Daur (103)

Konstruksi Kolam Terbang

“Kasihan kamu, Sot”, kata Saimon, “Itulah yang menyebabkan saya datang untuk menyatakan simpati dan rasa kasihan”

“Kamu telan sendiri saja rasa kasihan itu. Saya tidak memerlukannya”, Markesot ketus lagi.

“Kamu kan tahu kebanyakan manusia mengolok-olok Jin, bahkan merendahkan, membenci, mengutuk, meremehkan. Padahal Tuhan sudah memperingatkan bahwa jangan kamu mengolok-olok suatu kaum, karena bisa jadi yang kamu olok-olok itu lebih baik dari kamu. La yaskhor qoumun min qoumin ‘asa an yakunu khoiran minhum. Tuhan Maha Benar. Kami yang diolok-olok sebenarnya lebih baik dari yang mengolok-olok, itulah sebabnya kami tidak marah”

“Ah ya belum tentu juga”, jawab Markesot, “terkadang yang mengolok-olok itu lebih baik dari yang diolok-olok. Karena mereka lebih baik itulah maka mengolok-olok yang tidak mau berubah menjadi baik”

“Baiklah saya mengalah, Sot”, kata Saimon, “Saya datang ke sini karena bersimpati padamu dan ingin menghibur hatimu”

Markesot tertawa, “Bagaimana mungkin Jin menghibur manusia. Terbalik sama sekali. Meskipun Tuhan dalam banyak firman-Nya menyebut Jin dulu baru manusia, al-jinnu wal-insu, aljinni wal-insi, aljinna wal-insa, tetapi nyatanya yang diputuskan Tuhan menjadi makhluk paling unggul dan mulia bukanlah Jin, melainkan manusia”

Saimon tertawa lebih keras. “Jangan berlagak pilon. Kamu sangat tahu bahwa yang sudah unggul tidak perlu diunggul-unggulkan, yang sudah mulia tak membutuhkan perlakuan dimulia-muliakan. Sebaliknya yang belum unggul dan mulia, perlu mendengar penyataan bahwa mereka diunggulkan dan dimuliakan”

***

Ini ada Jin datang dan terang-terangan menantang manusia, kata Markesot dalam hati. Baiklah.

“Sangat jelas terang-terangan Tuhan menyatakan bahwa manusia adalah ahsanu taqwim, manusia unggulan, masterpiece ciptaan-Nya”, kata Markesot agak meningkat volume suaranya.

Saimon meningkatkan tertawanya. “Kami para Jin mengalah, karena kami lebih dewasa dan lebih matang untuk mampu mengalah. Itulah sebabnya kami tidak memerlukan legitimasi bahwa kami ini ahsanu taqwim. Manusia yang digelari seperti itu, dalam rangka menghibur dan membesarkan hati mereka yang kerdil”

“Kamu mengejek saya?”, tanya Markesot.

“Saya berkata apa adanya tentang manusia”, jawab Saimon.

“Kamu pikir saya ini manusia?”

“Terserah kamu”

“Lha menurut kamu?”

Saimon menjawab serius. “Kamu dulu lebih 80 tahun mendampingi salah satu Raja Fir`aun, mencoba menasihatinya, mencoba menempuh berbagai cara untuk memperbaikinya, tapi gagal, dan kemudian menyesal. Sekarang kamu mau mengulang lagi kebodohan 80 tahun itu?”

Markesot menatap wajah Saimon dengan bertolak pinggang.

