Catatan Sinau Bareng SMAN 1 Kendal, 13 Oktober 2016

KiaiKanjeng dan Kesadaran Hidup Bukan Sebagai Ruang-Ruang

Sering disampaikan Cak Nun, hidup bukanlah ruang-ruang atau kamar-kamar yang berbeda-beda, tetapi satu ruang besar dengan pintu-pintu yang bermacam-macam.

Seperti kerap disampaikan Cak Nun bahwa hidup bukanlah ruang-ruang atau kamar-kamar yang berbeda-beda, tetapi satu ruang besar dengan pintu-pintu yang bermacam-macam. Dari pintu manapun masuk, akan tiba di ruang yang sama pula. Demikianlah pula dengan yang diupayakan oleh oleh acara Maiyahan atau Sinau Bareng. Ia merupakan satu perwujudan kecil dari hidup dengan beragam pintu. Ada pintu komunikasi, ada pintu diskusi, ada pintu ilmu, ada pintu kegembiraan, ada pintu subkimasi, ada pintu spiritualitas, dan ada pintu musik.

Foto: Adin.
Foto: Adin.

Pada titik inilah KiaiKanjeng memegang peran turut membantu mengantarkan jamaah atau hadirin pada pengalaman masuk pintu dan tiba di kesadaran hidup sebagai satu keutuhan dan integralitas. Para siswa menikmati tak hanya ilmu, tapi juga indahnya interaksi yang dibangun oleh Pakdhe dan Om-om KiaiKanjeng. Bagaimana mereka menyaksikan Mas Jijid berimprovisasi mengajak seorang guru dari Jepang yang anggun berjilbab mengajak menyanyikan lagu Jepang Kokorotomo, dan KiaiKanjeng mengiringinya. Dengan tanggap Mas Jijid tahu akan membawakan apa di sela-sela One More Night Maron Five dihadirkan dengan apik dan cocok dengan selera jiwa muda anak-anak SMANIK. Bu Sino dari Jepang langsung nyambung dengan KiaiKanjeng.

Foto: Adin.
Foto: Adin.
Foto: Adin.
Foto: Adin.

Dan di bagian akhir, kembali Bu Sino diberi kesempatan nyanyi bareng anak-anak. Ia bawakan lagu Sukiyaki yang hits pada tahun 60-an. Anak-anak bergembira, berjoget, menggerakkan badan ke kanan kiri. Mereka berekspresi dengan merdeka di depan Bapak Ibu Guru mereka di bawah panduan Cak Nun. Mas Doni dan Mas Imam Fatawi bawakan lagu-lagu dengan baik pula. Walhasil, KiaiKanjeng turut membantu Cak Nun mengantarkan kesadaran hidup sebagai suatu keutuhan. Ilmu, musik, komunikasi, dan lain-lain yang bergulir bisa berhimpitan dan tak terpisah dalam membawa semua hadirin pada esensi hidup atau esensi sesuatu. Dan melihat perkembangan acara-acara Maiyahan hingga saat ini, Maiyahan sendiri, berlangsungnya acara itu, bagi Cak Nun itu sudah merupakan satu kenyataan dan pengalaman ilmu dan hidup yang demikian itu. (hm/adn)