Reportase Kenduri Cinta Februari 2016

Kufur Award – Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan

Manipulasi adalah ngapusi,  citra itu adalah sesuatu yang baik, sedangkan kapitalisasi adalah modal, dan pencitraan adalah sesuatu yang sifatnya negatif.

Apakah kita hidup dalam kepura-puraan? Apakah yang kita jalani setiap hari merupakan sebuah hal yang tidak alami kita lakukan? Jika memang apa yang kita lakukan selama ini sudah menjadi sebuah rutinitas, dan bukan karena dibuat-buat, maka itu adalah citra kita. Tetapi, jika apa yang kita lakukan selama ini hanya untuk demi menjaga nama baik kita dengan hal-hal yang sebenarnya bukan kebiasaan kita, maka itulah pencitraan.

Kenduri Cinta edisi Februari 2016 mengangkat tema “Kufur Award: Manipulasi Citra – Kapitalisasi Pencitraan”. Tahun lalu, Kenduri Cinta juga pernah mengangkat tema “Oraisinalitas” pada bulan April dan “Manusia Gagal Identitas” di bulan Oktober. Pembahasan tentang Citra ini sebenarnya adalah sebuah tema yang merupakan ranting dari tema besar tentang kesejatian. Segala sesuatu yang sejati, maka tidak ada manipulasi di dalamnya. Perjalanan manusia selama di dunia, pada hakikatnya adalah mencari dirinya yang sejati berdasarkan perjanjian yang sudah disepakati sebelum ia lahir ke dunia sebagai bayi.

Jum’at, 12 Februari 2016 adalah jum’at kedua di bulan Februari tahun ini. Kenduri Cinta, sebuah forum yang sudah berjalan 16 tahun ini memberikan sebuah hikmah tersendiri kepada jamaah yang hadir setiap bulannya: istiqomah. Kenduri Cinta mampu mewujudkan keistiqomahannya dalam proses selama 16 tahun berjalan hingga hari ini, sebuah forum yang mampu membuktikan bahwa ditengah ramainya ibukota Indonesia, Kenduri Cinta mampu bertahan. Perjalanan 16 tahun ini tentunya bukanlah sebuah pencitraan belaka. Apa yang dilihat oleh jamaah Maiyah selama ini terhadap Kenduri Cinta, itulah wajah Kenduri Cinta yang sebenarnya. Layaknya sebuah komunitas, dalam Kenduri Cinta pun orang datang dan pergi silih berganti, dan bergantinya orang yang ada di dalamnya bukan menjadi sebuah alasan bahwa Kenduri Cinta tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Hujan turun sejak siang hari cukup deras mengguyur Jakarta, dan seperti biasanya, Plaza Taman Ismail Marzuki sudah dikondisikan sejak siang hari oleh beberapa penggiat Kenduri Cinta. Baliho bahkan sudah terpasang sejak hari selasa malam. Setelah memastikan hujan sudah berhenti, beberapa penggiat membersihkan genangan sisa hujan, dan menggelar terpal. Ibrahim, Tri Mulyana, Nashir, Hendra, dan beberapa teman penggiat mengawali Kenduri Cinta dengan mengajak jamaah yang sudah hadir untuk melantunkan Doa Tahlukah dan Hizib Wabal, yang akan selalu dibacakan sepanjang tahun 2016 ini diseluruh simpul Maiyah.

Prolog

Tri Mulyana kemudian memoderasi sesi prolog, bersama Adi Pudjo, Donny Kurniawan dan Ali Hasbullah. Tri Mulyana mengantarkan diskusi terkait tema Kenduri Cinta bulan ini dengan beberapa contoh, apa yang terjadi di dunia marketing, sebuah produk dipromosikan dengan segala manipulasi agar memikat konsumen untuk memilih produknya. Iklan sebuah produk adalah salah satu contoh nyata bagaimana sebuah pencitraan dilakukan. Tri Mulyana menambahkan, seperti yang terjadi di dunia politik Indonesia saat ini, dalam setiap ajang pemilihan umum, pecintraan seolah menjadi sebuah hal yang dianggap wajar oleh semua orang, terutama bagi kandidat calon anggota dewan, calon kepala daerah bahkan sampai calon presiden sekalipun. Pencitraan sudah dianggap sebagai hal yang lumrah, seakan-akan menjadi sebuah syarat yang tidak tertulis yang harus dilakukan pada setiap kampanye pemilihan umum.

