar di depan sang artis. Histeris mereka saat terdengar perlahan suara indah Mas Alay mengalun. Satu di antara mereka, kemudian ikut nyanyi. Suasana yang sama juga makin hangat ketika Mas Doni bawakan One More Night Maroon 5. Klop sudah. Kuliah umum sejenak memasuki switch menuju fase yang menyegarkan, otot-otot merileks disebabkan oleh kegembiraan.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Meskipun demikian, Cak Nun ternyata memang ahli dalam memaksimalkan sesuatu. Sebelum lagu-lagu ini, diajaklah para mahasiswa baru ini untuk mengenal dasar dalam musik, solmisasi, pelog-slendro, serta diminta mereka mengeluarkan suara lewat lagu Gundul-Gundul Pacul. Pengetahuan dasar musik ini diproyeksikan ke dalam hidup yang luas. Bahwa dalam hidup itu ada pemilahan, ada beda karakter di antara dua hal atau lebih, ada urutan atau struktur, ada tahapan sebagaimana tangga nada. Mereka dilatih mengenal detail. Saat mereka mulai menikmati musik KiaiKanjeng, khususnya saat Mas Jijid mengajak mereka bermain dengan lewat lagu Cublak-Cublak Suweng di tengah lagu One More Night yang dinyanyikan Mas Doni, kemeriahan yang disertai pemahaman pun menjadi maksimal pula. Baik jiwa maupun otak terisi keduanya. Lewat musik itu sebuah komprehensi telah dicontohkan. (hm/adn)