“Mr. Saimon yang sok tahu”, katanya tajam, “Yang kamu maksud itu bukan saya”

“Saya sudah memperkirakan bermacam-macam kemungkinan jawabanmu”

“Memang bukan saya”

“Bukan Markesot, hanya seakan-akan Markesot”

“Bukan Markesot”

“Saya juga sudah tahu bahwa bukan Markesot dan Markesot sebenarnya tidak terlalu berbeda-beda amat”

“Markesot ada di sekarang. Tidak di zaman dahulu, dan tidak tahu tentang di masa depan”

“Memang kamu di dahulu bukan kamu yang di sekarang”

“Dulu atau sekarang, di dalam kapan atau di luar kapan, saya adalah saya, saya tetap saya”

“Saya tahu manusia suka bangga-bangga berada di beberapa tempat atau beberapa waktu sekaligus. Sesuatu yang di dunia Jin merupakan salah satu jenis mainan kanak-kanak”

“Saya ini Markesot. Di sini. Dan sekarang”

“Memang di tempat yang berbeda dan di waktu yang berbeda, Markesot bisa bernama siapa saja dan bisa menjadi diri apa saja”

“Tidak. Markesot adalah Markesot”

“Maksudmu Markesot tetap Markesot?”

“Tepat”

“Markesot yang mana?”

“Markesot ya Markesot. Tidak ada yang mana. Tidak ada yang siapa. Ya Markesot”

Saimon tertawa menjadi-jadi. “Kamu bisa mengelabui manusia, tapi pakaian samaran setebal apapun yang kamu pakai, bisa saya buka”

“Apa kamu belum tahu bahwa saya malas menerima kamu di sini”, kata Markesot, “sebabnya adalah karena saya bisa melihat seluruh telanjang bulat tubuh dan sebagian isi jiwamu. Kamu pikir badanmu ada indah-indahnya, sehingga kamu percaya diri tampil di depan saya?”

***

Sesungguhnya mereka berdua sepakat untuk merasa heran kepada manusia. Heran bagaimana? Bahwa mereka sangat tidak menghormati Nabi Sulaiman. Dan karena itu semua Sekolah, tidak menjadikan pengetahuan, ilmu, teknologi dan peradaban Nabi Sulaiman sebagai sumber primer.

Yang diperhatikan dari Baginda Sulaiman hanya kekayaan harta bendanya saja. Belum pernah ada generasi peradaban manusia yang gila harta melebihi yang sekarang dialami oleh Markesot. Maniak-dunia, penyembah kemewahan, terlalu terpesona kepada segala yang gemerlap di wilayah kasat mata.

Yang diingat pada Raja Sulaiman hanya pangkat, jabatan dan hartanya. “Dasar ummat asfala safilin”, celetuk Saimon.

“Kamu tidak usah mengejek manusia”, Markesot tersinggung.

Tapi Saimon tidak peduli. “Manusia dianugerahi akal yang luar biasa, tapi Guru-guru mereka menjelaskan Nabi Sulaiman atau peristiwa Isro` Mi’raj lebih sebagai dongeng daripada sebagai ilmu. Ada yang bercerita tentang kecepatan Ifrith yang kalah oleh Asif bin Barkhiyah. Ifrith memindah Istana Bulqis butuh waktu antara Baginda Sulaiman duduk hingga berdiri. Sedangkan Asif mendatangkan Istana itu sebelum Baginda Sulaiman selesai berkedip. Tetapi itu semua dikisahkan seperti mendongengkan Joko Kendhil atau Kinjeng Dom”

“Saya bilang tidak usah menghina manusia”, Markesot protes lagi.

Saimon tetap meneruskan. “Baginda Sulaiman tidak didekati dengan semangat ilmu, tapi spirit takhayul. Buyut saya dulu karyawan Kerajaan Sulaiman. Bahkan ikut menggendong bayi cacat putra beliau. Saya sendiri ikut menyaksikan Baginda menempuh perjalanan pulang balik melewati jarak yang kami harus menempuhnya selama dua bulan. Tuhan sendiri yang mengabarkan itu. Riset tentang semua jenis logam sudah beliau wariskan, tapi manusia sekarang sok pinter. Buyut saya ikut mengkonstruksi Piring Terbang Baginda Sulaiman, yang digambarkan oleh Tuhan sebagai piring-piring seperti kolam dengan roda-roda bersumbu…”