Kenduri Cinta Februari 2016; KUFUR AWARD – Manipulasi Citra, Kapitalisasi Pencitraan.
Kenduri Cinta Februari 2016

Orang saat ini benar-benar tidak percaya diri bahwa orang lain tidak mengenalnya dengan baik, sehingga diperlukan sebuah pencitraan agar dirinya dikenal oleh masyarakat luas. Dan yang terjadi dalam peristiwa pencitraan, tidak penting apakah seorang calon kandidat yang akan dipilih itu seperti apa latar belakang dan sejarah hidupnya, yang paling utama bagi mereka adalah mereka tercitrakan dengan baik di mata masyarakat dengan teknologi bernama pencitraan.

Adi Pudjo menarik benang merah dari tema ini ke syair Menyorong Rembulan karya Cak Nun, bahwa Gerhana Rembulan itu terjadi karena matahari ditutupi oleh bumi sehingga matahari tidak bisa memantulkan cahayanya ke bulan, dan cahaya tersebut tidak sampai ke permukaan bumi. Kiasan ini menurut Adi Pudjo seperti terjadi hingga hari ini, di mana para kekasih Allah tidak bisa memantulkan cahaya Allah ke penduduk bumi karena tertutup gerhana yang kita kenal sebagai pencitraan. Dewasa ini, masyarakat begitu mudahnya kagum dengan orang-orang yang baru dikenalnya di televisi, koran, media masa, media sosial dan media publikasi lainnya. Orang sudah tidak perduli lagi dengan sejarah hidupnya dan perjalanan hidupnya, asalkan hari ini tampak baik di mata mereka, maka saat itu pula orang itu akan dianggap baik. Bahkan, jika di kemudian hari pencitraan orang itu kemudian luntur, masyarakat akan dengan mudah memakluminya karena mereka akan menemukan sosok yang baru, yang juga lahir dari pencitraan yang lain.

Menafsirkan apa yang digambarkan dari poster Kenduri Cinta kali ini, Adi Pudjo menambahkan bahwa para tokoh-tokoh yang melakukan pencitraan-pencitraan selama ini tidak berbeda dengan kiasan Cak Nun terkait Gerhana Bulan. Tokoh-tokoh yang sengaja melakukan pencitraan menutupi cahaya dari matahari yang sejati dengan cahaya yang dibuatnya sendiri dari api yang berasal dari dalam dirinya atas dasar nafsunya belaka. Menutup pemaparannya, Adi Pudjo menyimpulkan bahwa setidaknya ada 3 penyakit dalam diri manusia yang bermuara pada kehancuran individu: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman pada diri sendiri yang terlalu berlebihan.

Ali Hasbullah mencoba mencari korelasi antara tema Kenduri Cinta bulan ini dengan tema Kenduri Cinta bulan lalu: Gerbang Wabal. Tema bulan lalu yang khusus diangkat untuk memohon keadilan kepada Allah atas pelanggaran terhadap batas-batas yang sudah ditentukan, dan salah satu pelanggaran batas tersebut adalah pencitraan yang sekarang ini justru dianggap wajar oleh masyarakat. Ali Hasbullah menjelaskan bahwa citra adalah sebuah output dari sebuah proses yang terus menerus dilakukan oleh seseorang, bahwa seseorang dicitrakan menjadi orang baik itu benar-benar murni karena memang secara proses perjalanannya orang tersbeut berbuat baik. Sedangkan pencitraan adalah proses manipulasi terhadap citra yang sebenarnya. “Kufur sendiri memiliki arti menutupi, secara bahasa artinya adalah menutupi. Sedangkan istilah kafir kemudian dipahami sebagai peristiwa pengingkaran terhadap sebuah kebenaran”, lanjut Ali.

Menarik ke sejarah Islam bahwa di zaman Rasulullah SAW, sebenarnya orang-orang Quraisy percaya terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tetapi mereka menutupi kebenaran itu sehingga mereka kemudian disebut sebagai orang kafir. Dan pencitraan sendiri sebenarnya juga merupakan peristiwa menutupi kebenaran yang sesungguhnya, yaitu menutupi citra yang sesungguhnya. Seseorang yang sebenarnya adalah orang yang jahat dapat melakukan pencitraan agar dirinya dianggap sebagai orang yang baik. Orang yang sebenarnya tidak pantas menjadi seorang pemimpin, melakukan pencitraan agar dirinya dianggap menjadi orang yang pantas menjadi pemimpin. Itulah realita yang kita lihat hari ini, dimana orang berlomba-lomba mencitrakan dirinya agar dianggap orang lain sebagai orang yang baik. Dan media sosial menjadi medan pencitraan yang paling murah saat ini.

