Daur (83)

Konflik Dengan Allah

Bagusnya Markesot tidak usah mendongeng atau apalagi memamerkan sulap-sulap picisan kelas restoran dan café rendahan. Tidak usah mendemonstrasikan adegan online-offline kuno. Tidak akan ada yang bertepuk tangan, kasih aplaus, apalagi standing ovation.

Ini zaman pasca-pasca-modern dan sudah menapaki ultra-degree pencapaiannya. Markesot move on lah. Jangan terlalu jadul. Sekarang ini andaikan Kiai Sudrun menggulingkan kereta api dengan sebuah tiupan, atau membakar Mal dengan lemparan pasir sacawuk, tidak akan ada orang yang heran atau kagum. Bahkan koran-koran, media cetak, media tayang, medmas dan medsos akan belok beritanya: ada orang musyrik sesat mulai sakit jiwa sehingga bermimpi merobohkan Mal raksasa.

Markesot perlu sedikit tahu bahwa sekarang ini ia hidup di peradaban yang sama sekali berbeda dengan peradaban yang ia alami ketika hidup yang dulu. Kalau Markesot memang canggih, atau kalau perlu nge-bon Kiai Sudrun yang ia unggul-unggulkan: cobalah bikin banjir besar, gempa dahsyat, luapan air samudera, lima triliun tawon mengamuk menyerbu kota-kota seantero bumi, letusan 21 atau setidaknya 19 gunung sekaligus atau sekurang-kurangnya berurutan.

Atau jenis kedahsyatan apa saja minimal seperti di zaman Raja Namrud, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Sholeh, Nabi Luth dan lain-lainnya. Itulah yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh ummat manusia di era sekarang ini.

***

Ummat manusia yang mendapat giliran menghuni bumi kali ini adalah jenis makhluk manusia yang paling tinggi hati. Merasa paling pandai dibanding manusia kurun-kurun sebelumnya.

Mereka sedang merasa berada di puncak peradaban, dan diam-diam sangat meyakini bahwa yang sedang mereka capai ini sungguh-sungguh puncak prestasi segala jenis manusia yang pernah Tuhan ciptakan.

Markesot sebenarnya juga tahu bahwa manusia penduduk bumi pergiliran ini hanya mengerti bahwa yang disebut adzab adalah peristiwa-peristiwa hardware. Yang kelihatan mata, yang terdengar telinga dan yang terasa oleh perabaan atau perasaan-perasaan jasad. Ya itu tadi: gempa, tsunami, gunung meletus, angin siklon anti-siklon, badai, longsor, banjir bandang, bebendhu, pageblug.

Bagi manusia di bumi saat ini kehancuran akal sehat bukan bencana, apalagi adzab. Hancurnya logika itu persoalan remeh dibanding rumah ambruk. Ambruknya akhlaq, rusaknya mentalitas, gelapnya spiritualitas atau berbagai jenis penyakit jiwa lainnya, bukan masalah primer.

Masalah utama yang mereka rasakan sebagai bencana atau adzab adalah tidak punya rumah, kendaraan, simpanan uang di Bank, pekerjaan tetap, laba terlalu sedikit, tidak punya akses untuk bareng-bareng merampok hak orang banyak, dan yang semacam-semacam itu.

Posisi konflik dengan Allah, misalnya, bukan persoalan serius bagi kebanyakan manusia yang sekarang ini. Bawah sadar mereka diam-diam berpendapat bahwa toh aslinya Tuhan belum tentu ada, dan kalau nanti sudah mati kan semua selesai. Darah daging hancur dalam kuburan, jantung hati otak remuk dan menyatu dengan tanah. Selesai. Tak ada masalah apa-apa lagi.

***

Dengan demikian andaikan pun Markesot bersekongkol dengan Kiai Sudrun mendorong para pengurus gunung untuk meletuskannya, bernegosiasi dengan pengelola laut untuk meluapkan airnya, tawar-menawar dengan panitia bumi untuk mengaduk lempengan-lempengannya, atau mempengaruhi penggembala angin untuk membadaikannya – jangan dipikir itu akan mengubah apa-apa pada manusia.

