Daur (201)

Kuda-Kuda Sapu Jagat

Ta’qid : “Ditambah kalau memikirkan keadaan Negara dan masyarakat rasanya retak kepala saya. Dan semakin banyak mendengarkan pembicaraan Cak Sot, retak-retak kepala ini tampaknya akan jadi pecah sebentar lagi”

Tarmihim dan Sundusin diam-diam menyepakati untuk melakukan beberapa hal terhadap Markesot. Misalnya bergilir untuk sesering mungkin mengunjungi dan menemaninya. Kemudian teman-teman yang bisa dijangkau, yang tinggalnya tidak terlalu jauh di seberang daerah, diminta untuk sering-sering berkumpul kembali.

Mungkin juga perlu diselenggarakan semacam pertemuan rutin, misalnya sebulan atau dua bulan sekali, untuk ‘mendayagunakan’ Markesot. Menggali banyak hal, nilai-nilai, hikmah, pemikiran, kisah-kisah yang segar dan lucu seperti zaman dulu mereka bersama. Juga kelihatannya sukar dihindarkan untuk meminta Markesot terlibat menangani sejumlah hal, mungkin masalah-masalah, di sekitar kehidupan mereka.

Beberapa waktu yang lalu Markesot mengumpulkan sekitar 40 orang teman-teman, di mana Tarmihim dan Sundusin berhalangan hadir karena berbenturan dengan urgensi pekerjaannya. Mereka berdua mendengar bahwa pertemuan itu sangat berat untuk teman-teman: Markesot meminta hal-hal dari kawan-kawan itu seolah-olah dia seorang Dosen atau Guru Tarekat.

“Cak Sot ternyata beberapa tahun terakhir ini terlalu banyak pergi ke langit”, kata Tarmihim, “saat lain ke hutan-hutan, gunung, sejumlah Pesanggrahan kuno, pokoknya sangat sering menghilang”

“Makanya harus kita kondisikan supaya dia balik ke bumi”, sahut Sundusin.

Nada dan nuansa tentang Markesot yang semacam itu, mereka berdua dapatkan juga dari sejumlah pembicaraan dengan teman-teman lain, baik ketika sesekali mereka bertemu langsung maupun melewati komunikasi gadget.

Seorang teman dalam suatu pertemuan mengemukakan, “Hampir setahun belakangan, berdasarkaan yang saya himpun dari banyak teman — saya mendengar hampir dua ratus pembicaraan Cak Sot tentang macam-macam hal yang besar-besar. Bahkan terlalu besar, terkadang kelewat mendalam, sehingga abstrak, luas, relatif dan samar-samar. Untuk umumnya kita-kita yang bukan benar-benar pemikir semua itu terlalu berat, njelimet dan rumit.”

“Saya paham sekali”, kata Tarmihim.

“Meskipun tidak sebanyak itu saya mendengar, tapi saya sudah bisa merasakan hal semacam itu”, Sundusin menambahkan.

“Kelihatannya Cak Sot semakin cemas hidupnya”, tambah teman itu, “Usianya semakin senja, sementara keadaan-keadaan manusia, masyarakat dan Negara bukan hanya tidak semakin baik, tapi semakin tinggi percepatannya menuju kehancuran. Cak Sot merasa gagal hidupnya, dan khawatir suatu hari ia dipanggil oleh Tuhan dalam keadaan yang masih penuh keprihatinan dan frustrasi.”

Tarmihim tertawa. “Saya sendiri ini mikir Lombok saja sering berputar-putar kepala saya”, katanya, “ditambah kalau memikirkan keadaan Negara dan masyarakat rasanya retak kepala saya. Dan semakin banyak mendengarkan pembicaraan Cak Sot, retak-retak kepala ini tampaknya akan jadi pecah sebentar lagi”.

Tiba-tiba Sundusin bicara agak tinggi volumenya seperti orang kaget. “Jangan ditertawakan ya”, katanya, “karena kamu tadi omong tentang dua ratus pembicaraan Cak Sot, spontan saya membuka Mushaf, entah kenapa dan tidak tahu untuk apa”

“Ya, terus?”, Tarmihim bertanya.

“Andaikan Alqur`an tidak terdiri hanya 114 Surat, pasti yang saya cari adalah Surat ke 200 dan atau 20. Karena tidak ada Surat kesekian itu maka saya buka Surat sesudah Alfatihah, yaitu Al-Baqarah, langsung ke ayat 201. Dengan bayangan sesudah dua ratus pembicaraan Cak Sot itu terusnya akan bagaimana”

Tarmihim ikut penasaran. “Apa isinya?”

“Doa Sapu jagat”

“Wah. Sapu jagat…”

“Ya. Sapu jagat”

“Katanya itu bobot utama dan pamungkas atau perangkum segala doa”

“Memang”

“Lantas?”

“Mungkin kita semua sudah saatnya mendesak Cak Sot untuk mengemukakan apa pamungkas dari seluruh pembicaraan keprihatinannya. Minimal supaya keruwetan pikiran kita tidak terlalu berkepanjangan”

“Iya sih”, sahut Tarmihim, “Cak Sot harus menjelaskan dia itu sebenarnya mau apa”

“Dan kita ini disuruh apa”

“Apalagi Cak Sot selalu mengingatkan kita tidak boleh mewariskan kehancuran kepada anak-anak dan cucu-cucu kita. Wantiwanti seperti itu semakin lama semakin mengerikan di dalam perasaan saya”

“Sekarang harus jelas apa dan bagaimana Kuda-kuda Sapu jagat kita semua”

Kemudian keduanya terdiam beberapa lama.

“Harus ada suatu gelombang besar untuk mengubah semua ini. Tapi kasihan juga Cak Sot. Gelombang besar macam apa dan seberapa yang bisa kita bikin. Ombak pun hanya kecipak-kecipak kecil. Kita ini orang bawahan, rakyat kecil, sangat sedikit jumlahnya, tidak punya modal, bahan, atau hulu ledak apapun untuk menggelombangi keadaan”

“Apa yang terjadi sekarang ini seperti air bah, banjir bandang dan tanah-tanah longsor, ditambah perut gunung-gunung yang mengolah api yang sewaktu-waktu meletus”

“Bagus sih kalau ada letusan besar….”