“Citra itu hasil dari perilaku kita, seperti halnya Rasulullah SAW yang memiliki perangai sebagai orang yang sangat dipercaya sehingga beliau memiliki gelar “Al Amin”, lanjut Ali yang kemudian menceritakan bagaimana Rasulullah SAW bahkan tidak hanya dipercaya oleh para sahabat-sahabatnya tetapi juga dipercaya oleh musuh-musuhnya. Gelar Al Amin yang didapatkan oleh Rasulullah SAW saat itu bukanlah sebuah target, melainkan sebuah output dari perilaku Rasulullah SAW yang alami, bukan dari hasil pencitraan yang bersifat temporer. Ali menjelaskan betapa jauh perbedaan antara citra dan pencitraan, jika citra adalah sebuah hasil dari sebuah proses yang sifatnya alami, tidak ditargetkan dan tidak dicita-citakan. Sedangkan pencitraan adalah sebuah manipulasi citra yang sebenarnya penuh kepalsuan, karena seseorang yang melakukan pencitraan itu memiliki niat agar ia dicitrakan sesuai dengan pencitraan yang ia lakukan.

Orang yang melakukan pencitraan akan terfokus pada hasil dari pencitraannya, tidak mementingkan prosesnya. Sebaliknya, citra adalah sebuah hasil dari proses yang dilakukan secara alami oleh seseorang, yang bahkan orang tersebut tidak pernah fokus terhadap citra yang suatu saat melekat dalam dirinya. Yang menjadi fokus utamanya adalah proses yang ia alami setiap hari. Ia tidak mementingkan bahwa apakah kelak akan dikenal sebagai orang alim, orang baik, orang dermawan, orang berilmu dan sebagainya, tetapi yang ia lakukan adalah untuk tetap fokus terhadap proses yang ia jalani. Ali menegaskan, seperti yang berulangkali dipahami di Maiyah bahwa yang dilakukan oleh manusia adalah terus menerus berproses untuk mencari kebenaran, bukan merasa paling benar.

Seperti yang dilakukan oleh Cak Nun dengan Maiyahan selama ini, banyak orang yang bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan utama Cak Nun dengan Maiyah ini. Jika kita melihat animo masyarakat terhadap Maiyah, ketika Maiyahan berlangsung dihadiri oleh banyak sekali orang. Belum lagi bagaimana kesan orang-orang yang mengikuti Maiyahan secara rutin. Maiyah seringkali dicurigai oleh banyak orang sebagai sebuah alat politik yang akan digunakan oleh Cak Nun suatu saat, dan pada kenyataannya kecurigaan tersebut tidak pernah terbukti hingga hari ini. Seringkali orang bertanya kepada Cak Nun tentang tujuan Maiyahan yang dilakukan selama ini, Cak Nun justru sering berkelakar dengan menjawab; tujuan saya biar ditraktir orang ketika makan di warung. Tentu ini hanya sebuah jawaban guyon khas Cak Nun dalam rangka merespon pertanyaan semacam itu tadi.

Maiyah hadir di tengah keruhnya manipulasi-manipulasi citra di masyarakat saat ini, bahkan jika ada orang yang berani melakukan pencitraan di panggung Maiyah, justru secara otomatis orang tersebut membuka sendiri jatidirinya tanpa disadarinya. Karena di Maiyah sudah terbiasa dan terkondisikan sejak awal bahwa tidak ada rekayasa di Maiyah, semua orang berhak untuk berbicara, semua orang berhak untuk berpendapat, semua orang berhak untuk meyakini kebenaran apapun yang ia dapatkan di Maiyah, karena di Maiyah kita mencari apa yang benar bukan siapa yang benar.

