Kisah Para Sahabat (1)

Ini kisah tentang sahabat-sahabatku semasa kuliah, Kawan. Ceritanya unik-unik. Menarik dan menyegarkan kalau dikisahkan sambil ngaso-ngaso. Siapa tahu, cerita-cerita hidup mereka sebenarnya adalah model bagi cerita-cerita hidup sekian banyak orang. Ada banyak sebenarnya kisah-kisah banyak sahabatku yang menarik diceritakan sebagai pengalaman. Tapi baiklah, akan kuambil lima cerita saja agar tidak menghabiskan ruang. Ini adalah cerita tentang pencarian yang tak kunjung padam.

Sahabat pertama adalah Ahmad Sugianto. Dari komposisi namanya, sudah nampak bahwa ia adalah orang Jawa yang Muslim. Ahmad berasal dari desa yang terasing di bagian utara Jawa Tengah dan lulusan sebuah pesantren besar di Jombang. Awal kami bertemu, pandangan keislamannya tampaknya tradisional. Tentu saja hal itu dibentuk oleh lingkungan desanya serta pesantren tempat ia belajar. Dia taat beribadah sesuai dengan madzhab yang dia anut. Kendati waktu di Jogja bersahabat dan tinggal bersama dengan para “pemikir nakal”, dia tetap teguh beribadah. Kadang-kadang, dia terlihat membawa-bawa buku kemana saja pergi. Namun menurutku, buku-buku yang ia suka bawa itu tergolong karya yang kurang “menggertak”.

Jangan-jangan, buku yang dia bawa juga cuma sebagai alat “pencitraan intelektual” belaka ketimbang benar-benar disuntuki isinya saat menunggu bis kampus, saat ngantri di kantin atau saat menunggu kuliah. Mengenalnya sekian lama, ia hampir tidak pernah berbuat aneh-aneh. Bisa dibilang hidupnya berjalan datar sesuaiprosedur. Setelah lulus, dia hidup di desa, menjadi guru di sebuah sekolah milik yayasan. Setelah berbilang tahun, aku dapati ia semakin kental dengan kehidupan tradisi dan budaya organisasi keislamannya. Orang menyebutnya: tradisional.

Sahabat kedua bernama Roma. Dari pilihan namanya, nampak bahwa dia bukan orang yang lahir di lingkungan Islam yang kuat. Ya, dia berasal dari Melayu daratan. Awal kami bertemu,keislamannya tampak biasa-biasa saja.Mungkin kalau di Jawa cenderung berbau abangan. Kemudian saat kuliah, Romamenjadi pembaca buku yang rakus. Semua aliran pemikiran sosial dia pelajari. Dilahapnya pemikiran nama-nama besar seperti Nietzsche, Albert Camus, Roland Barthes, Sartre, dan yang lainnya.Setelah lulus, dia mengajar di universitas dan menjadi orang yang sikap keislamannya easy going atau dalam bahasa yang lebih umum disebut “bijaksana” dan mengambil posisi yang “netral” untuk menilai sesama manusia. Dua tiga sahabat yang akan saya ceritakan di bawah nanti menyebut si Roma ini: liberal.

Sahabat ketiga adalah Zam, sebut saja begitu. Zam sejak kecil berpendidikan pesantren tradisional namun bersekolah ala sekolah negeri. Dia berasal dari daerah pesantren yang kuat. Semasa kuliah, dia memilih perguruan tinggi negeri yang berlabel Islam dan tinggal di sebuah pondok pesantren. Selama masa kuliah, dia menemukan banyak ilmu yang selama ini tidak pernah bahkan haram dia akses. Setelah mempelajari berbagai pemikiran dari buku-buku ‘radikal’ yang dia baca, dia menjadi “nakal”. Pikiran-pikirannya ganjil. Keputusan-keputusan hidupnya pun seringkali tak lazim. Seperti misalnya, dia lebih suka duduk-duduk di warung kopi dan tidak produktif daripada pergi kuliah. Pada kasus lain, ia memilih memperistri janda dibandingkan perawan. Ia nampaknya bosan dengan pelajaran dan ceramah “agama”: “agama” sebagai dogma dan lembaga.

