Daur (197)

Kopat-kapit

Ta’qid : “...selalu berpikir besar, takarannya makro, kelasnya Negara atau Dunia – padahal ia bukan siapa-siapa, orang kecil biasa saja sebagaimana jutaan rakyat lainnya...”

Diam-diam Tarmihim dengan aplikasi di gadget-nya menghubungi seorang teman yang lain, Sundusin namanya, dan memintanya datang untuk bersama menemui Markesot.

Tidak kuat hatinya Tarmihim, maka ia bermaksud berhimpun tenaga bersama Ndusin. Tidak tega perasaan Tarmihim setiap kali menatap wajah Markesot. Tidak hanya sudah tua, tapi tak diragukan lagi ia jauh lebih tua dari seharusnya. Mungkin 15-20 tahun lebih tua dari usianya.

Markesot terkejut ketika Ndusin muncul. “Lho kamu kok di sini?”, Markesot menyapanya.

“Lha di mana”, jawab Ndusin, “saya tidak pernah pindah dari Yogya sejak ketika dulu saya sering main ke Patangpuluhan”

“Kok lama sekali kamu tidak pernah nongol ke sini?”

“Terus terang saya merasa agak malu. Hidup saya tidak berkembang sebagaimana yang pernah saya bayangkan. Saya hanya jualan angkringan, meskipun syukur sekarang saya punya beberapa puluh gerobag angkring yang saya bagi-bagi ke sejumlah teman lain”

“Itu namanya sangat berkembang”, sahut Markesot, “kalau kamu punya sepuluh Mal baru saya kebingungan”

“Apakah punya Mal itu buruk atau salah?”, tanya Ndusin.

“Tidak tentu. Tergantung beberapa hal”

“Apa saja itu, Cak Sot”, Tarmihim ikut nimbrung.

“Misalnya dari mana kamu memperoleh modal untuk bisa mendirikan Mal. Apa pertimbanganmu kok memilih bikin Mal. Kemudian bagaimana hubungan keberadaan Mal-mu dengan kesejahteraan hidup kebanyakan orang. Juga mungkin bergantung pada tujuan hidupmu apa, dan itu menentukan peran Mal itu bagi nilai kehidupan yang lebih mendasar dan luas”

Sundusin memiliki kesan yang sama seperti Tarmihim terhadap wajah tua Markesot. Juga muncul rasa tidak tega sebagaimana Tarmihim. Sebenarnya mereka bertiga asal-usulnya datang dari desa atau latar belakang wilayah yang sama. Maka nama mereka agak mirip-mirip juga akhirannya.

Markesot itu nama aslinya Nuhin. Teman-teman bermainnya di masa kanak-kanak memanggilnya Nukik. Mungkin karena dimiripkan juga dengan nama Ibunya, yang asli Rofi’ah, tapi dipanggil oleh tetangganya dengan Ropik. Bukan soal selera, tapi lebih pada kesulitan pengucapan. Untuk penduduk di desa mereka, kata Nuhin rasanya terlalu halus dan kurang sehari-hari. Maka spontanitas mereka menjadi Nukik.

Juga tidak berarti ada tradisi budaya bunyi di mana masyarakat menyukai akhiran “in” untuk nama anak-anak mereka. Sebenarnya karena mereka punya tradisi mengaji di Langgar-Langgar, sehingga muncul kecenderungan kalau kasih nama anak ya dengan kata-kata yang berasal dari Qur`an.

Nama Sundusin diambil dari kisah yang dituturkan oleh Allah tentang para penghuni sorga. Mereka yang dimandati ‘kekuasaan’ untuk mengendalikan “aliran” sungai di sorga itu tangan-tangannya memakai gelang emas, pakaiannya hijau tua yang terbuat dari kain sutera halus dan sutera tebal. “Tsiyaban khudlron min sundusin wa-stabraqin”. Orangtuanya mengambil kata Sundusin, yang berarti sutera halus, meskipun sehari-hari pakaian mereka paling mahal dari kain mekao atau dril. Tapi memang Ndusin ini sejak kecil dikenal oleh teman-temannya dan semua penduduk sebagai laki-laki yang berperasaan sangat halus.

Agak berbeda dengan Tarmihim yang agak srudag-srudug, ekspresif, wajahnya polos dan omong apa adanya. Nama memang bisa menjadi sumber karakter. Apalagi kalau orangtuanya memang sejak awal meniati nama anaknya sebagai doa. Tarmihim artinya “mereka melempar mereka”, dalam hal ini maksudnya burung-burung Ababil melempari pasukan Gajah dengan bebatuan tanah api. Mungkin karena karakternya mengandung api yang panas dan berkobar, maka Tuhan meletakkannya menjadi petani Lombok.

Adapun Nuhin-nya Markesot lengkapnya Muhammad Hafid Nuhin. Muhammad itu puncak segala idaman. Hafid itu cucu, kata berikutnya harus ditambahi pakaian “in”. Jadi Hafid Nuhin. Cucunya Nabi Nuh. Sepertinya begitu maksud suaminya Wak Ropik dulu tatkala memberi nama Markesot. Maksudnya sangat baik, tapi pasti tidak pernah mereka bayangkan akibatnya. Muluk-muluk. Awal-awalnya dipanggil Kapit, diwadani teman-temannya dengan Kopat-kapit. Akhirnya Wak Ropik memanggilnya Nuhin, dan teman-temannya mengubahnya menjadi Nukik.

Di masa tuanya Markesot merasa hidupnya benar-benar kopat-kapit. Ia seperti makhluk yang berada tidak di tempatnya. Nuhin berkembang jiwanya dengan aspirasi penyelamatan ummat manusia dalam jumlah yang massal, dengan kaliber bahtera, kapal besar, tak sekadar perahu yang kecil atau gethek yang terbuat dari deretan bambu-bambu yang diikat. Jadinya Markesot selalu berpikir besar, takarannya makro, kelasnya Negara atau Dunia – padahal ia bukan siapa-siapa, orang kecil biasa saja sebagaimana jutaan rakyat lainnya.

Markesot seperti belalang yang memanggul pohon kayu raksasa, atau seperti tikus yang menyangga gunung. Hidupnya adalah perjalanan penderitaan. Ketika pada suatu era ia memparabi dirinya dengan nama Markesot, pelan-pelan di sekitarnya muncul sindiran. Mereka menuduh Markesot adalah gabungan antara Marx dengan Don Kisot. Jiwa sosial yang overdosis untuk ukuran dirinya, sehingga hidupnya seperti orang yang mendaki gunung tapi selalu melorot dan melorot kembali ke bawah.