Donny Kurniawan mencoba memaparkan tema Kenduri Cinta kali ini dengan memulai dari tiga pertanyaan; pertama, Apakah ini baik?, kedua, Apakah ini buruk?, ketika, Apa akibat dari hal ini?. Ketiga pertanyaan itu menurut Donny yang kemudian akan mampu melahirkan kesimpulan yang lebih detail terhadap setiap persoalan. Dari tema Kenduri Cinta kali ini, bisa ditarik 3 kata dasar; Kufur, Citra dan Pencitraan. Dari 3 kata tersebut, jika kemudian diaplikasikan kepada 3 pertanyaan tadi, misalnya diambil salah satu kata, maka akan memunculkan; Apakah Citra itu baik? Apakah Citra itu buruk? dan Apakah akibat dari Citra? Pertanyaan yang sama dapat diaplikasikan pada kata Pencitraan dan Kufur.

Prolog Kenduri Cinta Februari 2016
Prolog

Donny berpendapat bahwa citra lebih dekat kepada pemahaman yang bersifat positif. Misalnya, bahwa seseorang itu tercitrakan sebagai orang yang baik karena memang sejak awal ia selalu melakukan kebaikan-kebaikan yang tanpa pamrih, sehingga ia tidak peduli dengan apapun komentar orang-orang di sekitarnya, yang paling panting baginya adalah terus berbuat baik. Sebaliknya, pencitraan itu lebih cenderung kepada pemahaman yang negatif. Karena, pencitraan adalah sebuah perilaku yang sebenarnya hanyalah manipulasi proses. Seseorang yang melakukan pencitraan karena pada dasarnya ia tidak tercitrakan dengan baik, sehingga ia memanipulasi citra dirinya dengan cara melakukan pencitraan. Seseorang yang sedang berkampanye ketika pemilu, rela melakukan sebuah aktifitas yang sebelumnya tidak ia lakukan demi kesan positif terhadap dirinya di mata masyarakat.

Untuk memasuki ke beberapa peristiwa yang terjadi dan ramai diperbincangkan oleh publik akhir-akhir ini, Donny mengajak semua yang hadir untuk berpikir lebih detail agar memandang sebuah persoalan benar-benar dengan mata yang jernih. Artinya, benar-benar dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki tanpa intervensi oleh orang lain. Beberapa peristiwa yang cukup menyita perhatian publik mulai dari isu perpanjangan kontrak freeport yang kemudian disusul dengan kasus terbongkarnya prostitusi selebritis, kemudian ada peristiwa ledakan di Jl. Thamrin Jakarta, dan beberapa peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan, apakah ada kaitannya dengan pencitraan seseorang atau tidak? Apakah ada kaitannya dengan citra seseorang atau tidak? Apakah ada kaitannya dengan kekufuran seseorang atau tidak? Tentu akan muncul jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dari setiap orang dengan kesimpulan yang berbeda, karena setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda satu sama lain.

Sesi prolog berjalan cukup hangat ketika salah satu jamaah yang bernama Muslimin menanggapi tema tentang citra dan pencitraan. Menurutnya, citra dan pencitraan tidak bisa dibenarkan atau disalahkan secara absolut, sifatnya tetap relatif. Karena sejatinya kita tidak akan pernah tahu apa niat yang ada dalam diri seseorang ketika melakukan sesuatu perbuatan. Muslimin berpendapat baik atau buruknya tentang citra atau pencitraan itu sifatnya relatif, karena apa yang kita lihat dari seseorang adalah citra. Muslimin berpendapat bahwa pencitraan atau bukan itu hanya bersifat dugaan dari interpretasi kita masing-masing.

Tri Mulyana mengajak Muslimin untuk berdiskusi tentang citra dan pencitraan. Muslimin berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh seseorang itu adalah citra, sedangkan pencitraan atau bukan itu berada pada tataran niat di dalam hati yang tidak bisa kita ketahui. Sedangkan Tri Mulyana menggunakan cara pandang yang berbeda, yang digunakan oleh Tri Mulyana adalah pendekatan yang bersifat perasaan. Seseorang yang sudah terbiasa untuk menganalisa sebuah fenomena dan perilaku, maka akan mampu merasakan bahwa sebuah perilaku yang dilakukan oleh seseorang itu merupakan pencitraan atau citra. Sedangkan yang dijadikan landasan oleh Muslimin hanyalah informasi yang berasal dari media masa dan Muslimin berpendapat bahwa perilaku yang dilakukan oleh orang-orang di media masa itu adalah citra bukan pencitraan. Sehingga, Muslimin berpendapat bahwa apapun yang dilakukan oleh seseorang itu adalah citra. Sedangkan pencitraan atau bukan, sejatinya hanya orang yang melakukan itu sendiri yang tahu secara pasti, orang lain hanya bisa menduga-duga atas interpretasinya sendiri.