Mereka berpikir toh semua mati. Selesai sudah. Bareng-bareng. Tak ada persoalan lagi. Ingat pun tidak. Namanya juga mati. Tiada.

Jadi Markesot hendaknya mulai menyadari bahwa ia hidup di tengah lingkungan peradaban dan alam pikir golongan-golongan manusia yang sama sekali bukan seperti yang ia sangka atau bayangkan. Jangankan gempa bumi dan banjir bandang, sedangkan seandainya para Malaikat datang secara fisik ke bumi, mereka jangan disangka akan terkejut.

Malaikat berbagi tiga-tiga per-Negara mendatangi manusia, umpamanya. Kehadiran mereka resmi dan protokoler. Mereka mewujud secara jasad dengan kostum yang diperhitungkan akan mempermudah manusia mengenali bahwa mereka Malaikat. Kemudian bertamu ke Istana-istana Negara dan Kerajaan. Menyampaikan sejumlah hal yang dibawa dari alam-malakut, misalnya.

Markesot jangan pernah berpikir bahwa itu akan menjadi peristiwa shocking, berkaliber guncangan besar, yang menjadi headlines di media-media. Jangan ge-er. Berita yang akan tayang adalah sebutan bahwa sekelompok orang aliran sesat yang datang ke Istana karena putus asa. Atau itu adalah barisan sakit hati, kelompok yang tidak kebagian korupsi.

Bisa-bisa mereka malah digebugin oleh rombongan Polisi, diusir atau ditangkap sebagai kelompok makar. Kecuali para Malaikat itu diizinkan untuk mengangkat istana dengan dua jari tangan kirinya, kemudian diperkenankan membanting Istana itu atau melemparkannya ke tengah laut atau ke kawah membara di puncak gunung.

***

Kiai Sudrun pernah berbaring telentang di tengah jalan raya jalur hubungan antar kota. Ia kayal-kayal, menggerak-gerakkan kakinya seperti bayi, menangis sejadi-jadinya. Dan sekeras-kerasnya.

Jalanan macet. Ratusan kendaraan dari dua arah berbaris sangat panjang tidak bisa meneruskan perjalanan. Masyarakat dari sekitar lokasi Sudrun kayal-kayal itu berdatangan dan berkerumun. Beberapa Polisi datang. Karena melihat yang telentang itu orang tua, maka Polisi bersikap sehalus-halusnya dan sesopan-sopannya.

“Mbah ini kenapa?”

Kiai Sudrun terus kayal-kayal dan menangis. Tentu saja Polisi tidak tahu siapa orang tua ini. Kebanyakan orang yang berkerumun juga tidak tahu. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang senyum-senyum melihat adegan itu.

Masalahnya, bagaimana Polisi tidak bersikap sopan, lha tempat di mana Kiai Sudrun telentang kayal-kayal itu hancur aspalnya. Bongkahan batu-batu dan serpihan-serpihan aspal bertebaran seperti barusan ada mini-meteor jatuh dari langit menimpa jalan raya. Bahkan setiap kaki dan tangan Kiai Sudrun menyentuh lantai jalan, aspalnya hancur dan terlempar ke sana kemari.

“Mbah ada apa ini? Kenapa menangis?”

Para Polisi punya niat untuk mengangkut saja orang tua ini ke tepian jalan. Tapi mereka ragu-ragu karena menyaksikan aspal hancur dan belum bisa menyimpulkan peristiwa apa ini. Terutama siapa orang ini.

Untung akhirnya Kiai Sudrun bangun berdiri. Ia berjalan ke pinggir jalan raya. Sambil terus menangis ia marah-marah: “Kalian semua ini keterlaluan. Dasar nggrangsang bondho kabeh, dasar matanya hanya dilatih untuk melihat duit. Dari pagi tadi Kanjeng Nabi datang ke sini, berkeliling melihat-lihat warung-warung kalian, lalu-lalang kendaraan, memperhatikan semua kegiatan kalian dengan penuh kasih sayang. Tapi tidak seorang pun dari kalian yang menyapa. Dasar menungso kedunyan kabeh