Mukadimah Maiyah Dusun Ambengan September 2016

K(R)UP(L)UK SANTRI

Krupuk dan Kupluk di kalangan warga desa merupakan makanan ringan dan tudung kepala yang akrab, nyaris ditemui setiap waktu. Jika kerupuk hampir selalu ada ketika makan, sering sebagai lauk atau sekadar kudapan. Kupluk selalu dipakai ketika shalat atau pengajian. Kerupuk untuk mulut dan penambah nikmat makan, kupluk sebagai kepantasan sekaligus kepatutan untuk dipakai di kepala.

Bagi santri di Ponpes Darul Ikhsan, krupuk dan kupluk adalah upaya menyatukan antara ibadah, kerja duniawi dengan atribut ketika beribadah ritual, saat menuntut ilmu maupun shalat.

Sedikit sekali — untuk mengatakan tidak ada — santri yang tidak pakai peci atau kupluk. Dan tidak ada orang desa yang tak kenal kerupuk.

Pertautan antara kerupuk dengan santri, bermula dari Sumber Agung. Sebuah desa dengan luas kurang lebih 405 Hektare itu, terletak di sudut barat Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.

Berbasis data BPS 2015, Desa Sumber Agung dihuni sekitar 2150 jiwa. Desa yang dibentuk dengan Instruksi Presiden sebagai desa tertinggal, dikenal dengan istilah IDT itu, warganya cukup memprihatinkan pada medio 1990. Banyak keluarga prasejahtera, rumah berdiding geribik dan papan, berlantai tanah, dan masih bisa disebut daerah terbelakang. Miskin serta area babat alas. Sepi dan dirundung berbagai keperihan hidup lazimnya warga desa di pedalaman.

Mukadimah Maiyah Dusun Ambengan September 2016, K(R)UP(L)UK SANTRI
K(R)UP(L)UK SANTRI

Desa yang tebagi dalam lima dusun itu, membuktikan ketahanan dan kekuatan warga menjalani kepahitan hidup. Mereka tak mengenal putus asa, bahkan bisa disebut, hidup penuh keterbatasan namun tak ada keluh kesah di dalamnya. Kebanyakan warganya, selain aktif bertani, semua sibuk dalam kerajinan tangan mengolah kayu. Usaha furniture yang langsung dipasarkan dengan keliling kampung. Terutama lemari, meja, kursi, ranjang yang semuanya diedarkan dengan sepeda. Dari kampung ke kampung, dari rumah ke rumah. Bahkan karena terkenalnya desa itu, semua orang yang mengedarkan furniture keliling, meski dari desa lain tetap disebut orang Sumber Agung.

Sekarang, desa itu “wes rejo”, sudah ramai, bahkan terkesan makmur. Rumah warganya banyak yang permanen, bagus-bagus, lebih mengejutkan, dari Desa Sumber Agung itu pernah hadir kajian Maiyah Dusun Ambengan, kiai yang cukup atraktif, piawai bershalawat dan bermain hadroh. Memakai dan menafsirkan ajakan mengaji di majelis Ambengan dengan asyik serta menghibur.

Bertempat di Dusun IV Desa Sumber Agung itu, Ikhwanudin yang akrab disapa Cak Wan, kiai eksentrik itu mendirikan pondok pasantren dengan nama Darul Ikhsan. Memahami tingginya konsumsi krupuk dan akrabnya lidah warga dengan penganan khas itu, Cak Wan selain mengajarkan ilmu-ilmu agama juga menanamkan jiwa wirausaha ke para santrinya.

Sejak 1999, sepulang dari nyantri di Jawa Timur, Cak Wan mengajarkan santri-santrinya memproduksi krupuk rambak. Bahkan, proses pembuatannya, sejak dari pengumpulan bahan, penggorengan dan pengepakan, Cak Wan juga melibatkan warga sekitar ponpes yang umumnya ibu-ibu. Sampai ke pemasaran yang dilakukan para santri dengan sudah memakai sepeda motor. Dijadwal dan ditanamkan pentingnya kerja keras sekaligus mengajarkan pentingnya keseimbangan antara duniawi dan ukhrowi.

Cak Wan dan warga Desa Sumber Agung adalah oase, potret bagaimana sebuah tekad, kesungguhan dan ketabahan manusia desa dalam upaya terlibat, berbuat semaksimal mungkin untuk menjadi khalifah di bumi Allah sekaligus menjadi hamba Allah yang tujuannya semata beribadah.

Berkreasi dengan daya dan sumber kekuatan terbatas, yang seadanya, sampai kemudian bangkit, mulai menyemburatkan cahaya pencerahan bukan hanya di warga sekitar, bahkan terlihat moncer dibanding perkampungan lain. Orang yang lahir di era 80-an, tahu dan sangat paham perbedaan mendasar dari Desa Sumber Agung. Permukiman IDT yang masyarakatnya cukup kial dan kokoh menghadapi badai kehidupan modern. Termasuk merasakan sendiri getaran kata orang-orang desa itu, kini “wes mulia”, “wes rejo”, sudah makmur dan maju.

Kerupuk yang sudah dikemas dengan kantong plastik dengan harga Rp.500 perbungkus itu adalah pendulum sekaligus kekuatan ekonomi lain ketika usaha furniture mulai meredup, kalah dengan perabot berbahan triplek/multiplek atau plastik,  yang bahkan kini tak bisa disematkan dengan kampung Sumber Agung.

Dari kekayaan dan semangat pembuatan krupuk para santri, kekuatan warga desa itu, jamaah Maiyah Dusun Ambengan layak belajar. Terutama tentang keikhlasan mereka berbuat tanpa pernah disorot media sebagai pejuang kehidupan, rame ing gawe dan sepi ing pamrih yang ketat dijaga Cak Wan, yang oleh para santri disapa Pak’e. Sebutan ayah untuk anak-anak desa.

Jamaah juga perlu memperbincangkan sebuah sudut pandang kedisiplinan berwirausaha dan menuntut ilmu yang dikerjakan para santri itu. Dimana, ketika kunjungan tim Reboan yang mendedar makna setiap tema yang akan dikaji di Ambengan, menemukan salah satunya, piket jualan krupuk para santri yang wajib sampai ponpes jam 14.00 WIB agar bisa mengaji sekaligus shalat ashar berjamaah.

Jamaah juga mesti menggali keberkahan dan buliran ilmu yang sudah dikaji sekaligus diamalkan orang-orang desa, dimana Cak Wan menyinggung pentingnya puasa bagi semua santri. Puasa dalam makna yang paling esensial ketika menjalani kehidupan. Menghargai hal-hal kecil yang sering dianggap remeh. Tidak ada kebesaran tanpa didahului hal-hal kecil, lebih jauh, semua usaha dan kesungguhan menuntut ilmu, biasanya lebih awet dan barokah ketika dimulai dari hal-hal kecil.

Mari melingkar, bershalawat dan mencari ridho Allah SWT dalam majelis ilmu Maiyah Dusun Ambengan pada Sabtu, 24 September 2016 di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur, jam 20.00 WIB. (Teks Yuli Arianto/Endri Kalianda)