Berbeda dengan Ahmad yang berpendapat bahwa setiap orang itu pasti melakukan pencitraan, dan secara tidak langsung setiap manusia akan menjadi bahan omongan bagi orang lain di sekitarnya. Dan menurut Ahmad, sebagai manusia biasa juga tidak berhak untuk menjustifikasi apakah seseorang melakukan pencitraan atau tidak.

Donny mencoba merespon, bahwa apapun yang dilakukan oleh seseorang akan berdampak pada dua asumsi: baik atau buruk. Donny menggarisbawahi tentang citra, bahwa yang menjadi landasan adalah niatnya, ketika seseorang berniat untuk berbuat baik maka akan berakhir pada sebuah kebaikan. Meskipun di dalam prosesnya orang tersebut mendapat hinaan dan cacian, Donny berpendapat bahwa hal tersebut membuktikan bahwa proses kebaikan yang ia lakukan belum selesai.

Donny melanjutkan bahwa jika kita mau lebih mendalam, sebenarnya kita tidak boleh memiliki asumsi jelek terhadap orang lain, seperti yang sudah berlaku di Maiyah bahwa kita tidak berhak menuduh orang lain itu jelek atau buruk. Bahkan Cak Nun sendiri pernah mengatakan, kita sendiri pun sebenarnya tidak etis mengatakan diri kita itu baik atau tidak, karena juri yang sesungguhnya adalah Allah. Ali kembali menekankan perbedaan antara citra dan pencitraan. Citra adalah output dari perilaku atau proses yang berjalan secara alami, tanpa rekayasa dan tanpa ada niatan dan tujuan untuk mendapatkan citra. Sedangkan Pencitraan, menurut Ali lebih kepada sebuah tujuan yang memang sejak awal orang yang melakukan pencitraan bertujuan mendapatkan citra.

Ali juga menambahkan bahwa media masa sekarang ini tidak bisa diandalkan sebagai salah satu rujukan tentang citra seseorang, karena media masa saat ini juga memiliki kepentingan terhadap pasar. Minimal menurut Ali, kita berani mempertanyakan tentang fakta yang diberitakan oleh media masa terkait citra seseorang. Pada tahap selanjutnya, kita bisa mencari informasi dari sumber yang lainnya terkait orang tersebut. Dan citra tidaklah didapatkan dari sebuah proses yang singkat, apalagi dengan metode pencitraan. Pada intinya, Ali berpendapat bahwa yang perlu kita lakukan adalah waspada dengan tidak menerima informasi dari manapun saja tanpa adanya filter.

Tri Mulyana menutup sesi prolog dengan sebuah penggambaran, bahwa ketika orang yang sakit sariawan lebih memilih mengobatinya dengan meminum air garam daripada meminum obat yang diiklankan di media masa. Citra yang sudah melekat pada air garam itu tidak akan mudah disangkal oleh sebuah iklan obat sariawan yang dimunculkan di media masa, karena air garam sudah terbukti mampu mengobati sariawan jauh sebelum obat sariawan diproduksi oleh industri farmasi dan diiklankan di media masa. Artinya, Citra itu akan bertahan dalam waktu yang lama sedangkan pencitraan itu tidak akan bertahan lama karena digunakan untuk tujuan atau kepentingan yang sesaat.

Sebelum melanjutkan diskusi sesi pertama, Tri Mulyana menyampaikan informasi bahwa Penggiat Kenduri Cinta akan melaksanakan Musleng (Musyawarah Lengkap) Kenduri Cinta 2016, pada tanggal 27 Februari 2016 di SMKN 27 Jakarta Pusat. Musyawarah Lengkap ini sendrii merupakan agenda rutin Kenduri Cinta setiap tahunnya di mana salah satu agendanya adalah untuk membentuk kepengurusan Komunitas Kenduri Cinta periode berikutnya. Tri Mulyana mengajak jamaah untuk ikut berpartisipasi di Musyawarah Lengkap Kenduri Cinta ini. Dan selain Musyawarah Lengkap, Kenduri Cinta juga memiliki Forum Reboan yang menjadi forum rutin mingguan yang menjadi ‘dapur’ bagi Kenduri Cinta. Di Forum Reboan inilah persiapan dan materi Kenduri Cinta setiap bulannya dibahas dan dimatangkan. Sesi prolog ditutup dengan penampilan Restu yang kemudian disambung dengan penampilan Jojo and Friends.