Sahabat keempat adalah AM. Dia orang Bugis. Sejak kuliah dia sudah menjalankan bisnis. Hidupnya berkiblat pada ajaran-ajaran Islam yang ketat, baik dalam ibadah mahdloh maupun perilaku sosial. Dia seorang hafidz dan supporterAS Roma. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu,dia mengaku mengikuti salah satu aliran Islam yang orang kebanyakan menyebutnya Wahabi. Di group WA, kami sering berdiskusi. Karena di antara sahabat saya juga ada yang Syiah, maka pandangan-pandangannya seringkali berseberangan.

Yang menarik, si AM ini menampilkan kearifan yang tidak saya temukan pada dua sahabat lain yang juga sama-sama pengikut Wahabi dalam group yang sama itu. Salah satu contoh pandangannya dalam mengomentari suatu hal seperti ini: ”Menurut saya itu bid’ah. Dan saya kira teman-teman tidak perlu alergi dengan kata bid’ah. Itu kan cuma pendapat.” Lalu dia menambahi dengan menceritakan dua ulama besar yang berbeda pendapat dalam suatu soal. Ulama pertama berpendapat bahwa suatu perkara adalah bid’ah. Sementara ulama kedua memiliki pendapat bahwa perkara itu bukan bid’ah dan boleh dilakukan. “Dan mereka saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing”.

Aku seperti menemukan mutiara ketika temanku Si AM ini berbicara dan beropini dari sudut pandangnya sebagai pengikut Wahabi dibandingkan dengan apabila yang berbicara adalah dua rekan Wahabiku yang lain. Dia selalu mengambil posisi bahwa bid’ah itu adalah pendapatnya sesuai dengan referensi yang dia pelajari dari guru-gurunya. Sementara, dia juga terbuka pada kemungkinan untuk adanya pendapat lain yang berbeda. Sementara, 2 sahabat Wahabiku yang lain sangat agresif menyerang pihak lain dan meletakkan dirinya pada posisi pemilik kebenaran.

Ada fakta menarik, Si AM pebisnis. Hidupnya relatif mapan. Sementara 2 sahabat Wahabi yang lainnya nampaknya masih harus berjuang untuk hidup yang lebih baik: satu bekerja sebagai pedagang es, sedangkan yang satunya lagi berputar-putar dari LSM ke LSM. Apakah ada hubungannya sikap agresif menyerang dengan tingkat perekonomian keluarga?

Sementara sahabat kelima yangkuceritakan ini adalah seorang perempuan. Sebut saja namanya Kirani. Dia berasal dari Gunung Kidul, wilayah dengan tradisi dan kepercayaan Kejawen yang kuat. Orang tuanya merantau, entah ke luar Jawa atau ke Malaysia. Di sore-sore yang lindap, sambil menunggu jam kuliah biasanya kami ngobrol di depan kelas. Temanya hampir selalu sama: tentang Tuhan. Pencarian akan Tuhan. Kalau sudah seru ngobrolnya, dia sampai enggan masuk ketika kelas sudah dimulai. Sementara, aku memang dari sononya ditugaskan untuk menghalangi teman-teman yang hendak masuk kelas.