Menggali Citra dan Pencitraan

Lewat pukul sepuluh malam, suasana Kenduri Cinta sudah dipenuhi jamaah, bahkan tampak beberapa orang berdiri di bagian belakang karena tidak kebagian area untuk duduk. Mengawali diskusi sesi pertama, Tri Mulyana mengantarkan dengan sedikit mengingat pembahasan tema KC Maret 2015, Ateisme Agama terkait cara pandang, sudut pandang, jarak pandang dan resolusi pandang. Metode inilah yang menjadi pondasi bagaimana kita kemudian mampu menyikapi sebuah persoalan, sehingga kita tidak hanya berasumsi terhadap sebuah persoalan berdasarkan satu sumber informasi saja.

Fahmi Agustian kembali menambahkan informasi terkait perjalanan 16 tahun Kenduri Cinta tentu tidak terjadi begitu saja tanpa sebuah proses. Setiap bulannya, teman-teman penggiat mempersiapkan segala sesuatunya terkait persiapan Maiyah Kenduri Cinta, mulai dari menggagas tema yang akan diangkat, menyusun mukadimah, hingga persiapan teknis seperti; pembuatan desain baliho dan backdrop, pemasangan baliho, mengkondisikan tenda dan sound system hingga menggelar karpet dan juga persiapan non teknis yang dikerjakan secara kolektif oleh teman-teman penggiat Kenduri Cinta. Dan tidak hanya mempersiapkan forum rutin bulanan saja, teman-teman penggiat Kenduri Cinta juga ada yang bertugas di bidang literasi di mana salah satu tujuannya adalah mengumpulkan data dan informasi sebanyak mungkin tentang Maiyah.

Jojo and Friends
Jojo and Friends

Terkait pengumpulan data ini, Fahmi menekankan bahwa hal ini menjadi sebuah solusi ketika Maiyah tidak dianggap dan tidak dicatat oleh dunia mainstream, maka sudah seharusnya jamaah Maiyah yang menjadi pelaku utama yang memiliki kewajiban untuk mengumpulkan data informasi tentang Maiyah itu sendiri, sehingga di kemudian hari Maiyah memiliki warisan kekayaan khasanah dan ilmu Maiyah bagi generasi yang akan datang. Terlebih lagi, banyak dari jamaah Maiyah saat ini yang tidak mengalami proses-proses awal lahirnya Maiyah, kebanyakan dari jamaah Maiyah saat ini tidak memahami sejarah awal bagaimana proses PadhangmBulan, ibu dari simpul Maiyah hingga kemudian lahir simpul-simpul Maiyah lain; Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Paperandang Ate, Bangbang Wetan, Obor Ilahi, dan terus tumbuh simpul-simpul Maiyah tunas baru, seperti Maneges Qudroh, Juguran Syafaat, Jamparing Asih, Majelis Gugur Gunung, Waro’ Kaprawiran, Maiyah Dusun Ambengan Lampung Timur, dan beberapa simpul lain yang dimotori oleh anak-anak muda. Mungkin orang di luar Maiyah ada yang mencatat tentang Maiyah, tetapi para penggiat dan jamaah Maiyah saat ini yang seharusnya melakukan hal tersbeut sebagai tabungan bagi generasi yang akan datang.

Dan proses pengumpulan data dan informasi yang difokuskan di wilayah literasi ini juga dilakukan oleh Cak Nun sendiri. Sebagai informasi, saat ini Cak Nun rutin menulis tulisan-tulisan baru di laman CakNun.com, di mana tulisan-tulisan tersebut belum pernah dimuat sebelumnya dan merupakan tulisan yang benar-benar baru. Tentu sebagai jamaah Maiyah kita juga memiliki tanggung jawab moral terkait pengumpulan data dan informasi tentang Maiyah ini.

Membahas tentang citra dan pencitraan, Fahmi kembali menjelaskan sedikit tentang apa yang sudah dibahas di diskusi sesi prolog, dan mempersilahkan Sabrang untuk langsung terlibat pada diskusi sesi satu. “Dari apa yang sudah diceritakan tadi (diskusi sesi prolog), itu sudah menjadi pemetaan yang sangat bagus, tentang perbedaan antara citra dan pencitraan. Pencitraan adalah sebuah kata kerja yang dilakukan agar terjadinya sebuah Citra”, respon Sabrang atas diskusi pada sesi prolog tadi.

Pencitraan dijelaskan oleh Sabrang sebagai sebuah kata kerja di mana tujuannya adalah citra. Sedangkan citra adalah sebuah informasi yang kita tangkap atau yang terekam dalam otak kita tentang sesuatu atau tentang seseorang. “Pada dasarnya kita tidak mengenal orang lain sama sekali, yang kita kenal adalah citra orang itu berdasarkan informasi yang kita punya. Yang ada di kepala kita adalah pendapat kita tentang orang lain”, lanjut Sabrang. Pandangan seseorang terhadap orang lain hanyalah berupa informasi orang tersebut. Misalnya, Ali memiliki sekian informasi tentang Ahmad. Yang ada dalam kepala Ali hanyalah informasi tentang Ahmad, bukan Ahmad nya yang masuk ke dalam kepala Ali. Tetapi hanya sebatas informasinya saja berdasarkan pengalaman Ali bersama Ahmad. Dan kita memiliki beragam informasi terhadap sahabat, saudara, pacar, istri, suami bahkan orang tua kita sekalipun yang ada dalam kepala kita adalah informasi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita tentang mereka. Karena tidak setiap detik kita bersama mereka sehingga sangat mustahil kita mampu mengenal dengan sangat detail tentang orang lain 100%. Yang ada dalam pikiran kita adalah interpretasi kita tentang mereka berdasarkan pengalaman kita dengan mereka.

“Jadi kadang-kadang citra itu sangat terlimitasi oleh pengetahuan kita terhadap orang lain (yang kita citrakan)”, lanjut Sabrang. Sabrang menjelaskan bahwa perkembangan pengetahuan kita terhadap orang lain akan memperlengkap citra kita terhadap orang tersebut, tetapi menurut Sabrang bahwa kita harus tetap menyadari bahwa itu adalah persepsi kita tentang orang tersebut, karena kita tidak setiap detik bersama orang tersebut.

“Orang perangainya juga bisa berubah-ubah sepanjang hidupnya. Kalau saya sendiri melihat seseorang bersifat pemarah, itu bukanlah sebuah citra, itu hanya merupakan keadaan sesaat ketika dia menghadapi sebuah masalah. Pemarah itu tidak bisa menjadi sebuah potret bagi seseorang. Tapi kalau saya tahu apa yang menyebabkan dia marah, maka saya akan tahu hal-hal yang membuat dia marah. Ketika saya memahami belief system dalam dirinya, apa yang membuatnya marah, sedih, bahagia dan lain sebagainya, maka saya akan lebih mengenal dia daripada melihat sekilas-sekilas”, lanjut Sabrang. Salah satu contoh yang disampaikan oleh Sabrang adalah fenomena ketika ibu-ibu berjilbab naik motor yang ketika menyalakan lampu sein ke kiri tetapi membelokkan motornya ke kanan. Yang terjadi akibat pengalaman serupa yang berulangkali maka citra yang terbangun adalah bukan kepada perempuan tersebut yang menaiki motor, tetapi terhadap atribut yang dipakai oleh perempuan yang sedang menaiki motor: jilbab.

Mau tidak mau, karena berdasarkan pengalaman yang terus berulang ketika kita bertemu dengan perempuan berjilbab yang sedang naik motor, maka citra yang kita miliki adalah bahwa lampu sein sebelah kiri yang menyala, kita akan menduga bahwa motor tersebut akan dibelokkan ke kanan. Hal ini dikarenakan berdasarkan informasi yang kita terima, baik itu berdasarkan pengalaman pribadi atau berdasarkan informasi yang kita dapat dari media sosial misalnya. Hal yang sama juga terjadi ketika kita diperlihatkan bagaimana seorang pejabat yang mau turun ke akar rumput, membaur dengan masyarakat di pasar, di jalan, di selokan dan sebagainya kemudian kita merasa bahwa pejabat itulah yang sangat merakyat karena dia mampu melakukan pendekatan kepada rakyat dengan cara-cara yang sebenarnya sangat lazim dan biasa, tetapi karena pejabat sebelumnya tidak pernah melakukan hal itu kemudian kita merasa kagum. Atribut dan media seperti inilah yang seringkali digunakan sebagai alat pencitraan. Karena yang terjadi sebenarnya adalah bukan soal si pejabat yang melakukan pendekatan kepada rakyat, tetapi persoalannya terletak pada rentang pengalaman kita terhadap apa yang kita amati saat itu.