Di tahun kedua perkuliahan, aku sudah tidak pernah bertemu dengan dia lagi. Aku terlanjur asyik dengan duniaku dan semakin jarang muncul di kelas. Belakangan — kata teman-teman — mulai tahun kedua itu teman perempuanku ini mengenakan hijab yang panjang sehingga mungkin banyak di antara kami yang tidak mengenali dia. Hingga pada suatu hari, menjelang kelulusan, Kirani membuat kejutan. Dia meluncurkan buku biografi pendek yang menyentak hati semua orang. Judulnya: Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur. Itu adalah buku yang sempat menggegerkan Jogja, juga perbukuan nasional waktu itu. Buku itu juga membuat penulisnya — yang aku anggap seniorku — mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Ternyata, pada saat dia berhijab panjang itulah dia sering dihubungi oleh para pejabat negeri ini. Saat yudisium, dia duduk di sebelah kiriku, selisih satu kursi. Wajahnya biasa, sama sekali tidak menampakkan sedang dalam tekanan. Padahal, semua teman tahu bahwa dialah tokoh utama biografi itu kendati namanya disamarkan.

Sungguh menakjubkan bagaimana dia sanggup mengendalikan diri bahkan ketika satu dua staf universitas kami memanggilnya dengan nama tokoh utama biografi? Bagaimana anak muda yang empat-tiga tahun lalu sering ngobrol denganku soal Tuhan kemudian mengambil posisi hidup yang “nampak” sebaliknya? Kemanakah perjalanannya selama 3 tahun itu? Apa yang dia temukan di sepanjang jalan? Tidak adakah seseorang yang dia temukan sehingga hidupnya memiliki orientasi seperti itu?

Sepuluh tahun kemudian, suatu sore aku berkunjung ke kediaman Cak Fuad. Entah waktu itu kami ngobrol apa, tapi kemudian Cak Fuad menyampaikan soal Abu Ruh, Bapak Ruhani. Setiap orang biasanya memiliki seseorang yang dia pandang sebagairole model. Abu Ruh itu jugalah yang menurutku diyakinibaik secara langsung maupuntidak membimbing seseorang melewati krisis pencarian dan mendekatkan seseorang pada “menemukan dirinya”.

Apakah jika tidak menemukan Abu Ruh itu, orang kehilangan orientasi sehingga mengambil keputusan “hidup nihilis”?

Bisa jadi, sahabat-sahabatku yang kuceritakan di atas sadar atau tidak dia menemukan seseorang yang dia ambil sebagai role model. Seseorang yang mampu menampung kegelisahan-kegelisahan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya. Dan mereka menemukan role model sesuai dengan seleranya. Ada yang seleranya bergaya ‘Wahabi’, ‘liberal’, ‘tradisional’, dsb. Tapi, bisa jadi begitu kegelisahan mencapai puncaknya dan pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya tidak memperoleh respon yang tepat, maka dia akan jatuh pada keputusan yang “salah”.

Aku hampir lupa kalau ada satu lagi sahabatku. Sahabatku yang keenam ini bernama Sastro Mihardjo. Panggil saja Sastro. Dia pernah bercerita bahwa pada tahun 1996 atau 1997, dia pernah mendengar Kado Muhammad dari kaset yang dimiliki seorang teman SMAnya. Dia pikir, Kado Muhammad dan Kantata Takwa yang launching hampir bersamaan itu adalah dua subyek yang sama. Ternyata tidak. Tapi sejak detik itulah, rupanya dia menginjak rel yang kelak mengantarkannya pada misteri-misteri kehidupan yang mencengangkan. Sejak Kado Muhammad-lah satu-satunya orientasi hidupnya adalah segera ke Jogja. Entah mengapa.

Dan dia mengaku bersyukur bahwa rel itu dia turut sampai hari ini. Sepanjang rel, banyak memang yang harus direlakan, tapi banyak juga yang dikaruniakan. Sastro tidak bisa membayangkan seandainya dia tidak pernah mendengar Kado Muhammad, mungkin ia tidak akan pernah senantiasa duduk di dekat pagar di malam Mocopat Syafaat. Karena, dari sudut kecil yang hampir gelap itulah, setiap kali dia menemukan taburan kalimat-kalimat kunci yang merespon pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidupnya. Hampir 20 tahun kemudian, baru dia mendapatkan pencerahan bahwa pemilik suara dalam Kado Muhammad itu — sangat mungkin — adalah Ayah Ruhaninya.