Pencitraan tidak mungkin tidak menggunakan alat-alat yang ada dan juga sering digunakan oleh masyarakat. Sabrang memberi contoh lain bagaimana seorang pria yang menggunakan sorban dan peci, karena yang tertanam sejak kecil dalam pikiran kita bahwa orang yang menggunakan sorban atau peci adalah seorang kiai atau ulama, maka citra itulah yang tertanam dalam pikiran kita. Sabrang menjelaskan bahwa hal tersebut adalah prekonsepsi yang ada dalam pikiran kita yang kemudian mempengaruhi kita dalam setiap menerima sebuah informasi. Dari contoh kecil ini Sabrang memberikan sebuah pijakan; “Agar sedikit kebal terhadap pencitraan, kita membiasakan diri tidak memiliki prekonsepsi (terhadap apapun yang kita temui), kita tidak punya prasangka apa-apa sama orang. Kalau curiga, ubah (curiga) itu menjadi waspada”, lanjut Sabrang yang juga menekankan bahwa prasangka baik pun juga perlu kita manage menjadi sebuah kewaspadaan, meskipun prasangka baik itu sifatnya positif.

“Kalau kita setiap hari melihat fakta sebagai fakta, kita melihat keadaan sebagai keadaan, kita melihat ilmu sebagai ilmu, melihat apapun bukan sebagai prasangka, kita akan tidak mudah terpengaruh oleh prasangka-prasangka. Karena dia (prasangka) tidak bisa menggunakan alat-alat dalam diri kita”, lanjut Sabrang.

Sabrang kemudian kembali mengulang materi yang sudah cukup lama dibahas di Maiyah, bahwa musuh terbesar bagi manusia adalah diri manusia itu sendiri. Ini berdasarkan salah satu pesan Rasulullah SAW setelah perang Badar. Ketika seseorang lebih alim dari sebelumnya, maka pada titik itulah musuh terbesarnya juga menjadi lebih alim. Ketika seseorang menjadi lebih pintar dari sebelumnya, maka pada saat yang sama musuh terbesarnya juga menjadi lebih pintar. Karena musuh tersbesarnya adalah dirinya sendiri. Sabrang menjelaskan ini dengan metode adegan sedang berdialog dengan Iblis.

Konsep berhala yang ada saat ini tidak bisa kita samakan dengan berhala yang ada di zaman jahiliah yang berupa patung atau batu. Sabrang memberi salah satu contoh di mana ketika seorang artis begitu dipuja-puja oleh para fansnya, bahkan bukan hanya model berpakaiannya saja yang ditiru, hingga perilaku sehari-harinya pun seringkali juga ditiru oleh fans mereka. Sabrang juga menjelaskan bagaimana konsep mimpi yang muncul dalam setiap pikiran manusia akan membuat manusia itu kemudian bertarung hanya untuk mengejar dan mendapatkan mimpinya itu. Kita melihat saat ini banyak orang yang memuja-muja kekayaan, popularitas, kekuasaan dan sebagainya. Dari mimpi-mimpi yang berbeda inilah setiap manusia kemudian membangun sendiri musuh dalam dirinya. Dan proses ini terjadi karena manusia itu kalah terhadap konsepsi-konsepsi yang muncul dalam dirinya.

Dalam istilah Jawa terdapat istilah wang sinawang. Seringkali kita terjebak dalam sebuah konsep bahwa nasib yang dialami oleh orang lain terasa lebih indah dari apa yang kita alami. Padahal belum tentu apa yang mereka alami setiap hari benar-benar lebih indah dari apa yang kita alami. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi orang melihat apa yang terjadi dalam diri kita, berdasarkan apa yang mereka lihat adalah peristiwa-peristiwa yang mereka fikir lebih indah dari apa yang mereka rasakan. Kita lebih sering terpengaruh oleh prekonsepsi kita terhadap orang lain. Prekonsepsi inilah yang menurut Sabrang yang akan membangun alat-alat pencitraan dalam diri kita.